PUISI-PUISI SGSI ANGKATAN KE 3

 

 

Aliran *Realisme*

Tsunami di Tanjung Lesung

Oleh Hartini Dewi, S.Pd

 

Dua puluh dua tanggalnya

Desember bulan candra

Dua ribu delapan belas  penghujung kala

Tebaran air bah duka

Gulungan air tinggi sapu hamparan asa

Terjang semua rintangan di depan mata

Hanyutkan semua yang ada

Hempas, gulung, tarik,  dan hempas lalukan semua

Tubuh menjadi jasad terluka

Seketika  nyawa  terlepas dari raga

Kau tampung dalam dekapan nyata

Sang khalik semesta

Terimalah amalan mereka

Dalam alam barsyah Sang Ilah

Tanjung lesung nan mempesona

Sekejap saja

Berubah menjadi neraka

Kini serpihan kenangan itu tersisa

Dalam perih , nanah mengangah

Lepas istri dari suami yang ada

Lepas suami dari istri tercinta

Pisahkan anak dari orang tua

Tinggalkan orang tua dari semua kerabatnya

Begitu dahsyatnya ijin mu bertindak atas nama petaka

Kini Anak Krakatau masih simpan kekuatannya

Untuk gilirkan nelangsa

sepanjang pesisir laut selatan jawa

Luapkan gemas nestapa

Patahkan palung lautan karma

Amarah lampiaskan lelehan lava

 

Tutup tahun urai doa-doa

Tanpa hura-hura apalagi pesta

Waspada senyapkan wisata

Hindar lautan pesona

 

Tuhan ampunkan segenap dosa

Surutkan geram mu atas bangsa

Agar kami boleh munajadkan cinta

Hanya kepada Mu Sang Penguasa

Tumpang, 22 Desember 2018

Sang Jurnalis

Oleh Hartini Dewi, S.Pd

 

Wajah klimis

Pakaian necis

Selalu ada di depan baris

Suatu peristiwa besar nasionalis

Liput berita sebagai jurnalis

 

Presisi likupan yang eksis

Selalu tonjolkan kupasan yang aktualis

Demi sebuah reting tayang yang maksimalis

 

Tinggalkan keluarga ketika buru berita

Demi sebuah amanah norma

Tanggung jawab bersama

Krue tim seayun langkah

Dalam meniti karir meski jenjang berbeda

Tapi satu tekad tujuan utama

Hasilkan berita akurat terpercaya

Tak jarang resiko ajal tiba

Satu anggota berpulang selamanya

Dalam ekspedisi tour desa, kota, rimba

Senasib seperjuangan dalam suka duka

Tak mudah raih karir di depan mata

Begalan stasiun serupa rebut pemirsa

Uji totalitas kemampuan daya

Teruslah dedikasi jemput asa

Demi tayangan kebernaran berita

Bukan hoaks tapi akurat nyata

Sudut pandang pemirsa

Yang cerdas mencerna

Selamat berjuang jurnalis kata

Tumpang, 29 Desember 2018

Aliran realisme

 

SERBA-SERBI DI KOTA KITA

Yayah Kurniyah

 

Sayang

Panas siang dan malam beberapa hari terakhir tak juga berhenti berpuas diri

Pam tak mengalir juga di beberapa hari terakhir

hampir mengikis rasa syukur menjadi keluh

Totalitas yang sempurna ketika kini listrik padam melengkapi

Gelap, kering, pengab, penuh peluh

 

Subhaanallah

Tampak setumpuk pelajaran mengiba tuk dimaknai

Semuanya bersinergi memaksa kita tuk bersabar dan tetap bersyukur

Meski tak kujumpa sekerlip cahaya tuk meraba

Gelap

Seperti ntah di negeri mana kaki kini sedang berpijak

Asing

Di rumah sendiri

 

Sayang

Inikah potret kota kita?

Sering mati air dan lampu….

Yeah, sudahlah

Mari kita cari lilin dan nyalakan api

Lalu cari solusi agar tak pengab lagi

Cari air agar kita bisa mandi dan bersuci

Inilah hidup yang kita jalani

Tak perlu dikeluhkan apalagi dimaki

Sisakan hati tuk bersyukur dan menikmati

Sepenuh hati

 

Ayu Eka Asmiti

Hanya Untukmu

Ayu A.

Romantisme

 

 

Kasih dengarlah…

Aku sangat mencintaimu

Kuberikan hatiku padamu

Semua rasa hanya untukmu

 

Bagaimana lagi harus kulukis

Gores wajahmu tak pernah terkikis

Namun kini bathinku meringis

Dengarlah kasih,aku menangis…

 

Kini hariku terasa sunyi

Senyumku menepi

Nadiku berhenti

Mengapa dirimu  memilih pergi

 

Tuhan,…..

Hentikanlah malangku

Tunjukkanlah jalanMu

Jika masih ada dariMu,sisa bahagia dalam  hidupku

 

Semoga dia tahu

Mendengar doa dan harapanku

Aku hanya untukmu

Meski kamu sudah berlalu

 

Bali,29 Desember 2018

 

:feet:Iis Mardiah Ulpah:sunflower:

Ayu Eka Asmiti

Hanya Untukmu Ayu A. Romantisme Kasih dengarlah..

Hanya untukku (berarti untuk saya ya bun) rindu yg sangat kuat

 

Ayu Eka Asmiti

:feet:Iis Mardiah Ulpah:sunflower:

Hanya untukku (berarti untuk saya ya bun) rindu yg sangat kuat

:joy::joy::blush::blush::pray::pray::pray:Mbak Iis mksi byk sdh diajari barusan..berkat mbak puisi sy nyampe sini jg…

Itu rindu utk seseorg yg sll di hati kini dan nanti:wink::wink::wink::blush::blush:

 

:feet:Iis Mardiah Ulpah:sunflower:

Siaap bun…

 

Ayu Eka Asmiti

:feet:Iis Mardiah Ulpah:sunflower:

Siaap bun…

Puisi Mbak Is mna?sy blum baca..udah kirim mbak?

 

Burhan Najmu

Pelayan bangsa

Karya: Burhannajmu

 

Kau sebut aku pelayanmu

Melayani yang ngak kenal waktu.

Siang malamku untuk pengabdianmu.

Pantang lelah.

Pantang menyerah.

Kau lah abdi negara

Menjunjung tinggi klnerja

Menyempurnakan karya-karya agar bermakna.

Tak akan ku tingalkan negeri ini dengan kemalasan.

Kan kutanamkan suritauladan demi bakti.

Kan kutanam seribu atau bahkan milyaran generasi.

Penerus bangsa

Penyangga bangsa dan negara.

Barulah aku menyebutmu aparat sipil negara.

 

Indramayu, 29 Desember 2018

 

Di sanalah, Di suatu tempat

Oleh Iis Mardiah Ulpah

 

Disuatu tempat ada seseorang yang memimpikan senyummu

Merasakan kehadiranmu

Mimpinya bertekad tuk selalu menjagamu

Ketika sendirian, ingatlah bahwa itu benar

 

Kebulatan tekadnya akan membawamu kesana

Terkadang cinta akan memberikan pemandangan terhebat dari semua itu

Kala harus  mencapai puncak kehidupan

Teruslah menaiki tangga-tangga itu

 

Terkadang susah untuk menyebrangi jembatan

Berjalan tertatih – tatih

Buatlah sesuatu yang baru

Buatlah perubahan

Hingga, pada akhirnya

 

Kan menyadari bahwa berubah lebih baik itu kewajiban

Bahwa semuanya  yakin dapat meraih segala kesuksesan

Disanalah di suatu tempat

Dia

Sedang memikirkanmu

Tuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna

 

Kab. Batang. 29 Desember 2018

Pelayan bangsa

Karya: Burhannajmu

 

Kau sebut aku pelayanmu

Melayani yang ngak kenal waktu.

Siang malamku untuk pengabdianmu.

Pantang lelah.

Pantang menyerah.

Kau lah abdi negara

Menjunjung tinggi klnerja

Menyempurnakan karya-karya agar bermakna.

Tak akan ku tingalkan negeri ini dengan kemalasan.

Kan kutanamkan suritauladan demi bakti.

Kan kutanam seribu atau bahkan milyaran generasi.

Penerus bangsa

Penyangga bangsa dan negara.

Barulah aku menyebutmu aparat sipil negara.

 

Indramayu, 29 Desember 2018

Di sanalah, Di suatu tempat

Oleh Iis Mardiah Ulpah

 

Disuatu tempat ada seseorang yang memimpikan senyummu

Merasakan kehadiranmu

Mimpinya bertekad tuk selalu menjagamu

Ketika sendirian, ingatlah bahwa itu benar

 

Kebulatan tekadnya akan membawamu kesana

Terkadang cinta akan memberikan pemandangan terhebat dari semua itu

Kala harus  mencapai puncak kehidupan

Teruslah menaiki tangga-tangga itu

 

Terkadang susah untuk menyebrangi jembatan

Berjalan tertatih – tatih

Buatlah sesuatu yang baru

Buatlah perubahan

Hingga, pada akhirnya

 

Kan menyadari bahwa berubah lebih baik itu kewajiban

Bahwa semuanya  yakin dapat meraih segala kesuksesan

Disanalah di suatu tempat

Dia

Sedang memikirkanmu

Tuk menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna

 

Kab. Batang. 29 Desember 2018

Yayah K

Aliran realisme

 

GERIMIS SORE INI

 

Nalurimu menjadi peka

Menangkap pekik pikiran korban bencana

Dan empatiku pun menjadi turut serta

Rasa prihatin makin membatin

Meski tak banyak yang dapat kulakukan

Selain hanya sekedar berdoa

Semoga duka segera sirna

Dan tak perlu terulang lagi untuk beberapa kali

Ya cukup sekali

 

Siapa yang dapat dipersalahkan atas semua ini

Sepertinya tak perlu bicara di sini

Sebab mereka sedang berduka

 

Hujan gerimis sore ini menjadi lain dari biasa

Perasaan takutmu menyeruak seketika

Seiring hujan turun menderas

Sebab fenomena meluka

Masih terbayang kemarin siang

Banjir bandang membuat Garutmu mengerang

Gempa melimbas cita demikian meluka

Menjadi kecemasan dan trauma

 

Hujan gerimis sore ini menjadi lain dari biasa

Seperti mengancam mereka

Seperti hendak menerkamnya

Seperti kelam tanpa rembulan

Menelan asa

Tak dapat kubayangkan

Trauma itu melekat berkepanjangan

 

Sabarlah

Akan terbit pelangi sehabis hujan

 

_Puisi spontan kepada Ojo Suparjo dalam TRAUMA_

Indramayu, 22 September 2016

Ai Umay

Kabar Selat Sunda

 

Pungli tsunami mengiris ke dasar kalbu

Meragu duka yang mereka gugu

Amarah menderu

Melumat rasa kala buih nestapa masih tersisa

 

Kemana hati ditempatkan

Mengambil jenazah dengan pungutan

Sungguh melukis perih dalam pandangan

Kala gelombang tlah menggulung harapan

Harusnya kau ulurkan tangan

Meriapkan pelukan

Asa kita gaungkan

Mereka tak benar-benar sendirian

 

(Sukabumi, 30 Desember 2018)

HARTINI DEWI SPd

Pungli Tsunami Selat Sunda

Oleh Hartini Dewi, S. Pd

Derai air mata

Keluarga korban Selat Sunda

Oknum binatang melata

Hati bejat gelap gulita

Kangkangi norma susila

Kwitansi lima belas juta

Mengantar mu terkenal masuk berita

Keluarga korban berkata

Tebus jenasah dengan uang derita

Tak terima viralkan cipta

Jerat oknum binatang melata

Oleh pemberantas tindak pidana

Pasal korupsi ancaman penjara

Seumur hidup maksimal serta

Empat tahun penjara minimal hasta

Merenung kau setan serakah

Dibalik jeruji penjara

Dalam gelapnya peta

Menghitam selamanya di sana

Tumpang, 30 Desember 2018

Yayah K

AKU HANYALAH MERPATI  I

Karya Yayah Kurniyah

 

Elang adalah elang

Aku hanyalah merpati

Kau ingin aku turut ke langit tujuh?

Tariklah auraku agar kudapat serta melanglang buana bersamamu

Menjelajah dunia luar, melukis mimpi di angkasa

Mimpi yang tak terpena di alamku

 

Elang adalah elang

Aku hanyalah merpati

Matamu yang tajam membidik tepat dari ketinggian

Dan mangsa tak terelakkan

 

 

Paruh dan cakarku tak sekuat milikmu

Kepak sayapku pun tak sekuat kepak sayapmu

Jika harus terbang setinggi yang kau mampu

AKU HANYALAH MERPATI II

Karya Yayah Kurniyah

 

Terima kasih, Elang

Dengan paruh dan cakarmu yang kuat

Dengan kepak sayapmu nan kokoh kau telah membawaku terbang ke langit tujuh

Melanglang buana menjelajah dunia luar

Melukis mimpi di angkasa

Mimpi yang tak terpena di alamku

 

Dengan matamu yang tajam

Dari ketinggian tak terperikan

Kau tunjukkan detil semesta

Dan aku telah dapatkan sesuatu

Tapi merpati hanyalah merpati

Tak kan lagi melukis mimpi yang tak terpena di alamnya

Setelah tanya kiranya sia-sia

 

Kuingin kembali pada fitrahku semula

Melukis kisah sederhana dan bersahaja

Yayah K

Nih, puisi yang pernah dicontohkan Master Dedi untuk puisi realisme,

 

 

Nyanyian Abang Becak

 

 

jika harga minyak mundhak

simbok semakin ajeg berkelahi sama bapak

harga minyak mundhak lombok-lombok akan mundhak

sandang pangan akan mundhak

maka terpaksa tukang-tukang lebon

lintah darat bank plecit tukang kredit harus dilayani

 

siapa tidak marah bila kebutuhan hidup semakin mendesak

seribu lima ratus uang belanja tertinggi dari bapak untuk simbok

siapa bisa mencukupi

sedangkan kebutuhan hidup semakin mendesak

maka simbok pun mencak-mencak:

“pak-pak anak kita kebacut metu papat lho!”

bayaran sekolahnya anak-anak nunggak lho!”

si Penceng muntah ngising, perutku malah sudah

isi lagi dan suk Selasa Pon ana sumbangan maneh

si Sebloh dadi manten!”

 

jika BBM kembali menginjak

namun juga masih disebut langkah-langkah kebijaksanaan

maka aku tidak akan lagi memohon pembangunan

 

nasib

kepadamu duh pangeran duh gusti

sebab nasib adalah permainan kekuasaan

 

lampu butuh menyala, menyala butuh minyak

perut butuh kenyang, kenyang butuh diisi

namun bapak cuma abang becak!

maka apabila becak pusaka keluarga pulang tanpa membawa uang

simbok akan kembali mengajak berkelahi bapak.

 

solo, 1984

Prapto Pujo Yuwonoadmin

Realisme fakta

 

Kata, buah dari mata

Kata, irama bunyi telinga

Kata, harum tercium aroma

Kata, lezat kala terasa

Kata, halus selembut sutra

Kata kata ungkapan jiwa

 

Nyata bukan fatamorgana

Benar begitu adanya

Bukan mengada-ada

Membingkai peristiwa

Kesan panca indera

Pujangga

Prapto Pujo Yuwonoadmin

Mistisme awal tahun

 

Asap tipis membubung

Aroma gaharu merebak

Alam sepi senyap

Angin berdesir perlahan

Adakah tahun baru di sana

 

Sesaat bulu kuduk berdiri

Seraut muka pucat pasi

Seram suasana malam ini

Sejenak aku masuk alam ilusi

 

Terkatup bibir tiada bersuara

Terperdaya mata terpana

Tipu daya penuh pesona

Terjaga kekuatan mantra doa

 

Jangan masuk alam mereka

Jangan berteman mereka

Jangan bersekutu mereka

Jahil jahat jahanam mereka

Chichi

🇧🇺🇰🇺:

DALAM HENINGKU

 

:sunflower::sunflower::sunflower::sunflower::sunflower::sunflower::sunflower:

 

Dalam heningku

Ku coba diam sejenak

lepaskan semua belenggu diri

lenyapkan dunia dan isinya

Hempaskan semua rasa

Hapuskan segala rupa

*Duduk*

*Diam*

*Pejamkan mata*

Ada beribu kata yang tak sempat terucap

Ada seribu syair tak tergores

Ada waktu yang terbuang sia-sia

 

Dedi Gdn

 

Refleksi

 

Waktu tiada mau berhenti

Meski sedetik saja pintaku

Bintang malam bersaksi

Saat menanti pergantian waktu

 

Ada tertinggal kenangan

Tersimpan kuat memori

Ruang ini penuh kreasi

Tanpa bertabur emosi

 

Kini awal telah bermula

Itupun tanpa disengaja

Tiada pula terencana

Semoga kuat saat bencana

Prapto Pujo Yuwonoadmin

Bahagia hati gembira

Langit penuh pedar cahaya

Kilatan  bertabur dentuman

Insan manusia bersuka cita

Meski ada tetes air mata

Isak tangis berduka

Jiwa jiwa merana

Kehilangan nyawa

Meronta-ronta raga

Pasca bencana

 

CATATAN DUKA 2018

Karya: Yayah Kurniyah

 

Selamat tinggal 2018

Yang di sepanjang tahun itu menyimpan banyak sejarah duka

Di mana air, angin, dan tanah seperti berlomba

Atau bekerja sama

Meluluh-lantakkan negeri kita

Hancur, porak-poranda

 

23 Januari itu, dengan 6,1 skala richter Lebakku diguncang gempa

22 Februari longsor di Pasir Panjang Brebes pun turut beraksi

Suasana prihatin mencekam menyayat hati

Lapar dan luka merajalela

Para korban bencana mengiba

Berharap sesama menyisihkan hati untuk peduli

 

Di 5 Agustus itu dengan 7,1 skala richter Lombok diguncang gempa

Jumat petang, 28 September dengan 7,4 skala richter gempa pula di Donggala Sulteng

Tampaknya semesta melukis sketsa duka di negeri kita

Yang dituangkan pada aksi nyata

 

6 Desember angin puting beliung melahap ratusan rumah di Bogor

Merintihkan lagu pilu

22 Desember Tsunami Selat Sunda melanda Lampung-Banten

Konser band Seventeen meledakkan suara duka

Gemuruhnya jeritan hati para korban memekik pilu

Mengguncang kalbu

 

Di 30 Desember pukul 16.15 pun puting beliung seperti terburu-buru

Takut ketinggalan aksi

Melanda Panguragan Cirebon

Ada apa gerangan

Menjadi renungan dan refleksi diri

Mengapa semua ini terjadi

Apakah karena alam yang telah tua

Ataukah alam sedang menyampaikan pesan pada kita

Bahwa Yang Mahakuasa sedang murka

 

Di pintu 2019 aku mengetuk

Memohon Yang Mahakuasa merelakan aku masuk

Mengisi ruang di pojok sunyi

Beritikaf menyendiri

Menghayati pengakuan nistanya noda

Yang terabaikan tuk dibersihkan

Memohon ampunan kepada pemilik semesta

Ya Robb ampuni segala dosa

 

Indramayu, 1 Januari 2019

Selasa, Pk. 01.00 dini hari

 

 

Efayanti

Ujung yang bukan akhir

 

Saat mata akan dipejamkan

Mulut mengucapkan

Tangan ditampungkan

Lidah mengucapkan

 

Ujung hari kemaren dilipat dari kalender masehi

Diganti dengan terkembangnya tanggal terdini

Ini bukan akhir dan awal

Tapi sesuatu yang terpenggal

Menuju suatu yang kekal

 

Tak ada yang baru

Tak ada yang mesti di letupkan

Prestasi yang harus diburu

Inovasi yang harus ditingkatkan

 

Struktural bukan hambatan

Funsional adalah harapan

Lakukan dan rasakan

Mulia karena ciptakan.

 

Efayanti _bukittinggi.

 

Liburan

di Surabaya 1 januari 2019

Nano Suwarno

HARI PERTAMA DI 2019.

 

Mendung berbalut dilangit

Diiringi rintik yang mulai menderas

Jatuh lembut di bumi

Yang kini mulai mengeras

 

Perlahan dan pasti semua basah

Menutup kenangan yang lewat sudah

Tawa canda tangis bahagia

Atau dukalara  yang pernah mendera

 

Lingkaran asa selalu ada

Berputar mengikuti irama Sang Kuasa

Kita hanya manusia biasa

Sujud syukur menerima ikhlas apa yang ada

 

Apa tersirat maupun tersurat

Dari perjalanan janganlah digugat

Firman-Nya selalu benar adanya

Hanya kita yang lalai dari aturan-Nya

 

Hidup adalah lembaran kisah

Yang sudah tergores menjadi suratan sudah

Janganlah semua dibuat keluh kesah

Karena Sang Rabbi telah mengukur takaran makna kita

 

Hari pertama di era milenial

Jadikan euforia berakal dan tidak bebal

Berdoa tiada jeda dan fokus

Semoga kedepan iman pada-Nya tiada putus

 

 

Dalam renungan diri

Selasa, 01 Januari 2019

Nano Suwarno_Bogor

Nur Aina

Awal Tahun

 

Sang mentari  bersinar lembut

Seakan menyapa setiap makhluk dengan ramah

Dedaunan melambai, mengirim angin sepoi-sepoi

Suasana jalan, tenang, sepi dari derunya mesin

Aspal jalan seakan berterima kasih

Lelah, diinjak, digiling roda-roda

 

Manusia berdiam diri, di peraduannya

Menyambung baring yang tertunda malam

Kumandang zikir, doa dan muhasabah di rumah Allah

Membuat mereka terlelap

 

Awal tahun dua ribu sembilan belas

Memberi makna, suasana tenang dan damai

Insyaa Allah…

 

 

By: Nur’aina

Padang, 1 Jan 2019

 

Zibdah umi arfira

DUKA SETIPIS SUKA

 

Tik tik tak tik

Air hujan mengelus tepian kolam

Rumput depan kamar mendongak dalam tegun

Sang ikan melambai dengan seri

Mengajak suka ria si rumput teki

Kidung hujan pun makin asyik bernyanyi

Bersimponi dengan senandung katak merindu hati

Ah, rumput mendesah sendiri..

 

Rajutan selimut awan kian menebal, menghitam..

Selendang kabut tak mampu liukkan gemulainya..

 

Lailahaillallah..!!

Byaarr…kilat menyambar

Membentuk kilau lukisan di cakrawala

Badai..!!

Ya,badai menerjang kencang

Menggerus nadi kehidupan

Sang hujan  terhempas

Menghantam wajah bukit

Luluh lantakkan hiasannya

Gemuruh bukit runtuh melunaskan kehidupan..!

Dua jam saja

 

Oleh : Wiwik Setiandani

 

Tuk lantunkan kalam ilahi

Tuk tadaburi tiap hurupnya

Dua jam saja

Sisakan waktu menghafal alquran

Lantunkan tiap makronya di setiap halamannya

Tertatih

Terseok

Itu lebih baik

Tuk belajar istiqomah di jalanNya

Dua jam saja

Luangkan waktu

Tilawah

Resapi

Rasakan sensasinya

Nikmatnya membaca kalamNya

Dua jam saja

Luangkan di setiap waktu sholat

Permaqta

Permaqro

Perhalaman

Perlahan tapi pasti

Menghafal dengan mutqin

Dua jam saja

Bercengkerama dengan kalam ilahi

Kuatkan azam

Perbanyak ibadah

Tuk kuatkan hafalannya

Dua jam saja

Singkirkan rasa malasmu

Bangun komitmen

Kuatkan azam

Khoirukum man ta’allamal quran wal’allamah

Sebaik-baik kalian adalah

Yang belajar alquran dan mengamalkannya

 

Sunyi…

Tak ada nyanyian lagi

Musnah sudah rindu terpatri

Siapa yang bermain di balik musibah ini

 

Kepedihan yg datang meruam,

Jangan jadikan suram

Langit belumlah  temaram

Beningkan lagi yang buram

Agar hati kian tentram

 

Terus daki puncak tuk nuju kebahagiaan.

Jangan air mata keluar tanpa ridloNYA.

Tak syak lagi Allah sedemikian menyayangi shg diberi nilai lebih pd hambaNYA..

Prapto Pujo Yuwonoadmin

Mari berpuisi

Misi berkreasi

Mulai beraksi

Membawa diri

Makin berani

Mengambil posisi

Merangkai diksi

Merajut arti

Menggali potensi

Memaknai diri

 

Tika Rahmaleni

Deru ombak mulai nenyapa

Menghembuskan setiap nafasnya

Dikeheningan subuh yg sepi

Hati mulai terasa sunyi

 

Suara mobil mulai bersahutan

Melaju kencang ketujuan

Saat hati mulai tak terkendali

Menahan rindu pada ilahi

 

Ngambur, 2 januari 2019

Pagi2 pengen nyobaa  nyoret2:see_no_evil::see_no_evil::see_no_evil:

 

:feet:Iis Mardiah Ulpah:sunflower:

Sayup-sayup senja

Menengelamkan sang surya

Suara Adzan terdengar syahdu

Orang-orang kembali ke rumah

Menunaikan sholat berjama’h

Offroad Rombongan mobil hendak melaju merayakan tahun baru

 

Tapi

Terdengarlah dikejauhan suara gemuruh tanah

Rumah-rumah bergetar

Satu kampung tetimbun tanah

kini permukiman  rata-rata dengan tanah di bawah bukit setinggi puluhan meter

Akhir tahun ditutup duka

Berharap doa terkatup erat

Tuk saudara-saudaraku disana

Berdoa dan berdoa Agar Allah melindungi kita

terhindar dari bala dan bencana

Tuk kampung halamanku disana

Sukabumiku tercinta

 

Iis Mardiah Ulpah~Kab. Batang

Waktu Kita Sama Teman

Oleh : Nano Suwarno

 

Teman kita punya waktu yang sama

Yang telah diatur oleh Sang Khalik di Arrasy sana

Dua puluh empat jam sehari semalam

Itu perputaran yang harus dijalankan

 

Sebelum perputaran itu terhenti

Isilah dengan makna yang menjiwai

Lembaran baru telah dimasuki

Mari bergegas progres diri

 

Mari goreskan pengetahuan di lembaran

Seperti syair Jalaluddin El Rumi

Ketidaktahuan adalah penjara Allah

Pengetahuan adalah istana-Nya

 

Tuntaskan kebaikan Al Qur”an

Dalam satu hari satu ayat

Agar kita tidak terlaknat

Sebelum semua terlambat

 

Bacalah buku bermanfaat

Satu hari satu halaman

Agar kita menjadi paham

Dan penuh dengan wawasan

 

Tuliskan apa yang kau dapat

Satu hari satu tulisan

Agar kau bisa sebarkan kebaikan

Jika kita tiada, ada sebuah pembuktian

 

Teman kau selalu bertanya

Aku tidak punya waktu seperti mu

Aku sibuk dengan segala urusanku

Dan aku tidak sepiawai kamu

 

Teman baikku

Lihatlah syair cinta Rumi

Ingat,pintu menuju tempat suci itu ada di hatimu

Cari jawabannya di dalam pertanyaanmu

 

Teman kita punya kompetensi yang sama

Dan kita punya waktu yang sama

 

Dalam hening diri

Rabu, 02 Januari 2019

Langit Kelam

Oleh:  Yosra Dini

 

Malam itu

Langit yang tadinya terang

Berubah menjadi gelap gulita

Sorak sorai berubah menjadi jerit mencekam

 

Kelapnya malam digulung oleh deru gelombang yang menerjang

Saat itu tawa tlah sirna berganti dengan jeritan yang menyayat hati

 

Saat itu banten dengan pantai lesung nya menggila menggilas segenap manusia

Ratusan manusia menjadi korban sang amukan banyu malam

 

Mengapa alam begitu murka

Apakah itu sebuah pertanda

Begitu dekatnya maut dengan kita

Apakah kita akan berdiam diri saja

Tanpa bisa berbuat apa-apa

Atau mulai bertaubat perbaiki akhlak yang sudah rusak

 

Sijunjung, 2 Januari 2019

Tugas ke 1 (puisi Realisme 1)

HUJAN PERDANA DI MUSIM INI
Oleh Yayah Kurniyah

Ini Kali pertama hujan di kampungku
Gemerentak suara air rahmat tersebar
Dihantar juga semliwir nikmatnya angin dingin
Mengobati rindu aroma tanah basah

Gemerentak suara air tersebar
Hujan perdana di musim ini
Walau sebentar
Isyaratkan perdamaian dengan penduduk bumi
Bahwa musim akan segera berganti

Indramayu, 22 Oktober 2018

Subjeknya hujan. Hujan dalam arti yang sesungguhnya/riil, bukan istilah atau lambang.

Tugas ke 2 (puisi Ekspresionisme)

DI BALIK KAMUFLASE
Oleh Yayah Kurniyah

Sekiranya hidup dalam sangkar kamuflase
Sekali lagi terjebak dalam harapan terhadap sesama manusia
Hhhhh… Sungguh tak dapat menghindarinya
Menyakitkan

Kekecewaan bertubi-tubi
Membukit menggunung merapi
Duhai sang durjana berhentilah
Berhentilah
Hentikan langkah
Sebelum sisa kesempatan berakhir sudah
Diluluh-lantakkan letusan bola api
Yang terbukit tergunung olehmu sendiri
Ibarat senjata
Memakan tuannya
Menjadi laknat atas hidup yang tak kau hirau esensinya

Ia tak mengutuknya
Atas sangkar yang kau hadiahkan padanya
Namun tuhan tahu
Nafasnya sesak dihimpit jeruji
Meski tuhan membiarkannya pula
Sesak nafasnya makin memburu
Oksigen tak mampu menyusul memenuhi celahnya
Mengajarkan kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan
Meski sepahit empedu

Sekiranya hidup dalam sangkar kamuflase
Ia bersenandung layaknya abege tua yang kasmaran
Bukan sedang berdusta atau berpura-pura
Ia hanya berjuang melawan keluh

Indramayu, 29 Oktober 2018

Tugas 3 (Puisi Impressionis 1)

SKETSA LANGIT
Yayah Kurniyah

Langit menghitam
Petir berkedip memijarkan cahaya
Mendung bergelayut menanggung beban, menahan kehendak hujan
Angin hadir hendak turut mewarnai
Bersabarlah dan berbaik hati
Tak perlu memprovokasi

Bumi telah basah oleh awal musim ini
Bumi menghampar diri
Pasrah pada kehendak hujan yang siap menghambur
Asalkan manusia ramah pada alam
Hujan adalah rahmat
Maka bumi tak harus takut
Pada hujan yang mengoda murka langit

Langit menghitam
Mendung tak kuasa menahan kehendak hujan
Petir tak sudi berdiam diri
Menggeleparkan sayap-sayap cahaya
Dan dentum gunturnya yang perkasa
Angin tak kalah beraksi
Hingga gemuruh turut ambil bagian
Menjadi solid sebagai satu kesatuan
Sketsa langit menjadi panorama semesta luar biasa

Sesaat semuanya mereda
Seperti puas menumpahkan segala rasa
Langit menjadi bening gemerincing
Angin menjadi tenang
Petir entah ke mana
Hening tiba-tiba
Tinggal pelangi beraksi
Memamerkan kecantikannya bak selendang bidadari

Indramayu, 26 November 2018
__________________________

Tugas 3 (Puisi Impressionisme 2)

MIAU
Karya: Yayah Kurniyah

Miau….
Kucing mengiau, ditangkap tuannya
Dipeluk, dibelai tanda sayang padanya
Ia dicanda, diajak bicara
Dibersihkan kutu dari tubuhnya
Dimandikannya dengan segala

Miau….
Kucing mengiau, loncat ke pangkuan
Ia mengiau, ada yang dikeluhkan
Namun bahasa tak sampai pada makna

Kucing mengiau, ia berkeluh
Sebab tiada yang menangkap isyaratnya
Meski dengan bahasa cinta tuannya
Pesan tak sampai jua
Kecuali sepintas saja
Sementara lara makin menggulana

Tuan sayang padanya
Ia dimanja
Dibawanya ke salon mengibas kutu
“Agar nyaman tubuhmu”
Kucing tak lagi peduli pada kutu
Sebab ada derita yang lebih lara
Racun kutu mengontaminasi tubuh kuyu
Menambah ia makin menderita

Miau….
Kembali ia mengiau
Tubuhnya makin kuyu
Tuannya mulai meragu
Disandingkan ikan tak dihiraukan
Sebab derita tak tertahankan

Tuan ambil langkah seribu
Menetralisir racun pada tubuhnya
Namun langkah seribu kurang satu
Tak dapat menahan ketakberdayaannya

Miau….
Kucing mengiau terakhir kali
Untuk sampai di ujung hayat ini
Sang tuan menangis terguguk sesali diri

Indramayu, 22 Desember 2018

Tugas ke 4 (Puisi Romantik)

AJARI HATI NURANI
Karya: Yayah Kurniyah

Sejak kubertemu lembut tatap matamu
Ada yang tersentak dalam dadaku
Menjadi debar yang tiada henti
Menggetarkan dawai hati
Bersenandung tentang sepi
Menyendiri
Berulang menatap cermin, bersolek mematut diri
Dan tersenyum entah untuk siapa
Sebab dunia berubah menjadi lebih berwarna

Ada sendu, ada haru
Ada gelora mendayu-dayu
Tak kuasa menentang hati
Yang asik mengukir malam dengan bayang
Meski malam berlalu tanpa jawab
Hingga hari berganti
Tiada dapat memahami
Oh rumitnya hati, mari bernegosiasi
Beriring bersama logika
Menyusun kesepakatan

Oh logika
Aku dimabuk asmara
Ajari hati nurani
Tentang rumus-rumus manejemen qalbu
Agar aku tak terjebak hati
Yang rumit tak terperi

Indramayu, 3 Desember 2018

Tugas ke 5 (Puisi Aliran Simbolik/Simbolisme)

NEGERI CANTIKKU
Karya: Yayah Kurniyah

Negeriku cantik menawan
Bak perawan desa yang rupawan
Lagi kaya raya
Hingga ribuan bendera menghujatnya
Bernafsu memancangkan tiang
Hingga perang demi perang menyerang
Mempertahankannya
Butuh tetesan darah dan air mata

Setelah negeriku merdeka dari penjajahan nyata
Namun ribuan bendera
Masih mengendap-endap mengincarnya
Dengan siasat lembut
Yang kerap memancing hasrat

Kini perawan desa telah dewasa
Semakin terpancar kecantikannya
Semakin banyak yang diam-diam menggodanya
Tebar pesona
Parfum mereka bisa membiusnya
Jangan lengah, Negeri cantikku
Pada rayuan di antara mereka
Yang dengan segala pesona
Menyilaukan mata

Indramayu, 10 Desember 2018

Tugas 6 (Puisi Mistisme)

RINDU
Yayah Kurniyah

Ya Robb
Tiada kesulitan bagi-Mu
Menyentil pintu yang tertutup rapat, selnya berkarat
Terbuka menerima fatwa-Mu
Tiada kesulitan bagi-Mu
Menyentil jendela yang tertutup rapat, selnya berkarat
Terbuka menerima sepoi angin-Mu
Mengapa tak Kaulakukan itu
Atau
Memang tak kan Kau beri
Seperti pengharapan sia-sia

Ya Robb
Sekalipun kutahu
Tiga perkara di balik pengharapan doa
Langsung, diganti, atau ditunda
Agar semua indah pada waktunya
Dan kutahu pula
Jalan-Mu tak selalu yang tercepat tuk ajarkan kesabaran
Bukan juga yang termudah tuk ajarkan arti ikhtiar
Tapi pasti yang terbaik
Namun
Kerinduanku pada ijabah
Menjadi selaksa rindu-dendam kepada-Mu
Aamiin

Indramayu, 17 Desember 2018

 

Aliran ke 7
Puisi SurealismeMALAM ITU
Yayah Kurniyah

Bukan terbang
Melayang saja di udara meninggalkan jasad beku kaku. Suara denging orang-orang berkerumun dengan isak tangis yang tak dapat dipahami. Anak-anak tersedu, sanak saudara terisak, tanyanya tiada yang peduli, semua beku bisu.

Tubuh lemas dipenuhi tanya. Melayang ke negeri jauh dan asing, mencari jawaban pada dinding-dinding yang juga beku kaku. Pada dedaun yang terdiam dari gesek. Pada angin yang terhenti dari semilir. Pada bulan yang redup enggan pendarkan cahaya. Bahkan pada kelam malam yang memang biasa enggan menerang. Hamparan laut dan padang ilalang yang luas membisu menjadi fatamorgana gelap dan jauh. Beku, bisu, sepi senyap

Jubah-jubah putih berseliweran. Beriring barisan menuju negeri antah beranatah. Wajah-wajah pucat pasi berjubah putih dalam barisan, wajah-wajah yang lama tak bersua berjalan beriring terseok-seok entah ke mana sekalian menuju, membisu.

Denging suara isak dan lantunan ayat suci mengiringi langkah yang makin menjauh makin menyamar. Aroma dupa menyentak langkahnya yang lunglai, menghambat perjalanan. Pendar-pendar hitam menghalang pandang menyesatkan arah menjadi kelelahan kesengsaraan. Lapar dahaga tak dapat diabaikan, entah sampai kapan dalam perjalanan panjang tak berujung.

Lalu tiba-tiba bisa pulang
Disambut ngiang isak yang pecah menjadi suara tangis histeris

Indramayu, 25 Desember 2018

 

Refleksi Belajar Lagi
Karya Mr.Poem
Belajar itu butuh refleksi
Agar materi bisa dipahami
Agar bisa mengukur diri
Sampai dimana akan potensi sendiri
Jangan puas lebih dini
Tetapi lebih banyak melihat akan diri
Bermuhasabahlah diri setiap hari
Kita hanya hamba Illahi
Sejak lahir hingga mati
Tidak ada yang melekat di tubuh ini
Sadarlah akan hal ini
Sebelum djemput pulang kembali
Karimun,261218
Pukul 06.58 wib

Aliran Mistis-Psikologisme

Rindu Ku Adalah Rindu

Oleh Hartini Dewi, S.Pd

 

Rindu tanpa bisa berbuat apa-apa

seperti pukulan cemeti tanpa kata

Sakitnya merobek mata

Melihat mereka bisa berdua

Dalam hangat dekap mesra

Tapi diri terhunjam sepi ditinggal sukma

 

Rindu adalah mata yang gelisah  di dada

Jiwa meronta parah merana

Melolong hingga tenggorok tersekat semprong

Tak punya tempat berjejak dihati yang bolong

Kasur sepi melompong hingga dingin sampai ke kolong

 

Hidup terkatung-katung dari pagi siang petang

Terkejut kuatir hidup malang melintang

Ah kalo malam sekarang

Ah kalo siang sekarang

 

Seperti seorang budak menunggu naungan

Seperti seorang buruh  menantikan upahan

Seperti seorang pengelana mencari tumpangan

Seperti rusa merindukan air kubangan

Demikianlah jiwa ku merindukan firman

Sabda Mu yang menyejukkan

Hingga kalbu ku merasa tenang

Dalam dekap kasih Mu ku pandang

Tenggelam ku dalam naungan

Tabib jiwa ku yang heran

 

Tumpang, 20 Desember 2018

 

Ibu

Puisi : ASIH DEWAYANTI

Satu ucapmu Selangit doa Satu tatapmu Selaut ridhomu Menjelang batas usiaku Ke mana lagi kucari Sela

Penyempurnaan :

Selarik ucapmu

Melangitkan doa

Sejurus tatapmu

Melautkan rindu

Di tapal batas hidupku

Ke mana lagi kutemukan ridho

Selain darimu

Ibu

 

Bangkalan, 20.12.2018

 

 

HARTINI DEWI SPd

Aliran Neo Naturalisme

 

 

Rindu

Oleh Hartini Dewi, S.Pd

 

Kemana jejak kau tinggalkan

Ku cari gaung mu ke arah selatan

Sunyi sepi tak berbintang

Sejak kau pamer rembulan

Dan memaki diri dengan hunusan

Kau menghilang plaaas !!! Tanpa pijakan

 

Hingga dalam buta ku raba

Mencari rindu yang sirna

Dalam peredaran ku panjat baca

Tapi memang jejak musnah

Kandas dilema

 

Aku mencari mu

Merindui cumbu rayu

Lewat kata yang mendayu

Barisan kalimat yang mencandu

 

Rasa apa mu yang menghablur pilu?

Ingin ku baca ulang tapi tak ketemu

Samar bayang rasa kelu

Saat kau tulis hina kalbu

Mengapa meracau palsu ?

Kapan hina dina terlayang sendu

Tak pernah ku kata begitu

Kini aku membela jiwa ku

Rasa sesal tak guna bagi mu

Karena dingin hati telah membeku

Usah risau panah jiwa bertalu

Memanggil dirimu dengan lidah kelu

Lepaskan kaca hitam mu

Biar ku tahu bulu lentik itu

Terjuntai merisau kalbu

Dalam detak jantung petinju

 

Tumpang, 20 Desember 2018

 

 

 

Tengku Nazariah:

 

Tugas Simbolisme

 

Kupu-kupu Malam

 

Lentera di balik cakrawala

Mengirim semburat jingga meniti mega-mega

Biasnya berarak menebar semesta

Aku terlarut dalam hasrat asmara durjana

Yang tenggelam dalam gemuruh rancu yang mencumbu rindu

Duhai sang pemilik rasa

Inilah candu yang kau tabur atas nama cinta

Gelegaknya membuaiku dalam aroma mabukkan

Melenakanku dalam asmara tanpa kata

Tanpa ikatan asa

 

Lentera di balik cakrawala mulai meredup

Kembali ke peraduan malam sepi sunyi

Semilir angin dingin menghantarkan gigil tak bertepi

Menghentakkan ku pada kenyataan kelam

Tentang cinta semalam

 

20-12-2018

 

 

Aliran Dikdaktisme – Determinis

 

Oleh Hartini Dewi, S.Pd

 

Jaman pencerahan

Ketika fajar hikmat berkembang pengertian

Berpijak pada rasio pengetahuan

Manusia mendewakan akal kecerdasan

Sebagai titian penemuan

Tehnologi dan norma tatanan peradaban

Aneka penemuan kedokteran

Kesehatan rupa bermunculan

Sejarah dunia mengalami perubahan

Renaissance sebagai peremajaan pikiran

Maka aufklarung adalah kelanjutan

Masa manusia berlomba bentangkan

Sayap kekuasaan

Lewat derajad peradaban

Dengan fakta ragam  instrumen kehidupan

Yang glamour penuh pesona sentuhan

Inggris, Perancis , dan Jerman

Beradu gagasan

Temukan gaya hidup hedonian

Akal budi sebagai penekanan

Dewa Molokh sesembahan

Religi tak lagi punya arti

Ketika otak menjadi dewa abadi

Hati tak lagi menjadi samawi

Karena logika menjadi filsafat sejati

Karenanya melahirkan aliran-aliran hati

Rasionalis, empiris, kantianis, idealis, positivis, pragmatis, fenomenologis, eksistensialis diri

 

Lalu manusia tergelepar dalam daratan frustrasi

Kala target diri tak terpenuhi

Perang menjadi alternatif  kini

Saat krisis sisi manusiawi

Mendera perangkap jeruji religi

Nyawa tak berharga lagi

Karena nurani dibutakan duniawi

Ingat kekejaman Hittler genosida Yahudi

Di sini…dijaman masa Aufklarung ini

 

Tumpang, mengenang 20 Desember 2018

Judul : malaikat bersayap cinta

Oleh : Tri Lestari

 

Tahun demi tahun terus berganti

Waktu demi waktu terus bergulir

Detik demi detik ku lalui

Menikmati kesendirian hati

 

Sepucuk harapan jiwa…..

Bertabur, rasa demi rasa

Mencoba…..untuk menepis kesendirian

Mencari cinta yang abadi

 

Wahai malaikat cinta…..

Kini kau telah datang kan seorang belahan jiwa

Mengusir kesendirian jiwa

Membuka hati penuh bahagia…..

 

Terimakasih, kau telah kirim kan cinta untuk ku

Menjadikan tempat sandaran jiwa ku

Pelipur lara nan sejati

Pengobat luka di sanubari

 

Jakarta, 10 Desember 2018

Tugas 2

 

Oleh : Tri lestari

Judul : Cinta merobek hati

 

Langit berselimut awan tebal

Menebar pesona di angkasa

Berlalu bersama hembusan angin

Menyapa cinta yang telah robek

 

Terbuai kenangan cinta abadi…

Terhempas merobek hati

Mengenang cinta yg pernah bersemi….

Hati ku terasa perih…..

Perih bagai tersayat sembilu

 

Cinta yang kian membara….

Berlalu bagai untaian kata

Merobek rasa yang telah ada….

Bersemi di dalam relung jiwa

 

Gelap semakin gelap awan berselimut…..

Sunyi bagai hempasan malam

Kunang2 menari di antara robekan hati….

Menyapa aku yang sedang termenung

 

Cinta kini telah merobek hati ku

Merengkut rasa yang telah berlalu

Meninggalkan sejuta kenangan

Saat indah kenangan bersama mu

 

Jakarta, 7 desember 2018

Tugas 3

 

Judul : jiwa terpaut rindu

Oleh  : Tri Lestari

 

Kala senja berwarna jingga

Menghiasai cakrawala ….

Suara burung berkicauan di hamparan langit yang jingga

Menyapa diri ini yang sedang terpaut rindu……

 

Duhai….jiwa yang terundung oleh rindu

Rindu yang tak tertepis oleh waktu

Menyiksa antara relung-relung jiwa ku….

Akan kah….rindu ku bisa terpaut pada cinta ku ?

 

Senja seakan telah berlalu….

Meninggalkan ku yang terpaut rindu

Rindu padamu yang jauh di sana

Jauh meninggalkan kenangan bersama bersama mu….

 

Duhai jiwa ku…..rindu ku yang tak bertepi

Biarkan aku melangkah…..

Bersama derita jiwa….

Walau ku tahu….engkau pun rindu padaku

Tapi apa lah daya….jiwa kita tak bersatu

Namun rindu ini seakan menyatu

 

Jiwa yang terpaut rindu

Menggemgam erat nama mu

Menusuk relung jiwa ku

Menemani setiap langkah ku

Sampai akhir hayat ku

 

Jakarta, 16 Desember 2018

Tugas 4

 

Judul : kasih tak sampai

Oleh : Tri Lestari

 

Semilir angin di tepi pantai

Menyisir ombak di lautan luas

Deburan ombak saling berkejaran

Menghampiri diriku yang di sini

 

Kasih….kemana kini rimba mu….

Siang dan malam selalu ku impikan….

Bagaikan puguk yang merindukan rembulan

 

Kasih….tau kah kau isi hatiku ?

Hanya dirimu yang tertanam di sanubari ku…

Namun kini kau telah pergi berlalu….

Meninggalkan kisah yang telah layu

 

Kasih…pada siapa cinta ini ku bawa

Kasih…harus kemana aku berlabuh

Membawa cinta yang selalu tumbuh….

 

Jakarta, 11 Desember 2018

Tugas 5

 

Judul : menepis segala rasa

Oleh : Tri Lestari

 

Lelah hati berlabuh

Lelah jiwa berkelana

Mencari cinta yang sejati

Di antara ribuan belahan jiwa

 

Ku tepis segala rasa…..

Merangkai kata cinta

Cinta yang bergelok di dalam jiwa….

Ku tepis segala rasa….

Agar cinta dan rindu ini hilang

Bagai burung yang singgah hanya sesaat

 

Hati dan cinta ku mulai goyah

Menepis segala rasa yang ada…

Kasih….biar kan aku melangkah

Meninggalkan semua kenangan

 

Kasih…..maaf kan lah diri ini….

Sekian lama aku menanti mu…

Kini aku pergi dari hidup mu…

Tak akan ada lagi canda seperti dlu

Namun cinta mu selalu ada di hatiku

 

Jakarta, 12 desember 2018

 

Sam

Ohh

Iki cerita nyata ga

 

Tri

TriDec 20, 2018 2:04:07 PM

Tugas 5

 

Judul : menepis segala rasa

Oleh : Tri Lestari

 

Lelah hati berlabuh

Lelah jiwa berkelana

Mencari cinta yang sejati

Di antara ribuan belahan jiwa

 

Ku tepis segala rasa…..

Merangkai kata cinta

Cinta yang bergelok di dalam jiwa….

Ku tepis segala rasa….

Agar cinta dan rindu ini hilang

Bagai burung yang singgah hanya sesaat

 

Hati dan cinta ku mulai goyah

Menepis segala rasa yang ada…

Kasih….biar kan aku melangkah

Meninggalkan semua kenangan

 

Kasih…..maaf kan lah diri ini….

Sekian lama aku menanti mu…

Kini aku pergi dari hidup mu…

Tak akan ada lagi canda seperti dlu

Namun cinta mu selalu ada di hatiku

 

Jakarta, 12 desember 2018

Tugas 6

 

Judul : pujangga cinta abadi

Oleh : Tri lestari

 

Bagai bunga yang semerbak

Indah menghiasi taman cinta

Kupu-kupu kian berterbangan

Menghampiri jiwa yang penuh cinta

 

Sang pujangga cinta kembali…

Menabur cinta pada hati

Namun tak seperti cinta yang dulu….

Menebar cinta yang tulus

 

Pujangga cinta yang abadi….

Selalu ada di dalam jiwa dan raga….

Senantiasa menyejukkan raga…

Mengalir bagai aliran sungai….

Jernih….sejernih cinta yang bersemi

 

Kumbang-kumbang berterbangan

Menyapa suasana hati….

Mencuri pandang pada sebuah cinta

Tersenyum melambai di jiwa

 

Jakarta, 13 desember 2018

1.menjadi udara

karya : Min Rosmini

aku tak ingin serupa garis edar rembulan

kadang waktu dengan bumi berdekatan

sebelum kelak tiba waktu berjauhan

aku tak ingin serupa musim dan cuaca

membadai dan deras di waktu tertentu saja

sebelum akhirnya berlalu berganti kerontang

mendatangkan kekeringan dan kemarau panjang

aku tak ingin menjadi wajah bintang di pelayaranmu

karena tak bisa kuikuti selalu ke mana arahmu

ketika kapalmu makin jauh ke mana entah

sedang aku kian kecil dan lemah

aku tak ingin menjadi air apapun itu

meski katanya air bisa menyesuaikan selalu

bisa membasuh segala duka dan pilu

bisa menyirami segala tawa dan haru

namun, sesekali aku bisa menguap

meninggalkanmu dalam dahaga senyap

aku ingin dan lebih memilih jadi udara

hidup dalam setiap sela dan rongga

menghidupi juga menjaga

tiada berbatas apa-apa

maka engkau pun takkan berpikir meninggalkanku

pun aku, tak pernah beranjak dari setiap denyutmu

mendoakanmu dalam setiap hela ke lain hirup

mendekapmu dalam setiap jejak ke lain degup

 

Jakarta, 3 Desember 2018

 

2. Seluruh Rinduku

Oleh:Pujarsono

 

Tanpa hadirmu

Awan menggumpal kelabu

Tersapu angin menggigilkan kalbu

Air kesepian  mulai berjatuhan satu per satu

Menyerupaa hujan yang kian membelenggu

Rindu padamu semakin menderaku

Menyiksaku dalam ruang pilu

Gelap sepi tanpa lampu

Air mata membasahi relung hati

Merindumu setengah mati

Seluruh rinduku tersimpan di sini

Menunggu hadirmu hingga hujan berhenti

 

Kulon Progo, 3 Desember 2018

 

3. Putri Benua

Oleh : Bariudin Talib

Putri Benua

Begitulah aku menyapamu

Tutur katamu amat mempesona

Cahaya merona menghias wajahmu

Kita tak pernah jumpa

Kita hanya ada di dunia maya

Namun sapamu amat mengena

Seolah menusuk ragaku

Membuat sejuk peraduan hatiku

Putri Benua

Ini adalah panggilan sayang untukmu

Untukmu yang jauh di sana

Yang selalu menyemangatiku

Mengalihkan suasana hati

Melintasi pancarona dunia

 

Putri Benua

Sapamu menuntunku

Memberi harapan dan energi

Hadirmu terngiang di pikiranku

Engkaulah yang selama ini kunanti

Tanjung Selor, 3 Des 2018

 

4. Sedap Malam

Oleh: Pujarsono

 

Hari merangkak bersama senja

Malam menyapa menyandang gulita

Mentari menyepi menyendiri

Meninggalkan hiruk pikuk urusan duniawi

Rembulan enggan menampakkan diri

Menunggu giliran kapan harus menghampiri

Erat kupeluk harap

Tertawan resah dalam penantian

Gulana mendera tiada tara

Gemuruh rindu kian menderu

Tak tahan hati menanggung beban

Kapan kau datang menguntai sayang?

Angin juga belum menghembus beritamu

Awan juga belum mengabarkan keberadaanmu

Hanya bintang selalu berkedip manja

Menghalau rindu yang meraja

Sementara gelisah mulai meresah

Terus menanti kapan kau kembali?

Kekasih, bunga sedap malam darimu

Mulai kuyu dan layu

Dalam jambangan rindu yang berpadu

Setangkup asaku mulai memudar

Bersama aroma yang mulai samar

Apakah cintamu masih setia berpendar?

 

Kulon Progo, 3 Desember 2018

 

5.Cinta Pudar di Myanmar

 

Oleh Hartini Dewi, S.Pd

 

Pedang memburu pedang

Saat kepahitan datang

Deru geru sangkakala perang

Mereka kaki telanjang

Susuri sepanjang siang

Berjalan para pengungsi hilang

Hindari pembinasa keji datang

Kelam wajah Rohingya

Gelap kulit renta

Larilah ! Selamatkan nyawa

Sebar jiwa kepenjuru raya

Ungsi diri ke Filipina

Ungsi diri ke Singapura

Ungsi diri ke Malaysia

Ungsi diri ke Indonesia

Jokowi tangan terbuka

Hindari genosida

Dua ribu tujuh belas tiba

Jejak kaki di daratan Sumatra

Mencari suaka nyawa

Dalam pedih, lara dan derita

Kapan Myanmar berhenti mencari mangsa

Berhenti memburu saudaranya

Tebar cinta kasihnya

Hentikan bunyi sangkakala

Ganti sorak gembira

Rangkul perbedaan sara

Dalam dekap peluk mesra

Cinta ya cinta

Tebarkan di dada

Agar kau bisa ungkap rasa

Bahwa keragaman itu indah

Tumpang ketiak Semeru, 4 Desember 2018

 

6.*Pesan untuk Dik Narti*

Karya: Heru Sukamto

Duh Dik Narti,

Ingatkah pesanku padamu ?

Yang kita rasakan saat ini

Tentang carut marut negeri

Saling hujat, saling caci

Tiada lagi toleransi

Dari jelata hingga elit negeri

Dari tukang sapu hingga politisi

Ada apa negeri ini ?

Begitu kronisnya penyakit hati

Duh Dik Narti,

Haruskah terus kita ratapi?

Gaduhnya bangsa ini

Rakyat bingung setengah mati

Sungguh pilu rasa hati

Duh Dik Narti,

Inikah tuntunan para politisi?

Saling lapor pada polisi

Mana yang benar kutak mengerti

Bukankah mereka telah berjanji

Kan selalu jaga NKRI

Duh Dik Narti,

Kuatkan batinmu

Sabarkan hatimu

Urusi anak-anakmu

Didiklah mereka

Dengan ilmu agama

Agar punya ahlak mulia

Cinta pada sesama

Agar kelak pimpin bangsa dan negara

Duh Dik Narti,

Sampai di sini dulu

Curhatku padamu

Doakan mereka agar bersatu

Bangun negeri demi anak cucu.

Tebo, 04-12-2018.08:16

 

(Romantisme)

 

7. BIAR

Oleh: Ika Kayun

Kalau kamu menjelma

menjadi kabut

Maka kurelakan kacamataku berembun karenamu

Tak kan kuhapus

Hingga kubuta karenamu

Lalu mereka akan menghakimi

Seenak mereka sendiri

Katanya ‘itu bukan cinta, itu derita’

Aku katakan pada mereka

Sekalipun derita

Cinta tetap cinta

Bukan pula urusanmu

Sejati atau semu

Mereka itu tetap sikukuh

Mengejar bahkan mungkin

Rela bersimpuh-simpuh

‘cintamu itu buta’

Ah biarlah

Terserah mereka

Terserah aku

Terserah kamu

Terserah kita

(Geblog, 04122018, 10:43)

 

 

8. Membelah Laut Bimbang

Oleh Hartini Dewi, S.Pd

 

Bimbang dan kekuatiran

Menggelora hempas kemenangan

Menggulung kesuksesan

Dalam deru debu masa depan

Kala bangun kesombongan

Dan kau menjadi budak bagian

Berjalan dipimpin siang

Dalam Tangan yang dinaikkan

Dikejar oleh pasukan petang

Sengaja baal  beri rintangan

Agar kau tak keluar kandang

Mereka leluasa hancurkan

Harkat martabat pecundang

Gapai segala ketamakan

Raup kerakusan tak berimbang

Atas nama ambisi perang

Himpit tekan kemanusiaan tak bimbang

Dalam berani

Ada keselamatan diri

Bimbang hancurkan masa depan

Tuhan akan berperang

Kita hanya diam

Dan beroleh kemenangan

 

Tumpang ketiak Semeru, 4 Desember 2018

 

9.BERBINGKAI RASA

Oleh : Sri Yuliati

 

Telaga hati kian tak sempurna..

Sarat dengan arah yang tak mampu terlukis

Rasa kian lunglai tanpa tegur sapamu..

Kemana kau…diamana kau..

Hati merenda rindu

Kau tak lagi nyanyikan kidung asmaramu

Hati kian gelisah..

Rasa tak lagi mampu menapak

Bayang dirimu kian sempurna

Namun kau tak lagi ada

Sirna ditelan masa

Kau tak lagi peduli…

Hilang kontakmu

Hilang juga rasa hatiku..

Tak lagi berpaut membayang asa

Dunia  kita maya

Seiring waktu kau torehkan cerita

Dari sepucuk harap

Walau tak tersemat dalam lukisan  kanvas

Setidaknya memori berbingkai rasa.

 

 

Purbalingga, 5 November 2018

Asri WidjayaDec 4, 2018 6:08:38 PM

Puisi 4,romantisme

Kekasih

Hamparan selimut elusan tanganmu

Selalu ku rindu

Bagiku kau yang tercantik

Secangkir kopi dan seulas senyummu

Penghangat pagiku

Kekasih

Maafkan diri yg tak pandai buatmu bahagia

Selalu egois,menuntut hal rupa rupa

Kekasih

Inginku rebahkan diri ini

Dalam hangat pangkuanmu

Bermimpi dalam belaian manjamu

Kau hal terhebat dan terindah

Yang hadir dalam hidupku

Kekasih

Kau

Tiada yang lain dalam hidupku

 

Asri wijaya

Banyuwangi,4 des 18

 

10.Menolak Rindu

Oleh Usman

 

Masih melekat kuat dalam rasa

Bagaimana rindu pernah meliputi hati yang terpaut

Masih teringat kuat bagaimana rindu menguncang

Jiwa yang satu dari dua raga yang berjarak

Kamu dan aku tahu bagaimana rindu pernah menyiksa

Kamu dan aku bukan lah Qais dan Layla

Kamu dan aku bukan Qais dan Layla yang jatuh cinta pada rindu

Kamu dan aku bukan Qais dan Layla yang menyatu dengan rindu

Aku tak mau cahaya matamu meredup

Aku tak mau rona pipimu memudar

Aku tak mau dirimu diliputi resah

Tatap mataku

Dan kau pun kan tahu

Arti sendu, kelabu, dan merindu

Masih melekat kuat dalam rasa

Di tepi telaga itu, tanpa harta janji hati terpatri

Di tepi telaga itu, tanpa tahta janji hati terukir

Lalu, kita bersama berlayar di samudra kehidupan

Bukan harta, apalagi tahta pengikat hati kita

Bukan harta, apalagi tahta yang melebur rindu

Jadi, abaikan saja tahta itu bila ia membuat kita berjarak

Aku tak mau tahta itu kembali merenda rindu

Jujur kuakui

Memang aku lemah tanpamu

 

Berau, 2018

Yosra DiniDec 5, 2018 12:05:04 AM

 

11. Pusara Rindu

Oleh Yosra Dini

 

Ingin kukejar bayanganmu

Tetapi kau semakin menjauh

Ingin kudengar suaramu

Namun terdengar begitu sayup

Kangen akan candaanmu, senyumanmu, belaianmu, dan nasehatmu yang bijak

Namun kemana harus kucari semua itu..

Rindu ini semakin mencekam dan tak berujung

Masih jelas terlintas dalam ingatanku betapa hadirmu begitu terasa dekat

Namun kini rindu ini tak tahu mau ku alamatkan..

Rindu ini terasa begitu berat ketika ku sadar bahwa dirimu sudah tiada

wahai angin haruskah kupusarakan rindu ini, agar hati ini tidak lagi dicekam kerinduan akanmu..

 

Sijunjung, Sumbar, 2018

 

HARTINI DEWI SPd:

12. Rasa Hidup Ku

 

Oleh Hartini Dewi, S.Pd

Pena bisa berukir kata

Mulai hari ini aku akan terus bahagia

Karena aku memiliki karsa

Untuk terus bersuka

Tak peduli apa kata dunia

Bahwa aku harus pertahankan rasa

Bahagia itu indah

Bahagia limit mendekati Surga

Sedih duka lara nestapa

Adalah sebuah pilihan semata

Tapi ku pilih bahagia

Jalani hidup di dunia

Bersama bayu awan mentari

Ku ajak kelilingi negri

Terus menikmati

Anugrah diri

Berseri bersama jalani janji

Jika kau tak mau serta

Aku akan beri mu ulasan kata

Lewat pena ungkapkan sukma

Ku kan terus beria

Lepas penat lelah diri

Bergulir hilangkan sepi

Tepis semua sedih hati

Ganti tawa rupa berseri

Kan ku nikmati mentari

Hangat kuliti raga ini

Buai sejuk semiliri

Angin hembusi

Raga jelita diri

ketika ku kembali

Kan ku labuhkan hati

Di dermaga cinta suci

Bersama nikmati

Indah surgawi

Di sisi sebelah nadi

 

Tumpang lembah Semeru,

5 Desember 2018

 

Romantisme

 

13. Cahya Di Ufuk Senja

 

Berbinar tatapmu kala itu

Menyingkap sendu

Hati bertalu-talu

Jantung berdegup

Tak menentu

Tak mampu kuasai diri

Resah melanda

Gelisah menerpa

Menggunung Rasa

Nyaris tumpah

Tanpa arah

Jarak berlalu lari

Lama sudah kudendam sunyi

Kupeluk hari tiada henti

Menunggu sepi

Menjauh pergi

Onak duri kulalui

Ku junjung tinggi

Singasana hati

Tak perduli

Gejolak menghantui

datang dan pergi

Tapi aku tetap sendiri

Bergelut mimpi

Penantian dalam selimut rindu

Menepi di bibir senja merona

Kusibakkan khayalan semu

Fatamorgana

Pesonamu gagah perkasa

kalahkan asa

Merontah-ronta

Jemu  rasa bersalah

Terus ku pegang teguh

Janji pertaruhkan nyawa

Demi kasih-Mu

Menuju Ilahi Robi.

 

Diana Yuwinda

 

Tengku Nazariah

 

14. Rindu

 

Lama tak kujumpai rautmu

Hingga kerap melepuhkan hasratku

Pada senyum hangatmu yang mampu menenangkan jiwaku atas gelisah semu yang tak kutahu asbabnya

 

Lama kunantikan hadirmu

Yang kuharap kan membawa sejuta rindu untukku

Hingga mampu mengeringkan luka asmara

Dari kembara panjang pada lembah duka

Laranya menganak sungai

Lelahku tiada tara

 

Lama kutorehkan impiku

Pada hembusan angin lalu

Yang membelai daun-daun layu,

melepasnya terbang menuju tanah basah

Meruarkan aroma yang mencumbu rindu

Kau masih jauh

Lama kutitipkan rindu

Pada awan-awan putih yang kerap menemani

Kuharap geraknya kan menyampaikan asaku padamu

Hingga membawamu segera berlabuh dalam kabut rinduku

Dan mengurai keluh kesahku

Lama ku disini

Menanti dalam asa diri

 

*Warung Mbok Ijem, 28-04-2018*

 

15. Kasih

 

 

Oleh Hartini Dewi, S.Pd

 

Kasih di mana kau gerangan

Sedang apa kau di angan

Mengapa kau selalu terbayang

Dalam pola rupa mu yang menawan

Kasih ke arah mana bayu menggelayut

Sedang aku di sini masih tersangkut

Bersama deras sungai terhanyut

Dalam rindu dendam yang kian memagut

Kasih tau kah diri mu

Bahwa aku selalu menggapai mu

Dalam hayal dan angan sendu

Berharap kau datang bawa setangkup rindu

Untuk ku kala bayu mendayu

Kasih aku masih inginkan diri mu

Memadu rasa cinta nan merdu

Bersama menggelepar dekat tumbuhan perdu

Saat mentari temaram di lembah Semeru

Tempat pertama kita beradu

Dalam dingin derai hujan di Ranu Kumbolo kala itu

Kau selimuti hatiku dengan senyum mu

Hangati cinta ini dengan alunan merdu

Semilir bayu gugah rasa tuk menyatu

Dalam mahligai kupu-kupu

Di sana angan kita menyatu

Dalam biduk cinta penuh rayu

Sampai nafas tersengal memburu kalbu

Menanti menit detik lelehan salju

Dalam erangan jerit sembilu

Dan kita berhenti sampai di situ

 

Tumpang bentang selimut awan,

5 Desember 2018

16. Dara Jelita

Oleh Hartini Dewi, S.Pd

 

Bulu mata lentik

Pesona elegan nan cantik

Rambut lembut tergerai antik

Dengan satu tanda berbintik

Jelita mu tawan hati rupawan

Berharap dapat satu ciuman

Dalih sebuah persahabatan

Panggang hati bentrok kawan

Ada hati yang arogan

Inginkan cinta gulingkan lawan

Hasrat berkasih malah tertawan

Jelita di antara wanita

Kemana kan kau bawa sukma

Ketika tertikam cinta di dada

Jangan hanya diam terpanah

Hapus sendu pilu terarah

Pada batin yang terluka mengangah

Usap derita perih bernanah

 

Ganti dengan wajah bersuka

Nikmati rupa anugrah

Sebagai tanda

Kau jatuh cinta

 

Tumpang lembah Semeru, 5 Desember 2018

17. Wanita Misteri

 

Oleh Hartini Dewi, S.Pd

 

Mata sipit

Rambut lurus terjepit

Cermin belakang terapit

Jubah putih berjuntai apik

Foto terpampang

Di hotel tugu kota Malang

Dingin aroma ruang

Berbau wangi kembang

Oui Quilan asal Semarang

 

Putri pemilik pabrik gula

Roh mu hidup bergentayang

Entah kau masih cinta dunia

Hingga sukma mu melayang

Harusnya kau ke alam baka

Tapi kenapa kau tak mau pulang

 

Hawa dingin cekam ruangan

Kau masuki mimpi wisatawan

Komunikasi terbatas ilusi

Dalam percakapan abstraksi

Penuh aksi gelisah diri

Apa yang kau nanti

Dalam keabadian mu kini

Tenanglah kau menghadap Ilahi

Tidurlah kini dalam abadi

 

Tumpang Splendid in, 5 Desember 2018

 

18. Kenangan Sejarah Suatu Bangsa

 

Oleh Hartini Dewi, S.Pd

 

Aku merancang kedurjanaan

Merencanakan kejahatan

Eksekusi tak ragu ku lakukan

 

Ku rampas ladang-ladang milik orang tak berdaya

Ku serobot rumah-rumah saat aku menginginkannya

Ku tindas manusia dan milik pusakanya

Dan aku berkuasa atas kejahatan yang merajalela

 

Kala tiba waktuNya

Tak kusangka-sangka

Aku di timpa kemalangan besar

Banyak sindiran yang terlontar

Banyak ratapan yang ku dengar

Semua yang ku dapat dihancurluluhkan

Warisan bangsa diserobot orang

Ladang-ladang dikembalikan ulang

Aku ditawan, diperbudak jahanam

Aku tak dapat berjalan dengan pongah

Leher ku dililit tali dan aku digelandang

Aku tak punya tempat perhentian

Karena kedegilan, kebebalan dan kenajisan

Maka aku dibinasakan dan tak terpulihkan

Kengerian dan kehinaan

Kebencian dan cercaan

Sepanjang sejarah sampai sekarang

 

Tapi kemurahanNya masih berlimpah

Belas kasihannya masih ku rasa

Dilimpahkan pada generasi yang tersisa

Seribu sembilan ratus empat puluh delapan merdeka

Di tengah himpitan bangsa

Yang membenci luar biasa

Dengan kuasaNya

Aku masih berada

Hingga kini  sampai selamanya

 

Tumpang terkenang,

6 Desember 2018

19. Jaman Tri Milenial

 

Oleh Hartini Dewi, S.Pd

 

Tri milenium menanti

Gunung rumah Ilahi

Akan terpuncak menjulang tinggi

 

Dari sana akan ada pengajaran bijaksana

Akan ada hakim diantara banyak bangsa

Muncul wasit diantara suku besar dunia

 

Mereka tak belajar perang lagi

Mata pedang ditempa menjadi bajak bergigi

Tombak menjadi pisau belati

 

Mereka akan duduk di bawah pohon anggur berdahan

Dengan perasaan damai tanpa kejutan

Yang pincang akan menjadi pangkal keturunan

Yang terpencar akan dihimpunkan

 

Bangkit dan iriklah tuaiannya

Tanduk mu akan dibuat seperti baja

Kuku mu seperti tembaga

Mampu hancurkan banyak bangsa

Rampasan kau khususkan untuk Raja

Bilamanakah ini terlaksana

Nanti dijaman tri milenial asa

 

Tumpang, 6 Desember 2018

 

20.Sejarah Mungkin Berulang

Karya:  Yosra Dini

 

Dulu kita hidup dijaman penjajah

Yang semua kita harus ikut perintah

Dan  menerima titah

 

Rasa takut terkungkung dalam jeruji

Enggan tuk melawan karena didepan siksa akan menanti

 

Namun kini masa itu telah berlalu

Hidup bukan lagi dalam era penjajahan yang selalu diliputi rasa takut

 

Mulut tidak lagi terkunci dalam diam

Suara tidak lagi harus bungkam

Semua kita berhak untuk berbicara

Semua kita berhak tuk berpendapat

 

Lalu kenapa,  mengapa, apa yg bermasalah

Justru pada saat kita boleh bebas berpendapat,  kenapa justru ditindas

Bukankah di era ini kita bebas bersuara,  lalu kenapa kami harus dibungkam dan diperlakukan tak berdaya..

 

Sijunjung, 9 Desember 2018

Heru SukamtoDec 6, 2018 10:30:01 PM

*Sepenggal Rindu*

Karya: Heru Sukamto

 

 

Rindu ini kulayangkan

Bersama derasnya bayu malam

Walau hanya sepenggal

rindu ini  jadi sepanjang kanal

yang melintas hingga ke ujung dunia

 

Pesona cintamu hampir tak kulupakan

semakin erat kasihmu indah bak gurindam

Butiran rindunya menular pada hati yang mendalam

 

Bahkan tak kuhirau prasangka orang

Yang bilang kugila alang kepayang

 

Barangkali mereka lupa

Cinta ini anugerah dari Yang Kuasa

Bukan aku merekayasa

Tetapi pinjaman Yang  punya sukma

 

Rindu kan selalu menjelma

Bagai rindunya Adam dan Hawa

Yang menaburkan cinta serasi bak gurindam

Menyemai kasih sayang dalan cobaan

 

Ku yakin saat ini rindu itu pasti bertamu di relung hatimu, seperti aku

 

Walau cintaku belum sempurna

Tentu kusadari semua

kita manusia bukannya batu permata

 

Namun kuyakin masih ada karomah cinta  mandraguna yang kan kuraih hakikatnya

Biarlah kini hanya upaya sebesar hama

Jelang esok  kan bahagia

 

Saat ini hanya kuntai doa yang kupanjatkan dengan  segenggam harapan

Semoga rambat rinduku datang padamu tanpa halangan

Demi impian semerbaknya kerinduan.

 

Tebo, 06-12-2018.22:24

Fitria LindaDec 7, 2018 11:39:53 AM

GEGURITAN ASRI

 

Oleh : Fitria Linda K.

 

 

Tetembangan titi wanti segara asmara

Menyebar sesaji suci sang dewa

Memetik pucuk seroja

Yaitu cinta

 

Duh gusti…

Hati membara menahan diri

Tertahan dalam bait-bait sunyi

Mengembara kosong tak berarti

Mengejawantah sukma kokoh sejati

 

Duh gusti…

Senyummu damaikan hati

Terperangkap birahi ikatan suci

Bergelayut rumbai-rumbai selendang dewi

 

Ingin kuusap raga disegara nirwana

Mencuci bersih jelaga asmara

Giwangkara cinta disukma

Senyap yang ada

 

Blitar, 07-12-2018

Joko SusiloDec 8, 2018 11:02:51 AM

Malam terindah

(Romantisme)

 

Oleh: Joko Susilo

 

Malam itu…

Penuh kegembiraan

Ketika mempelai berdua

Duduk di kursi sofa

 

Malam itu…

Penuh berkah

Ketika mempelai berdua

Duduk berdampingan

 

Malam itu…

Malam penuh kenangan

Ketika para tamu

Dah pada pulang

 

Malam itu…

Malam belaian tak terlupakan

Ketika mempelai berdua

Tidur dengan nyenyak

 

Solo, 8 Desember 2018

Heru SukamtoDec 8, 2018 11:37:09 AM

*Perempuan Lereng Semeru*

Karya: Heru Sukamto

 

 

Paras ayu pipi merona

Rambut terurai bak gerimis senja

Mata sipit alis mempesona

Hadir dalam pelukan mesra

Penentran jiwa raga

Penyejuk kala sukma dahaga

Pelipur dalam duka

Pelepas letih jiwa

 

Dikau perempuan itu

Lembah Semeru tanah leluhurmu

Di sana kita bertemu

Labuhkan kasih di bawah perdu

Bentangkan asa tuk bersatu

Duhai perempuanku !

Terimalah  suntinganku

Kusanggup jadi sanggurdimu

 

Dengarlah !

Gemercik indah

Menambah kuat tekadku

Menambatkan sekeping hatiku

Pada kokoh hati kecilmu

 

Lihatlah !

Pucuk-pucuk perdu itu

Indah diterpa sinar mentari

Menambah rona ayu wajahmu

Duhai perempuanku…!

 

 

Tebo, 08-12-2018.11:25

 

Sam

Dedi GdnOct 22, 2018 7:16:23 AM

Biarlah

Biarlah aku dipuji

Biarlah aku dicaci maki

Aku tak peduli

Aku terus menulis puisi

Sebagai eksistensi diri

Buat mawas diri

Agar tak lupa diri

Karena hidup hanya sekali

Jadikan ia menjadi lebih berarti

Itu pasti

Karimun,22102018

Pukul 07.05 wib

Rochani HandayaniOct 22, 2018 8:25:23 PM

Ini tentang hujan

 

Titik-titik air yang membasahi bumi

Mengisi sumber-sumber kehidupan kami

Menghidupi pepohonan layu yang hampir mati

Menggembirakan hati para petani menunggu sawah mereka teraliri

Cara Tuhan merahmati

 

Rintik-rintik yang mendamaikan

Kala jiwa dilanda kerisauan

Melantunkan nada beraturan

Irama gerimis pelan hingga deras menghentakkan

Kadang disertai gemuruh petir berkilatan

 

Lalu jiwa-jiwa berdoa

Menyerukan pinta

Pada apa yang tersimpan di dada

Dan hujan yang menyertai mereka

Lirih memuja Sang MahaPencipta

Diiringi derai air mata

Hilang resah melanda

Hujan  telah reda

 

Rcnani 2018

Onyah JhOct 22, 2018 8:43:39 PM

Piatu Ku Disebut

 

Delapan bulan usiaku

Saat ibu menjemput takdirnya

Rengekan tangisku melepasmu

Piatu ku disebut

 

Empat tahun usiaku

Ayah menjemput jodohnya

Ibu sambung kurengkuh

Tapi tak berikan kasih sayang utuh

 

Piatu semakin ringkih

Di dera tangis kesepian

Kasih sayang pelipur lara

Tak berpihak pada nasib

 

Hanau, 22 Oktober 2018

Yayah KOct 22, 2018 9:32:07 PM

HUJAN PERDANA DI MUSIM INI

 

Ini Kali pertama hujan di kampungku

Gemerentak suara air rahmat tersebar

Dihantar juga semliwir nikmatnya angin dingin

Mengobati rindu aroma tanah basah

 

Gemerentak suara air tersebar

Hujan perdana di musim ini

Walau sebentar

Isyaratkan perdamaian dengan penduduk bumi

Bahwa musim akan segera berganti

ROSEOct 22, 2018 9:50:24 PM

Pahlawan hati

Oleh: Rubaidarose

 

Wajar saja

Kau kujuluki pahlawan hati

Wajahmu mampu

Mengobati lirih hati

Senyummu mampu

Menyirami negeri yang mati

Sapaanmu mampu

Menghangatkan dinginnya hati

Kharismamu mampu

Membesarkan mimpi-mimpi kami

 

Tapi ……hari ini

kau tak lagi bisa

kuberi julukan  pahlawan hati

Saat anak kecil kehilangan puting susu di siang hari

Ibu-ibu kehilangan  tangan untuk mencuci

Suami kehilangan kaki ketika berdiri

Guru-guru kehilangan murid setiap hari

Petani kehilangan cangkul untuk mengali

Ustadz  kehilangan  suara untuk  mengaji

Pengamen kehilangan gitar untuk menyanyi

Pemulung kehilangan pengais kardus berkali-kali

 

Halai balai negeriku ini

Satu persatu hilang

Sampai   menghilangkan

Harga diri bangsa ini!

Hanya kertas hitam

Dan

Sebilah korek api

 

Kamarku,20102018

Min RosminiOct 23, 2018 7:33:30 PM

SENTILAN DARI ASEAN PARA GAMES 2018

 

lihatlah sahabatku….

saat perhelatan asean para games

di arena itulah mereka berlaga

mereka bukanlah orang-orang

yang memiliki kesempurnaan fisik seperti kita

tapi semangat juangnya menggelora

gigih dan tekun

ketidaksempurnaan fisik

bukanlah hambatan baginya

untuk menorehkan prestasi

yang membanggakan bangsa dan negara

lantas…  bagaimana dengan diri ini?

sungguh, aku merasa sangat kecil

aku malu pada diri sendiri

yang masih suka berkeluh kesah

bahkan lalai bersyukur kepada Sang Khalik

SHAFIYYAHOct 24, 2018 9:09:06 AM

Ya Allah

Mengingat, mengingat, mengingat

Mantra itu betengger di kepala

Mulai menyusun puzel puzel

Kurabah pipiku, panas, panas

Pantasan saja dia menghilang

Aku lupa

Ternyata aku sendiri yang membuangnya

Kucari ke sana ke mari

Ternyata dia bersembunyi dipembuagan

Mau tertawa, tapi malu

Hanya bisa tersenyum

Karena terlupa pada hal yang penting

 

Samarinda, 20181024.

Ifat SitiOct 24, 2018 7:10:33 PM

Hanya Tinggal Nama

 

Aduhai dimanakah ini?

Nyanyian merdu itu kudengar lagi

Tersebar di seluruh penjuru mata angin

Merata di seluruh pelosok negeri

 

Dari manakah asalnya?

Untaian dusta beraroma surga

Menyeruak mengisi jiwa yang hampa

Hingga mereka pun percaya

 

Padahal semua tak nyata

Hanya sekedar janji mulut manis belaka

Bagaikan fatamorgana…

Menyilap mata yang bergelora

 

Seolah gemerlap itu ada

Menari-nari dengan indahnya

Di atas langit dunia

Hingga tiba pada waktunya

 

Semua lenyap tanpa sisa….

Maukah anda? Anda? Anda?

Merasa nelangsa tiada tara…

Saat negeri ini hanya tinggal nama…

 

Sumedang, 241018

ROSEOct 26, 2018 5:33:23 PM

Rintihan bidadari kecil

Oleh: Rubaidarose

 

 

Kudengarkan rintihan pilu

Terbata-bata.

Menyebut nama-Nya

” ya Allah tolong Maisya ya Allah, sembuhkan Maisya ya Allah.”

 

Dia terbaring lemah

Hanya ada suara lembut mendesah

Memecah keheningan

Ibu tua, pak dokter dan perawat  ikut  hanyut dalam lautan air mata.

 

Saat desah lembutmu

Berdialog  lugu dengan-Nya

Mematahkan rasa kantuk yang tadi menyerta

Sepanjang malam mata penjaga dan seisi ruang icu

Terus berkaca-kaca

Dan air jatuh semakin deras membasahi bulu mata.

 

Dia bergumam lagi

Penuh tanya dan tanya

Selang-selang bermacam rupa berjejer di sekujur badannya

” Ya Allah,  kenapa Maisya harus merasakan sakit ini?, Maisya tak kuat lagi  ya Allah, Maisya ini akan matikah ya Allah, kasian ibu, ibu  tidak bisa tidur sepanjang malam, ibu tak lagi bisa jual gorengan,…ibu ibu…ibu …Sakit  buuuuu, Maisya sudah tak Kuat Ibuuuuu,,,,……”

 

” Maisya, dua hari lagi udah bisa pulang, sabar ya sayang”.

Dokter menyapanya.

” Pak dokter, jangan bohong, kalo bohong itu dosa!.” Dengan lugu membalas ucapan dokter.

 

Dokter hanya bisa menahan rasa harunya.

Dan terhenyak mendengar jawaban lugu pasien kecilnya.

Mata- mata lain ikut terkesima dan membisu tanpa kata-kata.

 

Mentari muncul,

Pinta anak kecil tak berdosa

Tak lagi ada, dia didekap mesra oleh bius total yang akan segera membelah perutnya.

Darah segar memuntrat

Menetes, mengaliri kain kain putih tak bernoda

Bidadari kecil berjuang

Antara hidup dan mati

Melawan kesakitan nyata.

 

Ruang icu,24102018

Prapto Pujo YuwonoOct 26, 2018 6:34:46 PM

Sederet Pinta

 

Saat tembok tak lagi kokoh

Ketika cicak tak mampu bersuara

Selagi waktu belum beranjak malam

Sore itu sebuah berita terdengar

 

Daun daun layu berguguran

Wajah ayu semakin sayu

Batinnya dirundung pilu

Dirinya di dera badai keraguan

Masih adakah cerita buah hatinya

 

Tuhan, dengarkanlah pintaku

Alunan kidung suci kulantunkan

Salam terindah tiada terlupa

Berikan aku mukjizat

Untuk buah hatiku

 

Pohon kering di tengah kemarau

Ranting patah terhujam ke tanah

Suaraku biarlah parau

Namun semangat hidupku tak boleh lemah

Berjuanglah manisku

Sederet pinta selalu ada untukmu

Dariku sepanjang takdirmu

 

#di bawah langit, 26102018

Fitria LindaOct 26, 2018 9:26:27 PM

WANITA DIRINDUKAN SURGA

 

Oleh : Fitria Linda K.

 

W_ajah ayu terbalut hijab ungu

A_ngin bersemilir mengibas juntaian busana

N_anar berbuih arum cempaka kalbu

I_ndah bermahkota tiara musahabah

T_itian langkah berharap cinta Allah

A_nggun lentik jemari terlingkar untaian tasbih

 

D_iri terbuai godaan balur iman

I_’tibarnya megah berjubah surga

R_inai doa menghujani sujud malam

I_ri hati ini akan ikhsan yang senantiasa gemercik dijiwanya

N_uasa hati seteduh langit jingga

D_inaungi selendang pelangi keikhlasan

U_khrawi terpancar terjaga sebening banyu wudhu

K_inanthi sholawatnya menjamu khalam merindu

A_langkah syahdu syair-syair Allah tundukkan kesenyapan

N_azam nan elok bermuara dibibirnya

 

S_ubhanallah…

U_ntaian zikir bagai rimbunan perdu

R_umbai-rumbai ikhtiar sehela butiran peluh

G_egayuhan wanita utama dunia

A_ndai aku dapat mencapainya

 

 

Sedu sedanku dikeheningan malam*26-10-2018

Fitria Linda Kurniawati:

N_aungan teduh bersayap rindu

E_ntah siapa dia?

N_anar bersemburat aura ayu

E_ntah siapa yang tak terpikat olehnya

N_antikan guratan aksara pancaran aura

G_usti… diakah sosok bidadari?

 

P_un tak luput khilaf hati

U_ntuk mengenal sang putri

T_iada sesalku menyapa mayapada

R_inau sapaku berharap bias pelanginya

Y_akin pelangi teduh seanggun parasnya

BIANGLALA

 

Semasa kecil aku terbuai

Seuntai kembang gula

Tergenggam jemari ini mulai mengeja

Ya kembali di sini

 

Bianglala ini masih di sini

Berkarat dan rapuh

Riuhnya masih terdengar kini

Namun tak bersauh

 

Kaki-kaki mungil sekarang mengigil

Celotehnya kaku terbungkam

Sukmanya memanggil

Jasad terkaram

 

Ruang waktu

Andai ada di ruang tunggu

Mengusik kalbu

Berharap bermain bianglala itu

 

 

#rindu kecilku*26-10-2018

ROSEOct 26, 2018 11:22:16 PM

Tersesat di Rimba Sonokeling

Oleh: Rubaidarose

 

Anganku tersesat ke arah rimbunnya pepohonan

Kulihat sebatang pohon

Tergeletak

Sebongkah kayu terbelah

Oleh jejak shinsaw

 

Kulempar pandangan pada warna unggu bergaris kehitaman dan kemerah-merahan.

Sungguh indah menawan.

Seolah lukisan urat-urat syaraf  yang berseliweran.

 

Dalam rasa panik yang mendalam.

Kuberanikan diri melangkahkan kaki menuju rumah suram yang terlihat di antara celah batang.

Hatiku berkelahi dengan berjuta tanya yang butuh jawaban.

Rumah siapa gerangan?

 

 

Masih tersisa keberanian untuk mencari arah anganku pulang.

Kutengadah menghadap ke arah mentari berpijar

Sembari menghapus tetesan peluh yang semakin memendar.

 

Tak sengaja mataku beradu pandang pada wajah hitam legam dengan senyuman.

Menyapa hangat dan menerbangkan rasa panik yang kurasakan.

 

” Tuan putri, tersesat di hutan sonokeling milik petani semarang.”

 

” Terima kasih tuan,ini hanya aku dan angan.”

 

Kuansing,26102018

NazariahOct 28, 2018 8:01:39 PM

Tengku Nazariah:

Hari ini..

28 Oktober, 90 Tahun yang lalu…

Dalam gemuruh semangat perjuangan

Hentakan hasrat akan kemerdekaan

Lepas dari penjajahan

Lepas dari berbagai belenggu perbedaan

Lepas dari aneka kepentingan

Lepas dari bahasa.. budaya.. agama.. pulau dan lautan luas.. yang memisahkan..

Para pemuda bersatu..

Dalam satu tekad tuk menghancurkan semua bentuk penghambaan…

Penjajahan yang telah memporak porandakan peradaban dan perikehidupan

Hadir dalam kebersamaan..

Persatuan..

Pengakuan..

Dan tekad tuk bersatu..

Bahu membahu..

Demi sebuah Bangsa yang Bernama Indonesia..

Dalam SUMPAH PEMUDA.

Edeh IainOct 28, 2018 10:11:47 PM

SATU TEKAD

Oleh E.Sukaedah.A

 

Sudah saatnya bangkit

Sudah saatnya satukan visi

Sudah saatnya lakukan misi

Demi satu tujuan suci

Terbebas dari kebiadaban

Para penjajah

Menuju bangsa yang beradab

 

Wahai pemudaku

Di dadamu bergejolak

Gelora heroik menggelegar

Di jiwamu terpatri

Semangat juang

Di tubuhmu mengalir

Darah patriorisme

Yang kian membara

Membawa panji persatuan

 

 

Tanpa melihat apa bahasamu

Tanpa melihat apa sukumu

Tanpa melihat apa adatmu

Demi tanah air

Indonesia tercinta

Kau kumandangkan

Merdeka.

Itulah janjimu

Wahai pemudaku.

 

Cirebon, 28 Oktober 2018

SHAFIYYAHOct 29, 2018 7:30:51 AM

Si Penyandang Rindu

Aku duduk, tawa anak-anak itu terdengar

Berlari kesana ke mari

Mengibas rambut yang merebut keceriannya

Tak peduli lagi, terus tertawa

Hingga gema menghilang

Aku membuka mata, mengeluh.

Berharap anak-anak itu masih terlihat

 

Tapi nyatanya aku hanya sendiri bersanding senja

Memaki pada angin yang hobi bernapas

Sesekali coba menghentak ranting-ranting, berguguran

Lupa? aku sendiri.

Atau lagi sedang rindu?

 

SMD, 20101029

Fitria LindaOct 29, 2018 8:51:16 AM

Aku Cemas

 

Aku cemas tak mampu tunaikan jabatanku

Aku cemas tak mampu penuhi waktuku

Aku cemas tak mampu alokasikan hartaku

Aku cemas tak mampu lajani sisa umurku

 

Untuk apa?

 

Untuk harapkan ridhaMu Ya Allah

Untuk harapkan cintaMu Ya Allah

Untuk harapkan kerinduanmu Ya Rasulullah

Untuk harapkan berkah Jannah

Untuk harapkan syafaat di Padang Mahsyar

 

Aku cemas…

Zibdah umi arfiraOct 29, 2018 4:25:49 PM

MERAJUK  PILU

:sweat_drops::sweat_drops::sweat_drops:

 

Betapa dua tiga hari ku tak bisa berandai

Daging pembungkus tulang lalai

Tiang badan lunglai

Tak sentuh nadi dalam belai

Sendi kan serasa bercerai berai

 

Dalam rayuan ngilu nan merdu

Pedih mata jemari beradu

Getaran senandung kepedihan bertalu

 

Oh..nyanyian hati ini pilu

Kerlingkan jiwa dalam rindu

Palingkan pujangga bermadah biru

 

Tuhanku.

Hanya padaMu aku mengadu

Engkau penerang jiwaku

Permata hati, pengobat rindu Yang mendayu, sayu dan merayu

 

Senin, 29-10-2018; 15.47

Fitria LindaOct 29, 2018 8:50:32 PM

KULI

 

Oleh : Fitria Linda K.

 

 

Tulang belulangku remuk

Tercampur semen teraduk

Panas peluh berderai keringat bau

Punggungku bertumpuk batu batu dan batu

 

Diriku kuli

Memanggul beban mencari nasi

Sebungkus nasi walau basi

Tetap kutelan untuk perut agar terisi

 

Hendak kulempar raga

Namun menanti meregang nyawa

Apa daya iman masih melekat jiwa

Ikhtiarku kusangga dan kujaga

 

Mengais sembari menangisi

Sisa lauk tetangga yang diberi

Cukup mengisi perut anak istri

Kutahan perih perut kulilit kerikil ini

 

Tuhan

Masih menguji

Yayah KOct 29, 2018 9:00:09 PM

Tugas ke 2 (puisi Ekspresionisme 2)

 

 

DI BALIK KAMUFLASE

Oleh Yayah Kurniyah

 

Sekiranya hidup dalam sangkar kamuflase

Sekali lagi terjebak dalam harapan terhadap sesama manusia

Hhhhh… Sungguh tak dapat menghindarinya

Menyakitkan

 

Kekecewaan bertubi-tubi

Membukit menggunung merapi

Duhai sang durjana berhentilah

Berhentilah

Hentikan langkah

Sebelum sisa kesempatan berakhir sudah

Diluluh-lantakkan letusan bom api

Yang terbukit tergunung olehmu sendiri

Ibarat senjata

Memakan tuannya

Menjadi laknat atas hidup yang tak kau hirau esensinya

 

Ia tak mengutuknya

Atas sangkar yang kau hadiahkan padanya

Namun tuhan tahu

Nafasnya sesak dihimpit jeruji

Meski tuhan membiarkannya pula

Sesak nafasnya makin memburu

Oksigen tak mampu menyusul memenuhi celahnya

Mengajarkan kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan

Meski sepahit empedu

 

Sekiranya hidup dalam sangkar kamuflase

Ia bersenandung layaknya abege tua yang kasmaran

Bukan sedang berdusta

Ia hanya berjuang melawan keluh

 

Indramayu, 29 Oktober 2018

Tugas ke 1 (puisi Realisme 1)

 

 

HUJAN PERDANA DI MUSIM INI

Oleh Yayah Kurniyah

 

Ini Kali pertama hujan di kampungku

Gemerentak suara air rahmat tersebar

Dihantar juga semliwir nikmatnya angin dingin

Mengobati rindu aroma tanah basah

 

Gemerentak suara air tersebar

Hujan perdana di musim ini

Walau sebentar

Isyaratkan perdamaian dengan penduduk bumi

Bahwa musim akan segera berganti

 

 

Indramayu, 22 Oktober 2018

Dhaniez JaberOct 29, 2018 9:05:36 PM

Tugas ke 2

 

WAKTU AKHIR (Dhaniez Jaber)

 

Bila surya nyaris tergelincir

Semua karya berebut…

Beradu waktu

 

Ketukan

Coretan

Hentakan

Berlomba dalam tujuan

 

Laksana semut mengangkut gula

Lempar ke atas

Singkirkan,

Dorong

Dan lepas..

 

Siapa kau…kuatkah…Sanggupkah hingga karyamu tergeletak dalam meja titian

Lakukan…dan lihatkanlah

Ihah ParihahOct 29, 2018 9:28:50 PM

Tugas 1_Ihah Parihah

Puisi Pengamen Jalanan

 

Lemparkan saja satu dua rupiah dari sakumu tuan

Biar lagu kudendangkan

Tak lantas berharap banyak

Cukuplah sepiring nasi ku lahap

Atau sepotong roti mengganjal perut sebelum terlelap

 

Panas, hujan tak kuhirau

Mengejar bis satu satu bersuara parau

Berjejalan teriakan menghardik

Atau mata sinis melirik

 

Aku bukan penjahat , Tuan

Memaksamu berbelas kasihan

Karena hidup  bukan lagi pilihan

Apapun yang masih dapat aku lakukan

 

Nyanyianku tak selalu merdu

Atau bahkan dianggap mengganggu

Lewat suara seolah mengadu

Anggaplah do’a pada Tuhan yang satu

Erna SahwatiOct 29, 2018 10:03:37 PM

Tugas 2

Gejolak Rasa

Oleh Erna syahwati Telaumbanua

 

Kecewa,,marah,, sedih

Rasa bergolak dalam jiwa

Ketika sebuah jerih payah tak dihargai

Ingin rasanya berteriak agar seantero jagat ini tau

Kala menorehkan tinta harus membunuh rasa malu dan malas

Tidak,,,!!!

Ku tak ingin menyerah walaupun dipandang seblah mata

Ku ingin terus dan terus untuk menulis

Menorehkan tinta menabur rasa

hingga suatu saat ku tak mampu lagi untuk menulis

 

Jambi, 29.10.2018

Onyah JhOct 29, 2018 10:16:06 PM

Nestapa Si anak Haram

 

Karya : Noni Rahmadaniah

 

 

Hening tak lagi tawarkan damai

 

Mencekam seiring tangis kesakitan

 

Tetesan darah tak jadi penghalang

 

Melangkah dengan wajah yang pias

 

Ketakutan melumat kasih sayangmu

 

Tanpa iba, tanpa kasih, tanpa cinta

 

Tangan yang bergetar namun menguat

 

Terulur pasrah namun penuh kekejaman

 

Ratapan lirih seakan membuat tuli

 

Tatapan surga seakan sebuah neraka

 

Kulit memerah tak menarik resah

 

Kalah oleh naluri binatang

 

Pergi tanpa menoleh

 

Menangis namun tak bergeming

 

Tertatih tapi tak mampu berhenti

 

Dingin tak mendekap iba

 

Nalurimu koyak tak berbekas

 

Bengis menyelusup di wajahmu

 

Demi kesenangan sang kumbang

 

Kembali bebas menghisap madu

 

Semesta mengutuk dengan murka

 

Menjadikan hujan sebagai saksi

 

Tumpah penuh amukan angin

 

Dingin menusuk tulang yang tak berdosa

 

Terbujur lemah menarik empati

 

Berdecak mencari setetes air kehidupan

 

Namun sang pemberi sudah melangkah jauh

 

Membebaskan diri dari cela dan hinaan

 

Ringkih tapi tak menyerah

 

Melengking penuh rasa lapar dan sakit

 

Berharap angin menyampaikan kabar

 

Kepada penghuni di penjuru malam

 

Bicara hanya mampu lewat tangis

 

Seulas senyum penuh makna

 

Terima kasih kepada sang angin

 

Yang menjadikan takdir berkata lain

 

Sebuah pelukan menghangatkan jiwa

 

Riuh penuh sumpah serapah

 

Ada kasih yang terulur penuh tanya

 

Membuat takdir berlabuh entah kemana

 

Aku menyulam takdirku

 

Di bawah naungan belas kasih

 

Sampai saatnya tiba menyibak kabut

 

Tertunduk lesu menyeruak tangisan

 

Anak pungut…

 

Anak buangan…

 

Dan ada kata yang jauh lebih mengiris

 

Anak haram…

 

 

 

Melekat sambil menyandang malu

 

Tak berdosa namun melekat noda

 

Meski melebur pada dekapan keluarga tak sedarah

 

Tak menjadikan noda menjadi bersih

 

Tapi taukah kau surga duniaku

 

Di sini ibu yang tak kutempati rahimnya masih bisa ku sentuh dan ku peluk

 

Tapi ayah yang sudah memberiku ruang

 

Tak mampu ku rengkuh, terhalang kata tak sedarah

 

Bisakah kau bayangkan deritaku

 

Ketika aku rindu pelukan ayah

 

Kemana aku harus berlabuh…

 

Kemana aku harus menyentuh

 

Bisakah kau lihat raut kesedihan si anak haram

 

Jika seorang gadis yang nasabnya harus jatuh kepada ibu

 

Saat menikah rona bahagia menjadi rona merah

 

Menahan malu yang melebur dalam isakan pilu

 

Oh surga duniaku…

 

Sepanjang hayat sebutan anak haram

 

Menjadi takdir yang tak bisa dirubah

 

Cukuplah aku yang melekat noda dari rahimmu

Sebuah Harapan

 

 

Adakah setitik saja asa itu untukku

 

Sebagai ganti sabar dalam menanti

 

Adakah cahaya itu dalam relungmu

 

Hingga tak gelap merengkuh takdir

 

 

Jiwa yang terbiar kosong

 

Menyeruak angkuh melenyap doa

 

Restukah yang kau tunggu

 

Dari surga dunia yang kian ringkih

 

 

Lihat aku…

 

Seonggok raga yang tak bertuan

 

Mengais diantara isak harapan

 

Bersujud mengharap belas kasih

 

 

Tuhan…

 

Maaf atas segala keluhku,tangisku.

 

Terlalu banyak pinta yang terucap

 

Karena tak ada kuasa dalam diri

 

Berserah meski diambang pasrah.

 

 

Seruyan, 18 Oktober 2018

Prapto Pujo YuwonoOct 29, 2018 10:16:23 PM

Derita

By pujo jenggot

 

Letih

Perih tertatih-tatih

Pedih

Sedih batin batih

Risau

Kalau kacau balau

Gelisah

Resah kala berpisah

Lemah

Lemas di rumah

Malas

Kabar tiada balas

Biarlah begini

Jangan kau tangisi

Biarkan saja

Semua telah tiada

Berlalu sudah

Hidup tanpa faedah

Berdoalah

Sirnakan semua masalah

 

#bumi renganis, 291018

Hadi WOct 29, 2018 10:16:26 PM

BIDUWAN

Oleh:Hadi

 

Kalah sakit

Menitih harapan semuku

 

Suara berbisik

Rasanya terdengar merdu

 

Batin tersiksa

Akan terobati bidumu

 

Walaupun pahit

Suaranya tetap merdu

 

Biduwan juga manusia

Wanitapun basah tertawa tersipu

 

BEDCOVER.29102018

Erni EkawatiOct 29, 2018 10:15:21 PM

Tugas 1

 

Kadaluarsa Rindu

Oleh : Neldawati

 

Gumpalan asap putih membumbung tinggi

Berarak arak ke awan

Musim berganti dengan pasti

Kenangan pahit menanti

Tersekat di relung hati

Janjinya aku di puja

Namun bathin tersiksa

Kadaluarsa rindu menerpa

Semua telah berkelana

Haus hilang

Mualku melanda

Rindu mu untuk dia

Kadaluarsa sudah rinduku

Kini telah punah

Menjamah jiwa yang kini gundah

 

Sijunjung, 29-10-2018

Tugas 2

 

Tertipu

Oleh : Neldawati

 

Terbuai diriku pada senandung merdu

Sejuk di dada

Merayu di kala pilu

Resah tak ku rasa

Terpana ku dengan kata

 

Sedetik aku tak berkutik

Meradang asa yang terusik

Luluh lantak angan yang ada

Terbang bersama desah durjana

 

Tertipu…….

Tertundukku lesu

Kini lidah ku kelu

Kau siram asam cuka

ke dadaku yang terkoyak

merintihku karena tersentak

Ternyata kini ku tertipu

 

Sijunjung, 29-10-2018

ROSEOct 29, 2018 10:37:04 PM

Desau jiwa

Oleh: Rubaidarose

 

Hanya berandai-andai

Dalam gemuruh hati kian landai

Bayangan diri kian gontai

Saat melintasi hari

Penuh dengan janji-janji

 

Janjiku pada mentari

Saat dia berpijar

Langkahku mulai berselancar

Menepati janji yang kugeluti

 

Janjiku pada buah hati

Mengasihinya sepenuh hati

Membuatnya tersenyum

Dan melupakan mimpi mimpi yang tak pasti

 

Andai saja

Wajah manismu

Masih di sini

Menemani pergantian hari

Menutup daun jendelaku

Saat malam bernyanyi

 

Desah kian merajai hati

Selimuti lelahnya meniti mimpi

Membasahi tebalnya dinding misteri

Haruskah dalam keluh yang kian mengawah

 

Saat kaki mulai kaku

Kebekuan raga melucuti

Bara asmara terpenjara

Mata hati tak bermuara

 

Letihnya

Saat tak lagi ada senyuman

Pengantar mimpi

Di sudut bibir jalan sepi

Terbiar

 

Kuansing, 29102018`

Min RosminiOct 29, 2018 10:39:58 PM

INDONESIA OH INDONESIA

Oleh : min rosmini

 

 

Inilah negeri kita, negeri penuh luka

Negeri yang tak hentinya berduka

Digerogoti keserakahan yang terus meraja

Orang-orang kecil menanggung akibatnya

Nampak jelas di sana

Enaknya mereka menari-menari di atas derita

Sedang di pinggiran dan pelosok kian nestapa

Inilah negeri kita, negeri yang katanya kaya

Apa daya nasib kita yang jelata

 

Orang-orang besar berpesta pora

Habislah sudah kekayaan kita

 

Inilah negeri yang katanya tentram

Nyatanya kini semakin kejam

Di mana-mana perang kekuasaan

Orang-orang kecil makin terpinggirkan

Nyeri mereka makin terlupakan

Engkau hanya sibuk janji dan beriklan

Sedangkan realisasinya sebatas ilusi

Inilah negeri di mana mimpi takkan terbeli

Aku takut bagaimana anak cucuku nanti

 

 

 

Jakarta, 29 Oktober 2018

Fitria LindaOct 29, 2018 10:51:43 PM

Panggilan Kalbu

 

Oleh: Fitria Linda K.

 

 

Usaikan risau bergelut dengan situasi

Masih ada pundak perkasa memanggul bebanmu ini

Biar gemuruh ciutkan nyali

Dekap lembutnya kuatkan hati

 

Lelah bukan hentikan hari

Berpendar sentir berpijar bakti

Ringkih bersarang diperaduan malam

Cukup mengadu pada pencipta kalam

 

Raut mimpi menggantung berumbai-rumbai

Menghias rona selendang penari

Melenggangkan karya bertulis dari sanubari

Pengobat rapuh dan sendu hati

 

Candu memikat makna surgawi

Membelit berjinjit meminang bidadari

Menjamu titian Illahi

Berharap bersanding Rasulullah kelak di akhirat nanti

 

Blitar, 29-10-2018

Erni EkawatiOct 29, 2018 11:08:53 PM

Pertemuan yang dinanti

Oleh : Si Comel Cantiiik

 

Melesat waktu

dari busur panahnya

Di pucuk pandang

mata yang mengincar

Tameng kerinduan

terkemas manis

dalam peti emas

hati si empunya

Ditunggulah

dalam hitungan waktu

yang dijanjikannya

dari pesan pembangkit asa

Karamkan mimpi

dari pembaringannya

Buncahkan bunga keyakinan

Siapkanlah

Untuk sebuah pertemuan yang dinanti

 

Gunungkidul, 29-10-2018

Vera HOct 30, 2018 7:23:39 AM

Obrolan di Angkot 52

Oleh : Vera Handayani

 

Sore itu

Ketika ku hentikan

Laju angkot 52

Ku lihat telah duduk

Dengan santai

Dua orang gadis zaman dulu

Sedang asyik berceloteh

Tentang hiruk pikuk dunia pendidikan

Yang semakin hari semakin semu

Detik-detik berdarah

Ketika anak Sang gadis

Menjadi korban tauran pelajaran

Berhasil merobek hatinya

Tanpa malu, di hadapanku

Sang gadis zaman dulu meneteskan air jiwa

Mengenang anaknya

Dengan wajah penuh darah dan

Kepala yang hampir pecah

Entah terpukul benda apa?

Korban produk gagal pendidikan

Obrolan yang menghiru-birukan hati sang gadis

Diiringi rintik hujan yang tak kunjung henti

Di ujung hari yang penuh duka

 

Bogor, 29 Oktober 2018

Kalian Bukan Anak Bawang

Oleh: Vera Handayani

 

Anak bawang…

Kalian bukan anak bawang

Apa yang kalian lakukan hari ini

Adalah hal yang mulia

Sehingga tak perlu tundukan kepala

Prestasi yang kalian ukir

Adalah bukti

Kalian patut untuk dipertimbangkan

Semangat yang kalian kobarkan

Adalah tak patut

Untuk dipadamkan

Ayo mujahidku…

Ayo….!

Kejar cita-cintamu

Istiqomah hingga husnul khotimah

 

Bogor, 29 Oktober 2018

Melani HafizahOct 30, 2018 8:33:13 AM

Ajal

Oleh: Melani Hafizah

 

Seperti pedang dia datang

Menghampiri setiap insan

Tak ada yang mampu menghalang

Saat ajal datang menjelang

 

Jasad membeku dalam diam

Menjemput kegelapan

Tanpa ada kawan

Berselimut penantian

 

Celakalah bagi insan

Yang tiada persiapan

Sesal diri yang berkepanjangan

Terkenang dosa yang

bergelimpangan

 

Menangis mayat di dalam kubur

Tiada teman yang menghibur

Nasi sudah menjadi bubur

Tubuh hancur babak belur

Menanggung siksa kubur

 

Takengon, 29102018

Ami SOct 30, 2018 1:46:45 PM

Tugas 2

Kembali

By : Ami

 

Malam sunyi

Hanya angin berbisik

Daun-daun bersentuhan

Suara binatang malam

Jauh terdengar

Rasa dingin semakin kelu

 

Kurebahkan tubuh dipembaringan

Pejamkan mata nikmati malam

Menyentuh mata dan hidungmu

Terjatuh dalam hangat pelukmu

 

Malam makin sepi

Kau hadir dalam mimpi

Tak kulepas genggam jemari

Rengkuh aku dalam kehangatan

 

Bila malam pergi

Tinggalkan mimpi

Langkahmu pelan tapi pasti

Tinggalkan diri tetap disini

Dan tak tahu kapan kembali

 

Cibinong, 30 Oktober 2018

Ami:

Tugas 1

Sirna

By : Ami

 

Pagi ini

Terasa sepi

Sunyi sendiri

Hanya puisi menemani

 

Harusnya kutumpahkan

Kesal ini

Pada lembaran daun kering

Yang jatuh dimusim gugur

 

Menyepi disini

Mengubur luka

Yang himpit kalbu

 

Pagi sepi

Berikan kesejukan nurani

Kan kusiram sedih

Kuajak bernyanyi

 

Pagi ini tak rasa sepi

Karena ketemukan

Sebaris puisi

Penguat hati

 

Cibinong, 30 oktober 2018

Dedi GdnOct 30, 2018 2:14:13 PM

WALAU HANYA SEKEJAP SAJA

Di tempat ini

Aku merasakan suatu ketenangan

Yang tak ku dapatkan di tempat lain

Sungguh aku mengalaminya

Semilir angin berhembus sepoi-sepoi

Mengibaskan janggut yang tergantung beberapa helai dibawah daguku

Tubuhku begitu lelah

Tiga hari belakangan ini

Aku tak tahu mengapa

Mungkin aku butuh istirahat sejenak

Dari pekerjaan rutinku

Aku ingin nikmati suasana di tempat ini

Walau hanya sekejap saja

Allah hanya Engkau tempat aku mengadu dan meminta

Engkau tujuan akhir hidupku

Bimbinglah hambaMu ya Robbi

Menuju jalanMu

Amin

Karimun,30102018

Pukul 14.19 wib

Edeh IainOct 30, 2018 3:44:02 PM

Tugas 1 Puisi ekspesionisme

 

DI UJUNG PENANTIAN

 

Waktu tlah berlalu

Terabaikan tak bermakna

Ku coba tuk bertahan

Walau hampir karam

Dalam sebuah penantian

 

Kuurungkan niatku

Tuk beranjak dari kursiku

Hanya tuk penuhi janji

Yang tlah disepakati

 

Kutunggu dan kutunggu

Namun tak kunjung tiba

Rasa kesal, resah dan gelisah

Tertumpah dalam jiwaku

Menelan kesabaranku

 

Ku tanya dinding yang bisu

Ku tanya cermin yang sinis

Seakan mengolok-okok

Bungkam tanpa kata

 

Waktuku terbuang sia-sia

Di tengah hiruk pikuk

Kesibukan dalam

Tanggungjawabku

Terlewatkan tak berarti

 

Tuhan..

Ku tak bermaksud

Ingkar atas FirmanMu

Tuk sia-siakan waktu

Ku hanya taati titahMu

Tuk tepati janji.

 

Ku serahkan

PadaMu.

 

Cirebon, 30 Oktober 2018

Ifat SitiOct 30, 2018 4:20:19 PM

Tugas 2

Ekspresionisme

 

Jenaka dalam jelaga

 

Hahaha..

Dahagaku kian membuncah

Kukejar hingga terkapar

Kudekap dalam pengap

Kugapai hingga lunglai

Sudah kuduga

Begini akhirnya

Lara menjelma….

Hahaha…

Tawa menerpa

Sungguh jenaka

Bercermin dalam jelaga

Betapa hina

Diri ini hina dina

Sudah kuduga

Beginilah akhirnya..

Berhenti!

Berhentilah sekarang juga

Lihat dirimu!

Sungguh jenaka

Bahkan jelaga pun tertawa

Hahaha

Hidupmu sia-sia

Sementara dia hanya jelaga

Tak ada hisab untuknya

Kamu?

Berhenti!

Berhenti saat ini juga

Hapus jelaga itu

Sebelum engkau mati

Kembali pada illahi..

 

Sumedang. 30.10.18

ROSEOct 30, 2018 4:43:06 PM

Birai Janji

Oleh: Rubaidarose

 

Kejujuranku

Menusuk hatimu

Sebab

Satu pintaku

Pelangi datang

tersenyum

Padaku

Kau

Diam terpaku

Pada paras baru

 

Kau katakan Wajahku

Seolah rembulan malam

Berpijar saat hatimu

Dirundung rindu

 

Namun

Dalam sepi

Gelap kian mencekam

Tubuhku dipeluk alam

Mengigil dan kedinginan

 

Selaksa petir menyambar

Teriakan memgelegar

Membuyarkan anganku

Dan tersadar

Kau hilang terkikis

Hanyut bersama rasa

Kehambaran bercinta

 

Tutur kata

Semakin menyayat hati

Luka dalam

Kudapati

 

Biarlah

Seisi alam tertawa

Melihat kehancuranku

Namun aku setia menanti

Meski tak ada kepastian

Darimu

 

Kuansing,30102018

Fitria LindaOct 30, 2018 6:00:16 PM

Sabda Janji

 

Oleh: Fitria Linda K.

 

 

Masih bersandar di sini

Sedetikpun tak pungkiri

Hati masih merindui

Cumbuan kasih kinanthi

Bergumam berjibaku serpihan hati

 

Patah luluh lantah

Hancur berkeping-keping

Meskipun batin perih

Lebur berdebu terbang dan terguling

Janji tetaplah janji

Ikhtiar bakti suci

Penikmat cinta surgawi

 

Wahai bidadari

Lihat pujangga terkapar kini

Terseok-seok menggapai wajah ayu

Meminang sembari lebam mata sayu

Sisa derai tangis hilangnya selendang putri

Ahh…

Ironi…

 

Sabda janji

Tembang tritisan pilar bakti

Sabda janji

Untuk Illahi

 

Blitar, 30-10-2018

Ihah ParihahOct 30, 2018 6:56:25 PM

Mantra Sakti

Oleh: Ihah Parihah

 

Dini hari yang menggigil…sepi

sunyi

menghadirkanmu dalam bayangan

mencekam

begitu nyata

memagut indah

semu

selaksa duka

bermakna suka

ada tangis

dan senyum

tak apa…

kau mendekat

menakutiku…

dengan aroma mistis dan mantra menghanyutkan

terasa tubuh mengangkasa

menghangat

memutar

membuat limbung aku jatuh

merangkak tak berdaya

dalam sepi

dengan nafas terengah

melemah

kemudian diam

senyata indah

mantra berhamburan

nyanyian pujangga merindu dendam

menyayat

mengiris

meringis…diam..

dalam kenikmatan

kemudian kau menghilang

dalam gelap dini hari

dan hembusan angin

meninggalkanku…

 

 

(Tangerang 30 Oktober 2018)

Murniati YetOct 30, 2018 7:12:48 PM

Tugas 1

Deru angin semilir yang berlalu

Mendesah lembut ditelinga

Diikuti kelopak mata yang mulai lelah atas kerja

Mengajak jiwa untuk sejenak  istirahat atas urusan dunia

Memenuhi panggilan Ilahi Rabb agar bersegera

Melepaskan diri dari rutinitas dunia yang membuat diri kadang lupa

Atas tugas yang diemban

Padang, 30 Okt 2018

Tugas 2

Oleh: Murniati

AKU

Aku adalah aku

Dengan segala kekurangan yang ada

Cukup sudah kezaliman ini

Cukup sudah penindasan

Tidakkah kalian belajar bagaimana bumi luluh lantak?

Tidakkah kalian jera?

Bermain-main

dengan rakyat jelata

Apa belum cukup Allah memberikan pelajaran?

Masihkah kalian mempermainkan rakyat jelata?

Dengan dusta…

dan kebohongan…

Dengan Riba…

Dengan kemusrikan..

Dengan kemunafikan…

Memberi fatamorgana.

Haruskah rakyat yang tak berdosa menjadi korban?

Aku hanyalah manusia biasa dengan segala kekurangan yang ada

Yang sedang belajar menjadi Hamba Allah

Aku hanya sanggup

Berkata-kata dalam untaian kata

Yang mungkin tak pernah kalian baca

Tapi aku akan

tetap berkata

Meski pun kehabisan

Kata

Aku hanya sanggup

Berkata agar kamu

Memahami isyarat kata

Padang, 30 Okt 2018

Kisworo VikiOct 30, 2018 8:39:52 PM

Buruh Tani

 

 

Pagi buta telah tiba

Lantang ayam jago bersuara

Seorang lelaki memanggul cangkul tua

Bertelanjang kaki menelusuri sawah

Bukan sawah sendiri tapi pekerja sewa

Tanpa hirau apalagi impikan hidup mewah

Keringat bercucuran dalam sengatan mentari

Guratan kuat otot tangan maupun kaki

Dari mulai menanam hingga bibit padi yang elok tersemai

Makin banyak tersemai sempurna makin padat kantong terisi

Oh Tuhan aturlah musim sesuai rencana petani

Cukup air cukup sinar mentari

Bukalah pintu rizki MU untuk kami

Kami buruh tani yang andalkan rizki dari padi

Kami tiada lahan dan bekerja di sawah majikan

Tanpa panen yang bagus kami  tak bisa bayar kesehatan tak bisa bayar pendidikan bahkan tak bisa makan

Kerja keras dan memohon sepenuhnya kepada Tuhan

berharap lahan tak berubah pula jadi perumahan

 

Indramayu lumbung padi  negara kesatuan

 

30-10-2018 ( KISWORO PH )

Terang Batin

 

Oleh : KISWORO PH

 

Dalam keheningan malam

Ku larut dalam nikmat berdiam

Berdiam dzikir mengganti kelam

Bertamu dan mengadu kepada Allah Sang pencipta alam

Puja puji dilantunkan seraya khusyuk kirim doa leluhur

Perlahan batin terbuka terang menuju budi yang luhur

Filosofi hidup akan terbuka dan tumbuh subur

Kuat batin menatap sempurna meski mata mulai kabur

Sungguh istimewa ibadah sepertiga malam

Muka cerah tanpa raut muram

Hidup lebih bersemangat jauh dari masa depan suram

Terang batin hindarkan kita dari perilaku temaram

Semua dosa hilang juga monster seram

 

Indramayu, 30-10-2018

Onyah JhOct 30, 2018 9:57:18 PM

Yang Teristimewa

 

Tasya… Kau di panggil

Gadis cantik dengan senyum manis

Seorang anak yang luar biasa

Walau Bisu dan tuli menjadi duniamu

 

Nak…

Sekolah menjadi taman bermainmu

Meski sayup pendengaranmu

Meski gagu ucapanmu

 

Semangatmu tak pupus

Membaur pada sekolah yang bukan bagianmu

Menulis walau hanya bentuk coretan tanpa makna

Berbicara walau hanya dengan gerakan jari

 

Maafkan ibu nak…

Yang terkadang tak memahami bahasa isyaratmu

Tapi semua itu tak membuatmu terusik

Karena senyum selalu melekat di wajahmu

 

Seruyan,  30 Oktober 2018

Edeh IainOct 31, 2018 6:10:05 AM

MENTARIKU

 

(Tugas 1 Puisi Realisme)

 

Oleh : E. Sukaedah.A

 

Mentariku

Tak biasanya

Kau menunduk

Seakan kau malu

Tuk nampakkan wujudmu

Seakan kau ragu

Tuk melempar cahyamu

 

 

Tak biasanya

Kau bermuram durja

Sembunyi di balik awan

Yang berkejaran

Seakan berontak

Menghadangmu

 

Mentariku

Kau tak lagi bersahabat

Hangatmu tak kurasa

Cahyamu tak menyapa

Kicau burungpun

Bertanya-tanya

Kenapa kau masih tertidur

Lelap

 

Mentariku

Mana pesonamu

Mana kehangatanmu

Yang setiap hari

Keu tebarkan

Ke seluruh alam

 

Peluh mengucur

Di tubuhku

Kini kau ganti

Dengan gigilan

Karna tanpa sapuan

Hangat dan ceriamu.

 

Tapi

Kau tetap mentariku

Kau tetap mentariku

 

Cirebon, 31 Oktober 2018

Ifat SitiOct 31, 2018 7:25:46 AM

Selesai

 

Selesai..

Semuanya selesai

cukup selesai di hati ini saja

Tak perlu lagi dibahas

Ataupun diingat

Maafkan tanpa diminta

bebaskan!

Lapangkan!

Maka tak ada lagi kemelut itu

Bahkan Allah bilang…

Memaafkan pun harus lembut

Tak boleh menyakiti hatinya

Walaupun hati ini sakit olehnya

Indah bukan?

Ya…

Berakhir dengan indah

Maka selesailah sudah

 

Sumedang, 8.7.2018

 

Puisi eksoresionis yg dibuat bulan juli lalu

Edeh IainOct 31, 2018 8:28:39 AM

E.Sukaedah A:

 

CUMA TIGA HARI

 

Cuma tiga hari

Kita tak sua

Cuma tiga hari

Kita tak saling pandang

Cuma tiga hari

Kita tak makan bersama

Namun setiaku tetap

Terpatri

Amanahmu slalu terjaga

 

Tiga hari ?

Aah cuma tiga hari

Namun tiga hari

Cukup membuat hati

Merindu berat

Seberat rasa ini

Yang hampir tiba

Di penghujung waktu

 

Kini ku t’lah kembali

Tuk merenda kata

Bersamamu

Dalam buaian  cinta

Bercerita penuh tawa

Nan harapan nyata

Penuh doa tuk

Slalu bermasamu

Atas ridloNya.

 

Cirebon, 27 Oktober 2018

Fitria LindaOct 31, 2018 11:13:39 AM

CUMA KAMU YA KAMU

 

Oleh: Fitria Linda K.

 

Tergurat lengkung senyuman

Paras menawan berpayung awan

Memandang tiada bosan

Berkisah cinta diantara krisan

 

Punai itu bertuah merdu

Memadu kasih dibawah rindang perindu

Membuaiku hanyutkan pilu

Terbuai rayu selegit madu

 

Masih kusandarkan kepala dibahu

Bahu yang kokoh menahan sendu

Seakan menahan beban fikirku

Menembus pandang cakrawala kalbu

 

Kamu…

Ikhtiar hidup peraduan rindu

Walau terpisahkan letak dan waktu

Ku nanti kamu

 

Cuma kamu…

Hijrah terakhirku

Setelah lama aku merantau

Berlabuh dengan sekoci mungil cintaku

 

Ya kamu…

Pamungkas kekuatan kalbu

Merintih menahan rindu

Berbelukar perih duri perdu

 

Cuma kamu ya kamu…

Belahan jiwaku

Pendampingku

 

Blitar, 31-10-2018

Vera HOct 31, 2018 3:03:06 PM

TKI

Oleh : Vera Handayani

 

Kau pergi jauh dari rumah

Titipkan hidup di negeri para raja

Setahun dua tahun

Entah suka entah duka

Kau berdalih

Ingin ubah sang nasib

Mengumpulkan pundi rupiah

Yang menggelitik hati

Setelah tiga tahun

Dan kau kembali

Tanpa jasad, tanpa rupiah

Hanya fitnah dan deret kata tak ku kenal

Sebagai pengantar kabar

Kau telah tiada meninggalkan nama

Yang tidak lebih dari tiga puluh tahun kau sandang

Nama yang ditunggu

Nama yang didapat dari mantra sakti

Ibu dan Bapakmu

Nama yang kini terpatri abadi

Dalam sebuah nisan

 

Bogor, 31 Oktober 2018

NazariahOct 31, 2018 6:45:56 PM

Tengku Nazariah:

 

*Perempuan Berwajah Rembulan*

 

Perempuan berwajah rembulan

Yang menengadah melempar berjuta harapan

Pada rinai hujan yang berlomba  menyibak awan

Tergesa turun menitipkan tangis luka atas duka yang tak tertahankan

 

Perempuan berwajah rembulan

Yang tenggelam dalam rintihan tertahan

Atas hilangnya sandaran jiwa yang tertelan bumi

Di tengah likuifaksi yang menerjang di temeram senja

Lukanya tak lagi mampu mengurai

Terbenam dalam lara yang tak teraba

 

Perempuan berwajah rembulan

Yang tertunduk mencoba mengais harapan

Diantara puing-puing kehidupan

Tersebar tanpa tau memilah

Antara ada dan tiada

Dalam asa menjelaga

 

Perempuan berwajah rembulan

Tinggal sendiri dalam jeratan waktu yang membelenggu kuat tanpa batas

Membekap dalam malam-malam panjang

Membenamkan harapan tak bertepian

Teronggok disudut dunia tanpa asa

sepi

Sendiri

Menengadah Sang Kuasa

Berharap Tangan Sang Kekasih menggapainya ke Nirwana Cinta

Abadi di sisi NYA

 

*Tuk saudaraku di Palu sekitarnya*

Erna SahwatiNov 1, 2018 12:54:51 AM

Tugas 1

Puisi Realisme

 

Judul puisi  Rindu

 

Malam semakin larut

Larut malam melarutkan

Anganku tentangmu

Menunggu demi sekeping rindu

Menembus tirai yang tak berujung

Malam semakin larut

Dirimu tak kunjung datang

Walau hanya sebatas kabar

Malam semakin larut

Menggulung rindu yg tak bertepi

Bagaikan cinta yang tak bertuan

Merintih dalam sepi

 

Erna syahwati Telaumbanua

Jambi, 011118

Edeh IainNov 1, 2018 4:04:55 AM

Tugas 1 Realisme

 

Pagi buta ku tutup rapat

Pintu gerbangku

Ku ayun langkah kakiku

Tuk tunaikan amanah

Acara rakor provinsi

Yah lelah memang

Tapi itulah tugasku

Urusan duniaku

Urusan akheratku

Keduanya

Saling memadu.

 

Alunan musik mellow

Menambah suasana

Kebekuan hati

Yang bersembunyi

Dibalik dinginnya tubuhku

Namun

Semangatku tetap

Berkobar

Membakar dinginnya

Kulitku yang serasa

Menipis

 

Cahya lampu di jalanan

Bak menari-nari

Seakan tersenyum

Sambil berkata

Dan berdoa

Pagi ini memang indah

Pagi ini memang khidmat

Pagi ini penuh berkah

 

Daun-daun pun

Melambai mesra

Terhempas

Buaian lembut

Sang bayu

Menyambut

Langkahku

Sambil berbisik

Dan berdoa

Pagi ini memang indah

Pagi ini memang khidmat

Pagi ini penuh berkah

 

 

 

Cirebon, 1 November 2018

Dalam perjalanan Cirebon-Garut

E.Sukaedah A:

Tugas 1 Realisme

 

PAGI YANG BERKAH

 

Oleh : E.Sukaedah.A

 

Pagi buta ku tutup rapat

Pintu gerbangku

Ku ayun langkah kakiku

Tuk tunaikan amanah

Acara rakor provinsi

Yah lelah memang

Tapi itulah tugasku

Urusan duniaku

Urusan akheratku

Keduanya

Saling memadu.

 

Alunan musik mellow

Menambah suasana

Kebekuan hati

Yang bersembunyi

Dibalik dinginnya tubuhku

Namun

Semangatku tetap

Berkobar

Membakar dinginnya

Kulitku yang serasa

Menipis

 

Cahya lampu di jalanan

Bak menari-nari

Seakan tersenyum

Sambil berkata

Dan berdoa

Pagi ini memang indah

Pagi ini memang khidmat

Pagi ini penuh berkah

 

Daun-daun pun

Melambai mesra

Terhempas

Buaian lembut

Sang bayu

Menyambut

Langkahku

Sambil berbisik

Dan berdoa

Pagi ini memang indah

Pagi ini memang khidmat

Pagi ini penuh berkah

 

 

 

Cirebon, 1 November 2018

Dalam perjalanan Cirebon-Garut

Kisworo VikiNov 1, 2018 4:47:19 AM

Lion air

 

Burung besi merah nan gagah

Melintasi langit biru perkasa

Primadona biaya murah

Terbang tinggi armada mewah

 

Sayang seribu sayang…

Tiada imbang keselamatan terbang

Berkali kali masalah datang

Membuat pemakai jadi bimbang

 

Singa bersayap terbang mengangkasa

Sungguh indah terbang perkasa

Mengapa? masalah selalu bersama

Serasa enggan lepas dari trauma

 

Oh pemerintah perketatlah regulasi terbang

Jangan ada hukum yang tak berimbang

Cukup sudah nyawa melayang

Mereka Ingin ucapan selamat datang

 

Kisworo PH

Indramayu, hari pertama di bulan Nopember 2018

SHAFIYYAHNov 1, 2018 9:43:26 AM

Tugas 2

 

AMNESIA

 

Aku merayu, menyuruh menyapa sepertiga waktu

lalu pura-pura amnesia ketika kristal kristal malam memaksa

debu debu itu tunduk.

lupa tersungkur ke lantai landai memeluk sajadah

dan airmata bukan keni’matan menghamba lagi setelah perangai

juga ketika Waktu mulai membius pada bola mata yang tak ingin memihak

pada suara keluar tanpa tata krama

dan, mengutuk hati setelah ayat-ayat-Nya tak bisa lagi kukenal satu persatu

di lembar-lembar yang aku angkuh untuk menyapa

hingga terlalu gagap untuk sekedar say hallo

Kataku: aku akan kembali

Tapi, kini terdengar kabar pun tidak,

tentang janji-janji pada hati yang hampir luput pada pencipta-Nya

Mengirim kafilah kalimat rayuan untuk cinta-Nya abadi. Pun lupa.

Kataku: Jangan tinggal aku sendiri karena aku tidak punya tempat kembali

Hanya ungkapan kebisuan merindu yang tersesat .

 

SMD, 20181030

IdaNov 1, 2018 5:57:59 PM

Beri Aku Waktu

Ida Farida Nurani

 

beri aku waktu

merangkai kata cinta

mamadu kasih

wujudkan  khayalku yang terlalu indah

hadirkan mimpiku yang terlalu megah

 

aku menangis diam

kembali menghela napas

bagaimana aku memulai kata cinta dari lubuk hati

kata cinta dalam secarik kertas

untuk mereka yang menanti goresan pena dari mimpi

 

aku menangis diam

menunggu

mencari

bahkan memcuri ilham dari mimpi tersembunyi

 

aku malu pada mimpi

malu pada khayal

wujudkan janji cinta

untukmu sang pencinta literasi

kembali ku meminta waktumu untuk sedikit menanti goresan pena dari samg pemimpi

 

kuningan, 1 nov 2017 kenangan puisi ku tahun lalu mengejar that line penulisan buku .ini masuk puisi apa?

Hartini HamzahNov 1, 2018 7:39:33 PM

Suitan Jalan

 

Tertatih bersamamu

Menyusuri waktu

Yang enggang berlalu

Dari pandang matamu

 

Masih bersamamu

Berjalan di sisimu

Menekuni hari-harimu

Berdiri di sampingmu

 

Hari ini ….

Seperti kemarin

Tetap bersama di sisi

Menekuri jalan

 

Mungkin esok tak lagi sama

Tiada yang menemani berjalan

Entah ada rasa hampa

Yang tak lagi enggan berlalu

 

Jangan pernah berlalu

Tetaplah bersama

Walau mungkin waktu

Enggan lagi menyapa

 

Luwu Timur,

01 November 2018

Dhaniez JaberNov 1, 2018 8:12:16 PM

CELAMU (Dhaniez Jabeer)

Kupandang indah cahayamu

Kemilau ranum dalam pancaran

Surya terpancar petanda lembut hatimu

Getar genta bersambut membawa kisah

Sucinya ikatan meski tanpa pertanda

Jikalaulah hati ini besi

Jikaulah hati ini mutiara

Pastilah terasa kuat dan tetap bersinar…

Namun…..

Celamu buatku hilang rasa

Ucap sebuah nama buatku kecewa

Hatimu ada cela

Cela kau buat untuk sebuah asa

SMK N 1 USMANNov 2, 2018 6:32:17 AM

Tugas 1

Yakinkan

Oleh Usman Umar

 

Sore yang teduh sedikit gerimis meliputi kita yang sedang menikmati menu pisang Ijo tanpa es.

 

Mendung memang tak selalu harus mewakili lara tapi kutahu dirimu sedang ragu akan esok

 

Kita hanya perlu yakin bahwa hidup bukan semata soal memilih

Kita juga perlu yakin hidup bukan semata soal rasa

 

Hidup juga bukan perkara lama atau pun sebentar

Hidup bicara tentang siapa telah berbuat apa

 

Tak usah tanya untuk siapa kita dicipta

Juga tak usah tanya untuk siapa kita dilahirkan

 

Kita hanya perlu bertanya untuk apa kita diadakan

 

Hidup ini adalah senda.gurau  pun permainan

 

Cukup kah sudah jawaban

Atas tanya yang terus mengiringi hidup?

 

Kita kah yang memainkan hidup

Atau

Justru kehidupan yang memainkan kita?

 

Bermain dalam waktu yang terbatas tentu bukan main-main

 

Bermain untuk mengukir prestasi yang sejati

Bermain untuk hidup yang abadi

 

Langit mendung atau pun cerah tidak banyak berbeda bagi yang paham

 

Pahami lah untuk apa mereka hadir

Pahami lah mengapa ada langit dan matahari

Pahami lah mengapa ada udara.dan bulan

 

Bukan main indahnya hidup yang sejati

Hidup pemilik hati yang tak bertepi

 

Memilih lah dengan yakin

Laiknya memilih menu kita sore itu

 

Berau, 1 November 2018

Zibdah umi arfiraNov 3, 2018 9:58:25 AM

Tugas 1

 

BELAJAR IKHLAS

 

Sadarkah kita tak pernah memiliki apapun

Kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?

Sepatutnya bersyukur atas segala yang kita miliki

Karena ketika kita datang dan pergi

Tiada membawa apa-apa

Menderita karena melekat

Bahagia karena melepas

 

Demikianlah hakikat sejatinya kehidupan

Apa sebenarnya yang kita punya dalam hidup ini?

Tidak ada!

Bahkan nafas kita bukan milik kita

Tak bisa kita genggam selamanya

 

Saat kehilangan kembalilah

Ingatkan diri bahwa kita tidak punya apa-apa

Yakinkan “kehilangan” itu tiadalah nyata dan tidak akan pernah menyakitkan

Kehilangan hanya sebuah tipuan pikiran

Ke “aku” an itulah yang membuat kita menderita

 

Kita lahir tidak membawa apa-apa

Meninggal pun sendiri,  tak bawa apa-apa

Dan tidak ajak siapa-siapa

Sesungguhnya semua milik Allah dan akan kembali kepada Nya

 

Pati, 3 Nopember 2018

ChichiNov 3, 2018 6:04:44 PM

:fallen_leaf::leaves: W A N I T A :leaves::fallen_leaf:

Oleh : Chichie

 

Diammu membuat dia menjadi seperti butiran debu

Beterbangan kemanapun

Diammu membuat malam

Kian mencekam kosong tanpa cahaya

 

Diammu melumpuhkan hati jiwa berkelana

Diammu matikan semangat

Keringkan daun dan ranting musim hujan

 

Diammu penjarakan ego untuk menjadi sabar

Diammu menjadikan cinta tumbuh begitu sempurna

 

Diammu mengubah sifat buruknya menjadi bijak

Diammu adalah rasa khawatir dan kasih

 

Ohhhh wanita

Diammu membuat semua menjadi abu

 

Diammu adalah timbangan rasa

Betapa berharganya engkau untuk sepotong hati

 

Nbr,  28102018

WidatiNov 3, 2018 7:02:54 PM

Kecewa

 

Memoles wajah, abrakadabra

Bibir digincu merata

Pipi pun merona senja

Senyum tipis setengah dipaksa

Di depan kaca benggala

 

Gaun bagai cinderella

Seolah siap tuk berdansa

Memutar badan mencari cela

Ahh…. Sempurna

Gumam hatinya

 

High heels bagai selebritis

Langkah pasti menghentak bumi

Bresss…. Tangis mengguyur bumi

Tanpa permisi, basa basi tak terkendali

Kaki terhenti dan gigit jari

 

Ahhh…. Akhirnya gagal pergi

Ganti posisi kembali  ke kursi

Terdiam menyendiri merangkai hati

Harus bagaimana lagi???

Tak bisa menghadiri

 

Karawang,  3 November 2018

Saat gagal pergi.

Ifat SitiNov 4, 2018 7:43:24 AM

Di Tepi Kematian

 

Dalam diam

Hati ini…

Gersang

Tandus

Kering

Dan kerontang

Dahaga

Galau

Dan kacau

Hingga ke puncaknya….

Ingin meledak rasanya

Dari kejauhan

Terdengar sayup suara…

Astagfirullah.. Rabbal baroya…

Astagfirullah.. Minal khotoya…

Syahdu nan lembut mendayu

Ku mendekat dan tercekat

Ia…

Mengais

Mengaduh

Memohon

Dan merindu…

Buliran air mata itu

Membasahi wajah teduhnya

Ibu… Kaukah itu?

Apakah aku bermimpi?

Ibuuuu!

Tapi ia tak melihatku..

Ibuuuu!

Dimanakah aku?

Ia pun bersujud

bergumam dengan lirih

Yaa Allah hamba mohon…

Mohon dengan sangat..

Ampuni putra hamba..

Beri kesempatan untuknya

Perbaiki semua kesalahan

Bukakan hatinya

Lembutkan jiwanya

Sembuhkan ia…!

Yaa Rabbanaa…

 

Sumedang, 4.11.18

Rochani HandayaniNov 5, 2018 8:17:12 AM

Puisi tugas 1 – Realisme

 

Ini Tentang Bahagia

 

Bahagia?

Itu keinginan setiap manusia

Pasti aku ingin bahagia,

Kau ingin bahagia,

Dia ingin bahagia,

Kita semua ingin bahagia!

 

Bahagia itu bukan karena apa

Bukan pula karena siapa

Tapi karena kita menginginkannya

Kita yang menentukannya

Pada situasi apa saja

Terserah bagaimana kita menyikapinya

 

Jangan pernah salahkan siapa-siapa

Jika tak bahagia

Jangan pernah cari kemana-mana

Untuk bisa bahagia

Bahagia itu sederhana saja

Syukuri setiap cinta yang diberi-Nya

Yang mengalir deras dalam jiwa raga

Dan seluruh isi alam semesta

Menikmatinya

Mencipta rasa

Bahagia itu ada di sini!

Lahir dari dalam hati

 

Rcnani

Puisi 2 -ekpresionisme

 

Untuk Teman-Teman Media!

 

Sadarlah teman

Pekerjaanmu berperan besar

Pengaruhi pikiran

Tentukan penilaian!

 

Berita yang kau tuliskan

Liputan yang kau lakukan

Informasi yang kau sebarkan

Tayangan yang kau sajikan

Hasilkan pandangan

Orang bebas simpulkan

Jadikan pertimbangan tuk ambil keputusan!

 

Kau bentuk perangai!

Masyarakat beringas

Pembenci yang dengki

Mudah tersulut dan naik pitam

Termakan pemberitaan  berlebihan!

 

Jika kau mau,

Pekerjaanmu bisa buat bangsa ini maju

Berfikir cerdas!

Bersikap waras!

Mencinta bangsanya lewati batas!

Bukan kehilangan identitas!

Bangga pada budaya bukan negerinya

Kagum pada prestasi bukan bangsanya

Bercita-cita berkarya bukan untuk tanah airnya

 

Sungguh kau bisa!

Menebar inspirasi bagi bangsamu sendiri

Lewat informasi yang kau saji

Mengangkat kisah hebat anak bangsamu sendiri

Jadikan mereka punya harga diri

Ayolah teman!

Aku harapkan!

 

Rcnani

NazariahNov 5, 2018 3:24:59 PM

Puisi tugas 1 – Realisme

Tengku Nazariah

 

*Meriang*

 

Gementar..

menggeratak beradu..

Tak kuasa menahan gigil..

Menggigil..

Dingin tapi membakar..

Mata tak kuasa melempar asa

Terpejam..

Hitam..

Kelam..

Melempar godam..

Menekan kepala..

Merebut kuasa raga..

Goncangannya melimbungkan

Tak lagi mampu mengurai hasrat tuk bangkit

Tak kuasa meraih ingin..

Nyerih..

Tusukan tak terperih..

Segenap tubuh ini tak lagi mampu mengemas semangat ..

Walau tugas dan tanggung jawab menanti

Tubuh tetap ringkih,..

Bergelung…

Mencoba membuang sakit yg menghimpit..

Hhhhhh..

Hhhhhh..

Semoga segera bisa berselesa..

 

*10-9-2018*

Demam…

Tugas 2 : Ekspresionisme

 

*Kuingin  Kau Tau*

 

Nak…

Hari ini kembali kita bertemu

Di keheningan bcsuasana

Dalam kesyahduan pencarian insfirasi

Tuangkan geloranya pada tarikan kuas penuh ekspresi

 

Nak..

Seperti biasa

Kau masih juga asyik dengan duniamu

Dunia penuh huru hara

Dunia yang tak pernah mau mengalah

Dunia yang selalu menjadikanmu jumawa

Dunia yang tak peduli pada sesama

 

Nak..

Kau masih terus mengganggu

Masih terus meracau, mengacau

Kau tak jua mau berpadu dalam menuangkan aneka rasa dalam kanvasmu

Menjadikannya ledakan ekspresimu yg tak terkendali

Kenapa nak..

Malah kau heboh menebar angkara

Ekspresi jiwa teman2 mu kau tertawakan

Kau ganggu

Bahkan kau hinakan dengan aneka coretan tak karuan

 

Nak..

Panggilan sayangku tak kau hiraukan

Himbauanku malah kau abaikan

Semakin tak terkendali kekacauan kau ciptakan

 

Nak..

Sebuah coretan kasih sayang kutorehkan di pipimu

Agar kau tau bahwa sebuah coretan itu pertanda

Bahwa yang kau lakukan sudah terlalu jauh

Bahwa aku.. Gurumu sudah mulai mengingatkanmu

Bahwa pelajaran sudah terganggu

Bahwa teman-temanmu butuh waktu..

Butuh ketenangan..

Butuh konsentrasi saat berekspresi

 

Tapi nak…

Kenapa kau kalap?

Sebuah coretan di pipimu mampu membuatmu meradang, menerjang, menghantam..

Kau tak terkendali..

Walau aku sudah menjerit merintih

Teman-temanmu melerai,

Bahkan guru-gurupun ikut memisahkan..

 

Nak..

Kita sudah selesaikan..

Kau sudah kumaafkan..

Walau adab kepantasan sudah kulepaskan..

Aku ikhlas, bahwa jiwa pancarobamu mengalahkan akal sehatmu

 

Nak..

Dalam lemah dan sedih aku pulang..

Pusingku belum hilang..

Namun kenapa kau masih menghadang?

Dengan wajah berang kau datang..

Tanpa ampun kau kembali meradang

Menghantam menerjang..

Sakit bukan kepalang..

 

Nak..

Kau tahu..

Aku jatuh..

Lunglaiku dalam dekapan istriku..

Tubuh ringkihnya yg membawa janin mungil kami menggigil..

Isaknya mencoba menguatkanku yang makin layu..

Semua mulai hilang..

Bayang-bayang wajah ayunya mulai kabur..

Hanya isak dan teriakan paniknya yang masih kudengar..

Sayup.. Sayup.. Dan lenyap.. Gelap..

 

*kenangan utk pak Ahmad Budi Cahyono, guru honor SMAN 1 Torjun Sampang Madura – Semoga Husnul Khotimah, dan semoga istri sabar dan anak yang dikandungnya bisa tumbuh sehat hingga lahir dan menjadi anak yg sholeh.. Aamiin yaa Rabbal ‘Aalamiin*

SP WidiyaniNov 7, 2018 7:46:11 AM

Tugas 1 Realisme

  1. Widiyani

 

YAKINKU

Morning class…

How are you doing….

Itulah sapa rutin pada anak didikku sebagai penggugah semangat pagiku

Morning Mom , Iam fine

Dengan wajah sumringah mereka menjawab salamku

Wajah yang penuh dengan ekspresi semangat untuk menerima pelajaran yang aku berikan

Satu persatu mereka acungkan telunjuknya

Sambil tersenyum memperlihatkan semangat antusiasnya

Present Mom ..Present Mom …

Absent Mom.. Absent mom ..Absent mom

Aku sempat tercengang beberapa anak didik tidak sekolah tanpa alasan yang tepat

Sudah beberapa hari mereka tidak menuntut ilmu tanpa kabar

Ada apa gerangan Nak , maleskah,  sakitkah , bosankah?

Perasaan itu bergejolak dihatiku

Ah semoga saja mereka get well soon, itu saja pintaku

Positif thinking sajalah yang ada dibenakku

Ya Tuhan sadarkanlah mereka, bimbingkah mereka, yakinkan mereka

Mereka generasi milenial yang kami banggakan dan kami dambakan

Meski jalan terjal menghadang mereka

Move on my dear students…

Dunia tetap tersenyum menyambutmu

Jangan patah semangat menuntut ilmu

Masa depan cerah menunggumu

Gapailah cita citamu setinggi langit

Jadilah anak-anak bangsa yang berjiwa tangguh

Anak-anak bangsa yang bekobar semangatnya, teguh dan bersih jiwanya

Ya Tuhan ridhoilah pintaku dan kabulkankah  yakinku

Amin Ya Robbal Allamin

Tugas 2  Expresionisme

  1. Widiyani

 

EGO

Bukan ….  bukan aku

Aku bukan biangkeroknya

Aku bukan dalangnya

Aku bukan virusnya

Kamulah…

Hanya kamulah yang salah, hatiku

Akankah terus menerus kamu protes, hatiku

Kumohon

Jika kau merasa  teraniaya

Janganlah kau selalu memberontak, hatiku

Logika itulah logika

Pahamillah hatiku,  mengertilah

Apa maumu, hatiku

Semua yang terjadi tak bisa memenuhi keinganmu

Sudah saatnya kau mau memahami, hatiku

Buanglah egomu jauh jauh

Buanglah rasa irimu dalam dalam

Pengejaranmu akan sia sia belaka

Dengarkanlah nasehat logika

Mengertilah wahai hatiku

Buanglah asamu yang kandas karena logika

Logika diatas segalanya

 

Pati,  7 November 2018

Retno KusNov 7, 2018 2:35:44 PM

Tugas 2: Puisi Ekspresionisme

 

Hadirmu

Oleh: Retno Kusumawati  Dwi Rahayu,  M. Pd.

 

Sendiri dalam sunyi tak berbagi

Malam itu termenung aku

Tanpa sebab selalu aku

Air mata jatuh tergulai lagi

 

Satu dasawarsa kau kunanti

Penuh harap tanpa henti

Ayat-ayat Suci cinta mengalun dalam hati

Memuja meminta engkau sibuah hati

 

Tak Henti tak putus aku

Memohon meminta padaMu

Agar doa harapan berpihak padaku

Syukur aku ucapkan padaMu

 

Lengkingan tangis malam itu

Memecahkan rasa sembilu hati

Awan pun tak redup lagi

Bahagia kembali hadir menyatu

 

Pagerjurang,  7 November 2018

Retno Kusumawati Dwi Rahayu:

Tugas 1 : puisi realisme

 

Kemarau Telah Usai

Oleh: Retno Kusumawati Dwi Rahayu, M. Pd.

 

Terik sengatan matahari siang itu

Membuat aku resah Gundah resah hati

Tidak cuma aku tapi juga yang berhati

Bumi pun sesak mendesah

 

Sore itu langit menggelayut

Sedih pun dirasakan juga

Iba rasa hari keluar dari mulut

Tetes air pengobat rasa dahaga

 

Aku dan bumi pun mulai bangkit

Tanah merekah mulai bungkam

Dian menikmati usai rasa sakit

Tangis sigersang pun mulai diam

 

Guyuran dari langit Mu

Memukau hati jadi bahagaiku

Syukur aku persembahkan pada Mu

Gersang hilang hijau merayuku

 

Gundah hati menanti

Bahagia Semarang aku hadapi

Sejuk Teresa tentram dihati

Guyuran langit membasahi pipi

 

Hati bahagia kini hadir

Lama menanti akhirnya kembali

Kemarau kini telah berakhir

Human pun datang kembali

 

Pagerjurang,  7 November 2018

SMK N 1 USMANNov 7, 2018 4:34:16 PM

Tugas 2

Matahariku

Oleh Usman Umar

 

Duhai matahariku

Dambaan yang selalu kunanti

Dikau sudah semakin meninggi

Dan aku pun sadar ini bukan pagi lagi

 

Tak terhingga bahagiaku ketika pertama menatapmu

Tak terasa  air mata haru ikut menyambutmu

Tak ada yang tahu rasa ini

Tumpahan rasa yang tersingkap sejak ronamu menyapa pertukaran waktuku

 

Hadirmu menerangi hidupku yang pernah gelap dan sepi

Harus bagaimana  bila kau tak hadir

Hampir saja jiwa ini hampa tanpamu

Harapan telanjur melekat padamu

 

Dari gerakmu aku tahu maksudmu

Dari sinarnmu aku temui hasratmu

Dari terikmu aku sadari maumu

 

Tanpa kata-kata pun aku bisa paham apa yang kamu inginkan

 

Terus lah berputar matahariku

Tatap lah dunia ini dengan tajam

Tetap lah menggerakkan  kehidupan

Tak perlu risau apa yang akan kau dapat

Tak perlu gundah akan kesendirianmu

 

Bertahan lah di jalan kebaikan ini

Bersama rindumu yang membuncah

Bersama kita jemput rembulan

 

Berau, 7 November 2018

Retno KusNov 7, 2018 7:09:17 PM

Tugas 1 : puisi realisme

 

Kemarau Telah Usai

Oleh: Retno Kusumawati Dwi Rahayu, M. Pd.

 

Terik sengatan matahari siang itu

Membuat aku resah Gundah resah hati

Tidak cuma aku tapi juga yang berhati

Bumi pun sesak terisak mendesah

 

Sore itu langit menggelayut

Sedih pun dirasakan juga

Iba rasa hari keluar dari mulut

Tetes air pengobat rasa dahaga

 

Aku dan bumi pun mulai bangkit

Tanah merekah mulai bungkam

Dan menikmati usai rasa sakit

Tangis sigersang pun mulai diam

 

Guyuran dari langit Mu

Memukau hati jadi bahagaiku

Syukur aku persembahkan pada Mu

Gersang hilang hijau merayuku

 

Gundah hati menanti

Bahagia Sedang aku hadapi

Sejuk terasa tentram dihati

Guyuran langit membasahi pipi

 

Hati bahagia kini hadir

Lama menanti akhirnya kembali

Kemarau kini telah berakhir

Hujan pun datang kembali

 

Pagerjurang,  7 November 2018

Kisworo VikiNov 7, 2018 7:53:18 PM

Tugas 2

Jeritan tanpa suara

 

Bergelinjang manja mata tua

Tiada asa hendak digapai

Usia senja suara terbata

Hanya ingin suatu yang berarti

 

Badan lemah tiada daya

Sungguh beda puluhan tahun lalu

Harapan besar bertemu surga

Melihat sukses anak cucu

 

Tak ada lagi hati yang ramai

Tersisa sendiri dalam sunyi

Tiada guna harta berlimpah

Ajal menjemput badan melemah

 

Berteriak menjerit tak berguna

Hanya amal ibadah selalu bersama

Wahai Tuhan beri hamba kasihMu

Tanpa kasihMu dunia semu

 

Perhiasan dunia semua hilang

Berganti dengan alam kubur

Hanya Allah tempat berlindung

Di saat badan kaku terbujur

 

KISWORO PH

Indramayu, 7-11-2018

LailiNov 8, 2018 5:15:37 AM

Tugas 2

Kembali

 

Menapaki jejak yang salah..

Berhenti sejenak tuk bertanya..

Aku ingin kembali..

Tunjukilah padaku jalan yang benar..

 

Terhuyung lemas dan terbawa dalam lamunan..

Aku tak dapat bergerak..

Tubuhku lurus dengan sempurna..

Seperti ketika aku berdiri dalam sholat..

 

Belum bisa ku percaya,

Apakah itu aku..?

Kucoba melihat dengan jelas dari atas rambut hingga bawah ujung kaki..

Dan terperajat,..

Aku terbagun dari tidur..

 

Bersua kembali dengan orang-orang di sekitarku..

Astagfirullah;

Alhamdulillah,kataku..

Tunjukilah padaku jalan yang benar

Ingatkan disaat ku telah terjerumus dalam kehilafan..

Sebelum aku kembali..

 

Laili

Blitar 080918

Astuti tuye BindoNov 8, 2018 10:32:06 AM

Astuti tuye Bindo

Tugas 1

Aliran (masih bingung apakah ini Realisme atau Ekspresionisme atau lainn:blush:)

 

POST PARTUM

Payudara serasa melorot

Jahitan rasanya bikin melotot

Raga lunglai rasa tak punya otot

 

“Kamu itu harus mengASIhi, itu anak manusia bukan anak sapi”

 

Senyum getirku berubah tangis

Ketika air emasku tak cukup untuk si kejora hidup

itu salahku

Ketika rambutku kering, terurai tak beraturan

itu salahku

ketika ‘obras’ perinium tak kunjung buat ku tersenyum

itu salahku

 

Ya semua itu salahku

Merasakan raga tersiram saja itu luar biasa

Merasakan terlelap hitungan menit saja laksana mencicipi surga nikmatnya

Merasakan nasi beradu lauk dengan syahdunya tanpa terburu mengunyah

Sungguh fantastis rasanya

 

Masihkah kau bilang itu semua salahku???

ROSENov 9, 2018 9:06:12 AM

Materi puisi

 

Assalamualaikum wrwb.Segala puji hanya milik Allah.Sholawat serta salam selalu tercurah kepada Rasul Allah.Selamat bertemu kembali dgn sahabat guru Indonesia yg luar biasa

Malam ini kita akan melanjutkan materi puisi aliran ekspresionisme.

Santai saja.

Jalan2 ke kedai pak Legi

Hendak membeli buah kuini

Selamat berjumpa lagi

Di kelas puisi malam ini

 

Ada peniti di dalam peti

Peti dibeli di toko Pak Ribut

Walau di rumah lampu mati

Kelas puisi tetap berlanjut

 

Aliran puisi ini mementingkan pengucapan secara spontan.Aliran sangat sesuai dengan jiwa penyair yg bergejolak dan meledak-ledak.Aliran ini lebih tepat digunakan untuk mengunkapkan gejolak  batin penyairnya

Contoh puisi ini adalah Aku karya Chairil Anwar

Diana DianaNov 10, 2018 11:58:04 AM

Tugas 1

Diana Yuwinda

 

Malam

 

Seraut wajah yang kukenal

Perlahan memudar

merubah semuanya..

Takut menerpa..

 

Terkenang masa lampau

Begitu jelas terangkum

Waktu itu jadi rindu

Rasa juga rupa

 

Sentuhanmu dalam dekap

Terlepas tanpa asa

Lemah tak bersuara

Mencengkam pilu

 

Lagu slalu terdengar

Nyanyianmu, senandung elegi

Cinta tak bertepi..

Tapi pasti

 

Kini ..hitam pekat hidup

tanpa secercah kilau

Dibalik kelopak indah matamu

Tak bermakna..

 

Semakin gelap kuselami

Lautan cinta yang berakar

Kokoh bagai batu karang

Jauh dari sergapan ombak

 

Betapa tak berdaya

Diri ini saat bergumul

Dalam pelukan malam

Terakhir pintu dikunci-Nya

Mas KurniawanNov 10, 2018 5:25:50 PM

SANG ISTRI

 

di telapak tangan wanita itu

ada goresan prasasti kepasrahan

menunggui suaminya

yang belum pulang dari lautan mimpinya

 

ya,sang suami masih bermimpi

kelak ia kan bangun istana mewah

dari gumpalan emas mulia yang masih terpendam di bawah tanah

yang kadang ia sendiri masih tak percaya

adakah emas itu benar-benar di tempat yang ia gali selama ini

 

wanita muda, dengan goresan pisau di tangannya

hasil dari usahanya memberi semangkuk sayuran dari surga

matanya sembab karena mengingat suaminya

yang menggali terlalu dalam apa yang diimpikannya

 

belum lagi kalau tetangganya tertawa keji

melihat lehernya tak terlilit kalung emas lagi

ia hanya tersenyum sendiri

karena tak tau lagi alasan apa lagi yang akan ia beri

NuniartiNov 10, 2018 7:27:15 PM

Tugas 1

Nuniarti

 

Rencanamu

Hari terus berlalu

Satu satu alur cerita diputar

Sedih senang terus berganti

Baru saja bahagia itu datang

Kupikir rencanamu

Kejayaan di tangan

Kemenangan dirayakan

Merasa dalam ridhoMu

Ternyata ini hanya ujian

Ternyata ini hanya titipan

Dalam dekejap pekat itu datang

Bus maut itu merenggut asa

Tinggal duka dalam rencana

RencanaMu di atas segala

ENDAN RATNAWATINov 11, 2018 9:41:52 AM

ENDAN RATNAWATI:

Tugas 1 (PUISI RESLISME)

NEGERI BERTUAH

oleh: HJ.R.A Endan Ratnawati

 

Semua orang tahu

Semua orang juga setuju

Riau daerah indah

Riau negeri bertuah

Di atas minyak

Di bawah minyak

 

Riau tanah elok, negeri molek

Laksana putri cantik sedang bersolek

Semua terpikat, ingin mencolek

Jangan biarkan lunglai, tergolek

Setelah minyaknya dikuras

Hutannya dirambah, meranggas

Pohon sawit semakin luas

Riau semakin gerah … panas

 

Tahukah kalian semua?

Murka-Nya telah tiba

Petaka asap jadi agenda

Bencana banjir menanti tiba

Tak perduli untuk siapa

Untuk siapa Riau yang kaya?

Untuk rakyat jelata

atau para penguasa

 

Lihat apa yang diwariskan

Anak cucu hanya dapat sisa

Sisa petaka dan sisa dosa

Dengan apa dipertanggungjawabkan?

Bukan ini yang jadi asa

Bukan ini yang jadi.cita

 

Riau negeri bertuah

Jangan biarkan alamnya punah

Siapa yang akan menjaga?

Kalau bukan kita, anak bangsa

Bangkitlah Riau, bangunlah

Jangan biarkan tanahmu dijarah

Saktimu  tanah bertuah

 

Tunkukkan Riau negeri bermarwah

Rakyat beradat, Allah disembah

Riau negeri bersolek

Jangan punah karena dijarah

Jangan hilang karena dirambah

 

 

Air Molek, 11 November 2018

TUGAS 2 (PUISI EKSPRESIONISME)

 

PENGUASA

oleh : Hj. R.A Endan Ratnawati

 

Kau marah … .

Kau murka … .

Kau merasa terhina … .

Seolah tak punya marwah

Menyerigai … .

Mencengkram … .

Melolong … .

 

Kau merasa orang terhormat

Kau merasa seorang pejabat

Kau merasa orang berpangkat

Minta kebal hukum

Minta perlakuan khusus

Minta pelayanan istimewa

 

Tutur katamu setajam pedang

berkilat dan terhunus

Menyayat, merobek dan mencabik

Jauh ke dasar hati

Sakit, perih dan berdarah

 

Sorot matamu tajam

Menusuk dan menghujam

Menghantam ke dalam jantung

Menerjang nurani suci

Mengoyak sebuah harga diri

 

Tapi … kau lupa

Aturan untuk semua

Hukum tak pandang siapa

Tak kecuali anda

 

Duhai orang berpangkat

Sesekali pandang kebawah

Kerikil halus bisa membuatmu luka

Lubang kecil membuatmu celaka

Onak duri membuatmu tersedak

 

Wahai kau penguasa

Kuasamu ketika kau muda

Saat renta, lunglai tak berdaya

Jangan kira tak akan binasa

Masihkah sanggup menyerigai?

Masih bisakah mencengkram?

Masihkah mampu melolong?

Duniamu akan sirna

 

 

Air Molek, 11 November 2018

Suningsih ningsihNov 11, 2018 12:16:23 PM

TUGAS 1 ( Puisi Realisme)

 

Menjemput Bahagia

Oleh : Suningsih

 

Pagi ini mentari tersenyum ceria

Seakan mengajakku bercanda

Bergegas ku kemas  segala

Menuju  bahagia yang ku damba

Menjemput putri tercinta

 

Deru debu dan polusi nan bergelimang

Jalur padat merayap tersendat

Seakan menghambat

Semua yang ingin kudapat

 

Tapi tahukah kau

Keinginanku takkan terusik

Karena hati ini selalu berbisik

Ingin jumpa dengan sicantik

Meskipun hanya satu detik

 

 

Depok, 11 November 2018

TUGAS 2 : (Puisi Ekspresionisme)

 

Mungkinkah Kembali

Oleh : Suningsih

 

Saat itu kubermimpi

Memiliki satu keluarga kecil

Dihiasi anak-anak mungil

Yang saling tertawa gembira

 

Berlarian kesana kemari

Melompat dan bernyanyi riang

Tangan-tangan mungil nan indah

Yang selalu ingin menarik jemariku

Mengajak  berlari dan menari

 

Saat waktu berkumpul bersama

Suapan demi suapan  akan meliuk-liuk menuju mulut kecilnya

Walaupun lama mengendap didalam mulutnya

Tapi aku tetap bahagia membelainya

 

Tapi kini saat kuterbangun

Si mungil telah beranjak dewasa

Dan malu tersipu ketika kucium keningnya

Karena si kecilku pun kini telah berdua

 

Duhai para orang tua

Seperti inikah yang kau rasa

Rindu berkecamuk didalam dada

Menorehkan rasa menggapai asa

Kembali sepi seperti semula

Ketika sikecil mungil kita

Telah memiliki bahtera rumah tangga

 

Tatkala tersadar ku hanya berdua

Dengan pendamping suami tercinta

Menunggu sikecil generasi kedua

Yang akan menarik jemariku

Berlari dan menari kembali

Seperti saat dulu lagi

 

Jakarta,  11 November 2018

Onyah JhNov 11, 2018 12:33:15 PM

Tugas 1 Realisme

 

Salah Siapa

Karya : Noni Rahmadaniah

 

Salah siapa …

Dolar semakin jaya

Salah siapa …

Harga sembako semakin naik

 

Salah siapa …

Krisis sosial semakin gila

Salah siapa …

Agama menjadi bahan hujatan

 

Apakah aku?

Bisa jadi kamu!

Atau sang pemimpin negeri?

 

Seruyan, 22 Oktober 2018

Tugas 2 Expresionalisme

 

Piatu Ku Disebut

Karya Noni Rahmadaniah

 

Delapan bulan usiaku

Saat ibu menjemput takdirnya

Rengekan tangisku melepasmu

Piatu ku disebut

 

Empat tahun usiaku

Ayah menjemput jodohnya

Ibu sambung kurengkuh

Tapi tak berikan kasih sayang utuh

 

Piatu semakin ringkih

Di dera tangis kesepian

Kasih sayang pelipur lara

Tak berpihak pada nasib

 

Seruyan, 22 Oktober 2018

Tugas 2

Nestapa Si anak Haram

Karya : Noni Rahmadaniah

 

 

Hening tak lagi tawarkan damai

Mencekam seiring tangis kesakitan

Tetesan darah tak jadi penghalang

Melangkah dengan wajah yang pias

 

Ketakutan melumat kasih sayangmu

Tanpa iba, tanpa kasih, tanpa cinta

Tangan yang bergetar namun menguat

Terulur pasrah namun penuh kekejaman

 

Ratapan lirih seakan membuat tuli

Tatapan surga seakan sebuah neraka

Kulit memerah tak menarik resah

Kalah oleh naluri binatang

 

Pergi tanpa menoleh

Menangis namun tak bergeming

Tertatih tapi tak mampu berhenti

Dingin tak mendekap iba

 

Nalurimu koyak tak berbekas

Bengis menyelusup di wajahmu

Demi kesenangan sang kumbang

Kembali bebas menghisap madu

 

Semesta mengutuk dengan murka

Menjadikan hujan sebagai saksi

Tumpah penuh amukan angin

Dingin menusuk tulang yang tak berdosa

 

Terbujur lemah menarik empati

Berdecak mencari setetes air kehidupan

Namun sang pemberi sudah melangkah jauh

Membebaskan diri dari cela dan hinaan

 

Ringkih tapi tak menyerah

Melengking penuh rasa lapar dan sakit

Berharap angin menyampaikan kabar

Kepada penghuni di penjuru malam

 

Bicara hanya mampu lewat tangis

Seulas senyum penuh makna

Terima kasih kepada sang angin

Yang menjadikan takdir berkata lain

 

Sebuah pelukan menghangatkan jiwa

Riuh penuh sumpah serapah

Ada kasih yang terulur penuh tanya

Membuat takdir berlabuh entah kemana

 

Aku menyulam takdirku

Di bawah naungan belas kasih

Sampai saatnya tiba menyibak kabut

Tertunduk lesu menyeruak tangisan

 

Anak pungut…

Anak buangan…

Dan ada kata yang jauh lebih mengiris

Anak haram…

 

 

 

Melekat sambil menyandang malu

Tak berdosa namun melekat noda

Meski melebur pada dekapan keluarga tak sedarah

Tak menjadikan noda menjadi bersih

 

Tapi taukah kau surga duniaku

Di sini ibu yang tak kutempati rahimnya masih bisa ku sentuh dan ku peluk

Tapi ayah yang sudah memberiku ruang

Tak mampu ku rengkuh, terhalang kata tak sedarah

 

Bisakah kau bayangkan deritaku

Ketika aku rindu pelukan ayah

Kemana aku harus berlabuh…

Kemana aku harus menyentuh

 

Bisakah kau lihat raut kesedihan si anak haram

Jika seorang gadis yang nasabnya harus jatuh kepada ibu

Saat menikah rona bahagia menjadi rona merah

Menahan malu yang melebur dalam isakan pilu

 

Oh surga duniaku…

Sepanjang hayat sebutan anak haram

Menjadi takdir yang tak bisa dirubah

Cukuplah aku yang melekat noda dari rahimmu

 

Seruyan, 2018

Tugas 2

Yang Teristimewa

Karya Noni Rahmadaniah

 

Tasya… Kau di panggil

Gadis cantik dengan senyum manis

Seorang anak yang luar biasa

Walau Bisu dan tuli menjadi duniamu

 

Nak…

Sekolah menjadi taman bermainmu

Meski sayup pendengaranmu

Meski gagu ucapanmu

 

Semangatmu tak pupus

Membaur pada sekolah yang bukan bagianmu

Menulis walau hanya bentuk coretan tanpa makna

Berbicara walau hanya dengan gerakan jari

 

Maafkan ibu nak…

Yang terkadang tak memahami bahasa isyaratmu

Tapi semua itu tak membuatmu terusik

Karena senyum selalu melekat di wajahmu

 

Seruyan,  30 Oktober 2018

:rose::rose::rose:Sasri Ahyuni:rainbow::rainbow::rainbow::rainbow:Nov 11, 2018 12:56:13 PM

Tugas 1

Tuan Tanah

 

Di lorong -lorong bebatuan

Di antara poros tawa dan debu

Tersembul rasa muak

Tersedak sampai k dada

 

Tak ada lagi angin segar

Pembawa kedamaian

Karena….

Kegersangan tlah menguasai

Jiwa-jiwa murni

Yang selama ini

berada dalam panji kedamaian.

 

Kau bilang  akulah yang kau pilih

Kau bilang akulah yang pantas

Berjuang untuk kami

Nyatanya kau hanya mampu menjajah kami

 

Kau kuasai semuanya…

Kau rampas…

Kau cekik…

Hingga nafas ini tersengal

Tanpa ada yang tersisa

Temasuk kami,

orang-orang pribumi

 

Solok Selatan, 11 November 2018

Onyah JhNov 11, 2018 1:19:50 PM

Onyah Jho ( Noni):

Tugas 2

Nestapa Si anak Haram

Karya : Noni Rahmadaniah

 

 

Hening tak lagi tawarkan damai

Mencekam seiring tangis kesakitan

Tetesan darah tak jadi penghalang

Melangkah dengan wajah yang pias

 

Ketakutan melumat kasih sayangmu

Tanpa iba, tanpa kasih, tanpa cinta

Tangan yang bergetar namun menguat

Terulur pasrah namun penuh kekejaman

 

Ratapan lirih seakan membuat tuli

Tatapan surga seakan sebuah neraka

Kulit memerah tak menarik resah

Kalah oleh naluri binatang

 

Pergi tanpa menoleh

Menangis namun tak bergeming

Tertatih tapi tak mampu berhenti

Dingin tak mendekap iba

 

Nalurimu koyak tak berbekas

Bengis menyelusup di wajahmu

Demi kesenangan sang kumbang

Kembali bebas menghisap madu

 

Semesta mengutuk dengan murka

Menjadikan hujan sebagai saksi

Tumpah penuh amukan angin

Dingin menusuk tulang yang tak berdosa

 

Terbujur lemah menarik empati

Berdecak mencari setetes air kehidupan

Namun sang pemberi sudah melangkah jauh

Membebaskan diri dari cela dan hinaan

 

Ringkih tapi tak menyerah

Melengking penuh rasa lapar dan sakit

Berharap angin menyampaikan kabar

Kepada penghuni di penjuru malam

 

Bicara hanya mampu lewat tangis

Seulas senyum penuh makna

Terima kasih kepada sang angin

Yang menjadikan takdir berkata lain

 

Sebuah pelukan menghangatkan jiwa

Riuh penuh sumpah serapah

Ada kasih yang terulur penuh tanya

Membuat takdir berlabuh entah kemana

 

Aku menyulam takdirku

Di bawah naungan belas kasih

Sampai saatnya tiba menyibak kabut

Tertunduk lesu menyeruak tangisan

 

Anak pungut…

Anak buangan…

Dan ada kata yang jauh lebih mengiris

Anak haram…

 

 

 

Melekat sambil menyandang malu

Tak berdosa namun melekat noda

Meski melebur pada dekapan keluarga tak sedarah

Tak menjadikan noda menjadi bersih

 

Tapi taukah kau surga duniaku

Di sini ibu yang tak kutempati rahimnya masih bisa ku sentuh dan ku peluk

Tapi ayah yang sudah memberiku ruang

Tak mampu ku rengkuh, terhalang kata tak sedarah

 

Bisakah kau bayangkan deritaku

Ketika aku rindu pelukan ayah

Kemana aku harus berlabuh…

Kemana aku harus menyentuh

 

Bisakah kau lihat raut kesedihan si anak haram

Jika seorang gadis yang nasabnya harus jatuh kepada ibu

Saat menikah rona bahagia menjadi rona merah

Menahan malu yang melebur dalam isakan pilu

 

Oh surga duniaku…

Sepanjang hayat sebutan anak haram

Menjadi takdir yang tak bisa dirubah

Cukuplah aku yang melekat noda dari rahimmu

 

Seruyan, 19 Oktober 2018

:rose::rose::rose:Sasri Ahyuni:rainbow::rainbow::rainbow::rainbow:Nov 11, 2018 1:37:04 PM

Tugas 2

Nyanyian jiwa

 

Desiran angin yang bertiup

Menyapaku lewat bulu-bulu kudukku .

Tarian alam trus bergema sepanjang masa.

Bunga-bunga trus berkembang

Seiring dengan kemajuaannya.

Teknologi trus memaksa dunia untuk perkembangan zaman.

 

Ada yang berucap

Siapa yang rajin, maka dia yang akan berhasil.

banyak orang-orang rajin,

Tapi tak dihargai kerajinannya

Padahal ini bukanlah sebuah kesia-siaan..

 

Inilah tarian alam …

Sesuai dengan kodratnya

yang akan trus bergema sepanjang zaman.

 

Solok Selatan, 11 November 2018

Dhaniez JaberNov 11, 2018 4:15:35 PM

Dhaniez Jaber:

Tugas (2)

Waktu Akhir

Karya : Daniasih

 

Bila surya nyaris tergelincir

Semua karya berebut beradu waktu

Ketukan,coretan,hentakan

Berlomba dalam tujuan

 

Laksana semut mengangkut gula

Lempar ke atas

Singkirkan

Dorong

Dan lepas

 

Siapa kau,kuatkah

Sanggupkah

Hingga karyamu tergeletak dalam meja titian

Lakukanlah dan lihatlah

 

Karanganyar 29 Oktober 2018

Tugas (1)

Celamu

Karya : Daniasih

 

Kupandang indah cahayamu

Kemilau ranum dalam pancaran

Surya terpancar pertanda lembut hatimu

Getar genta bersambut membawa kisah

 

Sucinya ikatan meski tanpa pertanda

Jikalaulah hati ini besi

Jikalaulah hati ini mutiara

Pastilah terasa kuat dan tetap bersinar

 

Namun,celamu buatku hilang rasa

Ucap sebuah nama buatku kecewa

Hatimu ada cela

Cela kau buat untuk sebuah asa

 

Karanganyar 1November 2018

NadiyahNov 11, 2018 5:31:19 PM

Tugas 1

Malaikat Kecil

 

Mentari menyapa

Disela pagi yang teramat ripuh

Menebarkan aroma harumnya warna bumi

Meletupkan gairah

Mengingatkanku

Akan asaku yang kembali teruji

Menapak hari meraih mimpi

Diantara sekumpulan malaikat kecil

Di depan pintu gerbang sekolah

Tersenyum

Tulus menyambut

Wajah sumringah

Dan mereka pun mengulurkan tangan

Tanpa ragu

Membimbingku sampai ke taman surga

 

Nadiyah

Jakarta, 11 November 2018

Abdurrahman Q.ANov 11, 2018 5:48:05 PM

Mengeksiskan diri dalam rangkaian kalimat..

Untaian puisi dalam tugas satu dan dua..

 

Aku tidak paham…

Tugasnya merangkai kata dalam rasa..

Lalu isi bertema apa..

 

Kiranya, perkembangan tidak dalam amatan..

Lalu tertinggal tanpa tahu harus apa..

 

Selamat berkarya, merangkai kata ungkapan rasa…

Diana DianaNov 11, 2018 8:02:23 PM

Diana Yuwinda

 

Tugas 2

Gerimis

 

Langkah kecil

Sisiri trotoar

Senyum sumringah

Tersungging sinarnya

 

Tak lelah kau singkap malam

Dengan jari mungilmu

Mencari serpihan mutiara

Sendiri..

Sepi..

Dingin menyergap

Ditemani gerimis malam itu

 

Rasa takut

Rintihan malam

Sirna tanpa cela

Tak perdulikan

Demi 1 hidupmu

 

Gemericing gengaman

Terlepas tanpa kendali

Terus berlari..

Pucat pasi jelas diraut wajahmu

Berharap kembali..

Tapi…

 

Uluran tanganku

Menyentakkannya

Bangun….

Senyum manis

Menghiasi cantiknya

Dibalik wajah merona

Diselimuti dingin..

Dan gerimis malam itu.

 

Diana Yuwinda

Bogor, 11 Nopember 2018

SHAFIYYAHNov 11, 2018 10:07:55 PM

Tugas 1

Tanah_Terjajah

 

Aku baru saja menerima pesan itu

Dari bibir mungil di benda segi empat terpampang di depan mata

KAMI BUTUH BANTUAN, SEMOGA ALLAH MELINDUNGIMU

Bukan kutak peduli, dik

Pada gerak dan langkahmu

Memegang batu kerikil

 

Sakit itu terasa , dik

Kulihat mengalir air mata, darah di tanah yang mengecil

Sebenarnya aku malu

Melihat  tangan mungil menerbangkan batu-batu kerikil.

Sementara, aku pirsa

Hanya sesekali merapal doa

 

Samarinda, 20181111

Tugas 2

Si Penyandang Rindu

 

Aku duduk, tawa anak-anak itu terdengar

Berlari ke sana ke mari

Mengibas rambut yang merebut keceriannya

Tak peduli lagi, terus tertawa

Hingga gema menghilang

Aku membuka mata, mengeluh.

Berharap anak-anak itu masih terlihat

 

Tapi nyatanya aku hanya sendiri bersanding senja

Memaki pada angin yang hobi bernapas

Sesekali coba menghentak ranting-ranting. Berguguran

Lupa? aku sendiri.

Atau lagi sedang rindu?

 

Samarinda, 20181029

EfayantiNov 12, 2018 6:06:01 AM

Tugas 1

Realis

 

Kalapo

Efayanti

 

Saat masih muda menjadi cikal

Banyak yang menggunakan

Banyak kerja yang ditumpukan

Selalu jadi bendera yg dihormati

Selalu dipandang penuh wibawa

 

Seiring berjalannya waktu

Kelapo muda menjadi dewasa

Manis airnya penyegar dahaga

Tebal kulitnya penahan lapar

Batok nya buat lomba pelajar

Semua sisinya berguna

Menoreh kan pengabdian yg tiada berbayar

 

Sekarang dia telah senja

Lidi nya bisa menyinhkirkan sampah

Daun nya bisa bikin lontong berkuah

Pohon nya diambil buat jembatan

Menyambung kasih sepanjang hayat

 

Bergunalah hai jiwa yg berkelana

Karena jalan itu hanya sekali dilalui

Mundur tak akan bisa

Maju seiring waktu yg pasti

 

 

Bukittinggi 12 nov 2018

Tugas 2

Ekspresionalis

 

Jiwa mulia

Efayanti

 

Tiga bulan telah kurasa

Tiga bulan telah kujalani

Makin kesini makin terjawab

Apa…bagaiman…akan berbuat apa…

 

Menjabat itu meminta sabar

Memimpin itu meminta tegas

Menginovasi itu meminta kerja keras

Investasi itu buat strata dàn kelas

Berkaryalah dgn ikhlas dan jelas

Karena akan membekas dalam jiwa..kertas dan oleh yg di Atas..

Tugas baru semoga berkualitas.

 

Bukittinggi 12 nov 2018.

NadiyahNov 12, 2018 10:07:15 AM

Tugas 2

Ampas Kerinduan

 

Sore ini hujan turun membasahi hatiku

Entah apa rasanya

Aku seperti terjebak oleh sekumpulan hasratku yang tiada henti terus mengejar

 

Sepiku terbakar

Oleh sepotong rindu yang kemarin malam kau titipkan pada awan yang singgah sebentar ke langit hati

Ku ambil satu satu

Dan ku lihat …

Ahh … ternyata hanya seonggok ampas kerinduan!

 

Nadiyah

Jakarta, 10 April 2014

KayunNov 12, 2018 4:17:03 PM

Tugas 1

 

BUKUMU

 

Aku bertanya-tanya

Curiga

Siapa dirimu?

Penguntitku?

Penggemarku?

Atau cenayang?

 

Bukumu

Cerita didalamnya itu

Mengapa telak seperti aku

Bercerita dengan sendu

Tentang kopi, hujan, dan buku

 

Jawab!

Siapa kamu?

Kau tersenyum tanpa malu

Mengerling penuh bujuk rayu

 

Aku?

Tanyamu

Aku diam menunggu jawabnya

Heh…perayu

Pikirku

 

Aku ini separuh jiwamu

Yang menjadikan aku dan kamu

Terikat menjadi satu

Satu yang padu

 

Bukuku untukmu

Untukmu jiwa terserakku

Biar kamu menjadi tahu

Kita ditakdirkan bertemu

Di sini

Di kelas menulis buku

 

IKA KAYUN

JOGJA, 12 November 2018

16:15

Tugas 2

 

Hari Bapak

 

Status-status

Dalam ruang imaji

Bertebaran seperti laron

Yang keluar setelah hujan semalam

Mengikat bahagia jadi sendu

Ribut kalang kabut

 

Status-status

Mereka bilang hari istimewa

Foto-foto tersemat

Peluk cium bapak-bapak mereka dengan khikmat

 

Sementara statusku

Seperti lagu Melly Guslaw

“Kata orang rindu itu indah, tapi bagiku ini menyiksa”

 

Kusimpuhkan diri

Menyentuh tanah basah

Diselingi semilir angin

Juga gerimis tipis-tipis

 

Kuletakkan bunga indah

Kubisikkan di sampingmu

“Pak, kata mereka ini hari bapak”

Lalu sepi yang menyapa

Pilu

Aku rindu

 

Ika Kayun

Jogja, 12 November 2018

16:26

Erni EkawatiNov 12, 2018 5:51:04 PM

Tugas 1

Puisi Realisme

 

Tanah Garapan

Oleh : Si Comel Cantiiik

 

Hujan telah datang

Tersembul harapan

Tumpah ruah pada tanah garapan

yang sudah merayu

Untuk disentuh

Suka cita petani

Menata tumpuan cinta

Tumpuan hidup

pada jejak tanah garapan

 

Tapak kaki bergulat pada tanah basah

Inilah sepatu kami

Sepatu alami dari Sang Kuasa

Seluang dua luang benih tertanam

dengan seribu asa

Tumbuh suburlah

Kala panen melimpah ruah hasilnya

 

Hujan memang selalu dirindukan petani

Tatkala kemarau kering kerontang

Tiada tanah garapan dapat ditanami

 

Tanah garapan menjadi pijakan

Sekolah anak kami, anak petani

Penyambung hidup

dari suap demi suap mulut yang menganga

dari nyanyian perut yang nyaring

 

Sungguh doa selalu tersemat

Tuhan

suburkan tanah garapan kami,

Tanah pengharapan di setiap hujung penghidupan

Tanah perjuangan tempat para petani mengukir segala asa

 

Karangmojo, 11 November 2018

Tugas 2

Puisi Ekspresionisme

 

Izinkan Aku

Oleh : Si Comel Cantiiik

 

Air perasan langit menitik

Menyapu bumi dengan sentuhannya

Warna kelam menghias langit dari kepulan mega-mega

Dingin menyeruak dari kibasan angin yang mendera makhluk

 

Di sini aku terpaku

dari hati yang ikut kelam sesaat langit menyibakkan warnanya

Menutup segala serat

Pikiran dibalut kekalutan

Ditempa dingin yang membekukan

 

Izinkan aku

Menyibakkan pedang angkara

barang sedetik pun

menghunus dirinya

yang telah memerah segala kebahagiaanku

Melucutinya hingga aku tenggelam dalam keputusasaan

 

Izinkan aku

Menorehkan ribuan tusukan

Seperti dia menusukkan luka

pada hatiku yang lemah

dengan ribuan tusukan yang betubi

 

Izinkan aku

Menjadi racun baginya

sama halnya dia meracuniku dengan racun yang hampir melenyapkanku

 

Izinkan aku

Membalas segala kepahitan yang diberikannya padaku

 

Izinkan aku

Menumpahkan amarah padanya yang telah melumuriku dengan segala hal yang membuatku tak berarti

 

Izinkan aku

Bukan menjadi diriku

Untuk sekali ini saja

 

Karangmojo, 11 November 2018

Tugas 2

Puisi Ekspresionisme

 

Cemburuku

Oleh : Si Comel Cantiiik

 

Kala datang musim ini

Aku dibuat kalut

Dirudung sungut

Oleh rasa yang berkecamuk

 

Cemburu

Datang tanpa diundang

Kacaukan aku dari nalar

Cemburuku terkemas

Buatku cemas

Gemas meremas meliuk hati

 

Cemburuku

Unik menggelitik

saat musim ini

Musim hujan yang kurindukan

Tapi cemburuku selalu memburu muncul dengan menggebu

Bagai deru sang bayu

 

Cemburuku

Karena aku anak manja yang suka diperhatikan

Sedang kala musim ini

Nenek sibuk ke ladang

Begitu pula Ibu, Bapak

Semua perhatian tercurah pada ladang

Tanah garapan

Tanah pengharapan

Tanpa kenal lelah

Tanpa kenal waktu

 

Dan aku cemburu

Cemburu si anak manja

 

Karangmojo, 12 November 2018

Tugas 1

Puisi Realisme

 

Pertemuan yang dinanti

Oleh : Si Comel Cantiiik

 

Melesat waktu

dari busur panahnya

Di pucuk pandang

mata yang mengincar

Tameng kerinduan

terkemas manis

dalam peti emas

hati si empunya

 

Ditunggulah

dalam hitungan waktu

yang dijanjikannya

dari pesan pembangkit asa

yang Karamkan mimpi

dari pembaringannya

Buncahkan bunga keyakinan

Siapkanlah

Untuk sebuah pertemuan yang dinanti

 

Gunungkidul, 29-10-2018

:rose::rose::rose:Sasri Ahyuni:rainbow::rainbow::rainbow::rainbow:Nov 12, 2018 8:34:15 PM

Gelandangan

 

Wajahnya lusuh

Jalannya lunglai

Terbayang kelelahan

Menapaki jalan tanpa berhenti

 

Setiap menoleh

Orang meludahinya

Tanpa ada rasa iba

Dicaci

Dimaki

 

Apabila kantuk mnyerang

Langsung tertidur

Tanpa memikir sehat dan higienis

 

Mengais tong sampah

Buat isi perut

Debu jalanan

Kawan dan pakaiannya

 

Solok Selatan, 12 November 2018

Fitria LindaNov 12, 2018 9:11:15 PM

HIPNOTIS

 

Oleh : Fitria Linda K.

 

 

Ilmu orang awam itu gendam

Ilmu orang nyleneh

Ilmu klenik

Gaib

 

Ilmu modern itu ilmu pengetahuan

Ilmu konsep olah pikiran

Ilmu bidang kesehatan

Keseimbangan

 

Orang awan ketakutan

Orang modern tantangan

 

Orang awam menolak

Orang modern menerima dengan bijak

 

Hipnotis…

Bukan aliran sesat

Yang mengaburkan fikir sesaat

Hingga membuat orang akan berfikir melarat

 

Hipnotis…

Ilmu pengatur diri dan mental

Agar hidup teratur tanpa terpental

Kehidupan dalam kebijaksanaan semakin kental

 

 

 

(Persembahan untuk sang Master Hipno @SGIGOOD )

 

Semoga Master suka. :pray::pray::relaxed::relaxed:

Rochani HandayaniNov 12, 2018 9:16:25 PM

Tugas 3 – impresionisme

 

Media Provokator

 

Menulis berita sembarangan

Tanpa dipikirkan

Menyulut  permusuhan

Mengobrak-abrik kedamaian

Ciptakan ketegangan

 

Entah apa yang diharapkan

Entah apa yang diperjuangkan

Entah siapa yang diuntungkan

Entah  mengapa mereka lakukan

 

Berita bohong

Berita sampah

Kata-kata kotor

Sumpah serapah

Caci maki bedebah

Enyahlah!

 

Kami tak ingin resah yang kau hembuskan

Kami tak ingin gundah yang kau ciptakan

Kami tak sudi provokator yang mengacaukan

Membuat carut marut ikatan persatuan

Bangsa dan negara yang dipertaruhkan

 

Rochani Handayani

Cibinong – 12-11-18

Dhaniez JaberNov 12, 2018 9:16:49 PM

Tugas (3)

Karya : DANIASIH

 

BIDUANITA

Panggung bergoyang

Hentakan drum dan sepatu dua biduan

Mikrofon melelngking sebarkan suara menggema

Seronok baju dan kostum buat mata terpedaya

 

Bibir merah warna jingga

Pupur tebal ala mereka

Hok ya hok ya

Hok ya hok ya

Terbahak

Tertawa mereka bersuka

Luapkan emosi tiada tara

 

Surga duniawi mereka berkata

Mata jalang dan pikiran kotor meraja jiwa

Jikalau terlena

Jadilah buah petaka

 

Paha mulus milik mereka dada terbuka isyaratkan bangga

Hentakkan lagi dalam panas suasana

Mengelus dada dan pejamkan mata

 

 

Karanganyar 12 November 2018

ENDAN RATNAWATINov 12, 2018 9:22:34 PM

TUGAS 3

Sunyi

(R.A Endan Ratnawati)

 

Aku takut, jika sendiri

aku benci sunyi

langit menggelam,

alam gulita

dan suara burung malam

memecah kesunyian

mencekam kelam

 

samar-samar tampak bayangan

tak jelas, berayun, bergoyang

sunyi menari di ujung hati

nurani mengambang

melayang ke awang

 

mata menatap nanar

berharap ada secercah sinar

harapan buyar

tak jelas siapa gerangan

semakin samar

 

kian mendekat

semakin membayang

lutut kaki goyang

bulu kuduk terasa meremang

mengambang

 

hati semakin sunyi

aku semakin takut

memandang tak berkedip

siapa gerangan di sana

berayun, bergoyang

tubuhku gamang

jatuh, tumbang

mati rasa hilang asa

 

Air Molek, 12 November 2018

NadiyahNov 12, 2018 9:37:21 PM

Mohon koreksiannya Master :pray:

 

Tugas 3

 

Secangkir Teh

Nadiyah

 

Secangkir teh

Pengobat rindu

Kampung halaman

Mimpiku

Semalam

 

Secangkir teh

Berwarna merah bata

Bukan hanya pengobat rindu

Bangkitkan gairahku

Menata baris kata-kata

Merenda hari-hari

Mungkin juga masa depan

Di pelupuk mata

 

Pucuknya berkisah

Tentang tuannya

Tertawa bersama nyanyian malam

Impiannya tentang gadis

Terkikis oleh masa

 

Secangkir teh

Melukis senyum

Kehangatan

Hanya aku yang merasakan~

 

Jakarta, 12 November 2018

Onyah JhNov 12, 2018 9:40:44 PM

Kelopak Merah

Noni. R

 

Merah namun berduri

Tak terjangkau pada serakah

Perlahan meluruh pada ketulusan

Menebar wangi penuh kasih

 

penuh misteri …

Namun hadirkan kesan

Menjadi kiasan pada sang kumbang

Agar tak goyang tawarkan madu

 

Seruyan, 12 November 2018

Vera HNov 12, 2018 9:56:55 PM

Tugas 3

Politikus Gendruwo

Oleh : Vera Handayani

 

Politikus genderuwo

Bertubuh tinggi besar

Dan berbulu tebal

Tubuhmu bau menyan

Datang  di waktu malam

Mengetuk satu persatu

Pintu rumah rakyat

Kerjamu menakuti semua orang

Menciptakan kekacauan

Di negeri yang aman dan damai

 

Politikus genderuwo

Di siang hari kau tampak berda

Tubuhmu gagah

Berpakaian bersih

Dan rambut rapi

Aroma menyan tubuhmu

Kau ganti dengan parfum prancis

Siapa sebenarnya engkau?

 

Bogor, 12 November 2018

Diana DianaNov 12, 2018 10:25:40 PM

Diana Yuwinda

Tugas 3

 

Mahkotaku

 

Tanpa kusadari

Berkurangah usia

Dimakan waktu

Umur berlalu

 

Rambut mulai

Dihiasi perak

Berkilauan

Tak mau berhenti

Sampai di sini

 

Namun perlahan

Lalu jatuh berguguran

Dulu hitam cahyanya

Mengembang..

Mempesona…

Memandangnya

Lembut membelainya

 

Tak mampu mengahalau

Bom waktu akan tiba

Menghancurkan asa

Yang ditakdirkan-Nya

 

Oh..mahkotaku

Jangan pergi

Sejenak temani

Tanpa daya

Pamit dari arah berbeda

Dan ternyata

Kuakhiri semua..

 

Bogor, 12 Nopember 2018

:sweat_drops:Kusrifah:sweat_drops:Nov 12, 2018 10:27:28 PM

Tugas 3

Hujan

Oleh : Kusrifah

 

Hujan

Terpercik basah

Warna nan bening

Meresap hilang

Diantara tetumbuha nan benda

Bumi basah

Karna kehadiran hujan

 

Hujan

Karna hujan mengenang

bumi hingga banjir

Basah menumbuhkan tanaman

Tanaman yang lama kering

 

Hujan

Didaerahku yang tadah

Selalu merindukan hujan

Musim tanam

Mengharap kehadiran hujan

 

Pati, 12 November

2018

Kusrifah Kusrifah:

Tugas 1

Puisi Realisme

 

Cinta berubah dendam

 

Hilang waktu dipucuk penantian

Tutur suarmu

Menikam hatiku

Senyum manis

Tlah sirna

 

Rasa sayang kini berubah

dendam

Kebencian selalu mengiang

Janjimu hilang terbang bersama senyumu

Puing- puing cinta hancur berantakan

 

Mimpi mengapai kencana

Takkan pernah nyata

Mendung mengantung

Membawa luka cinta.

Laksana lentera mati nan padam

 

Pati,

29 November 2018

Onyah JhNov 12, 2018 10:46:53 PM

Onyah Jho ( Noni):

Tugas 3

 

Menyulam Doa dalam Sujud

Karya Noni Rahmadaniah

 

Pada senja di ufuk barat

Goreskan pesona jingga pada semesta

Syahdu menderu seruan adzan

Namun tak jua beranjak mendekap

 

Syahdu rembulan berteman bintang

Hantarkan malam yang kian pekat

Tersadar pada dentangan waktu

Namun tak jua merayu dalam doa

 

Hingga fajar berarak pada timur

Menjadikan semseta menampung kasih pada seruan

Namun tak jua melepas dekap dalam buaian

Hanya teringat ketika sedih menuai iba

 

Seruyan, 12 November 2018

Mas KurniawanNov 13, 2018 7:35:40 AM

Katanya Seminar Pendidikan

 

Sekali lagi di bulan ini..

Ac yang menyala

Lampu terang dimana mana

Kursi yang berjajar terpaksa

Dan aku harus tunduk pada jadwal

Menggerutu..

Dengan tanganku yang tak henti hentinya

Menutupi bibir yang lelah..

Gundah

 

Penghamburan uang

Mereka sekedar merangkai kata yang seolah olah pantas mereka katakan

Tapi begitu garing dan kecut ..

Ahh.. kapan orang orang gendut itu berhenti berkata dan mempersilakan aku minum kopi

Media penghamburan uang ini..

 

Ataukah aku yang tak pantas disini yang lebih suka duduk di warung kopi dengan siswa siswaku sambil cerita kisah Nabi

 

Haha…

Pak, ayolah.. kita buat acara seperti ngopi biasa..

Kau terlalu kaku di sana

Materimupun copy paste dari pendahulumu saja..

 

Bolehkah aku tidur saja berikan makalahnya nanti biar ku baca

 

Sby, 13 Nov 2018

iman kurniawanNov 13, 2018 1:01:28 PM

Mata hati

Mata hati

Bukan mata kaki

Mata hati

Bukan mata sapi

Mata hati

Bukanlah mata mata

Mata hati

Tetaplah mata hati

 

Mata hati

Melihat suci

Mata hati

Bukan melhat benci

Mata hati

Melihat kebenaran

Bukan melihat pembenaran

 

Bila mata hati

Tertutup terai benci

Mata  hati

Penuh mawar berduri

Bila mata hati

Terbungkus kafan busuk

 

Mata hati

Gelap tak tau arah

 

Mata hati

Bukanlah mata kaki

Mata kaki

Bukanlah mata sapi

Mata hati

Tetaplah mata hati

Putih suci penuh cinta illahi

 

Love Bird

Pondok Gede

13 Nov 18

08:03

Fitria LindaNov 13, 2018 3:03:23 PM

RINDU

 

Oleh : Fitria Linda K.

 

Langit menangis turunkan rinai hujan

Membekas kesedihan

Ku kayuh kilauan senja

Lembut jelaga jiwa terpaut dalam syahdu asmara

 

Gemintang elok malam berselimut mendung

Terhempas kerling kepalsuan yang datang

Ku peluk erat bayang rindu

Namun tiada dayaku membwa hatimu dalam hayalku

 

 

Blitar, 13 November 2011

:sweat_drops:Kusrifah:sweat_drops:Nov 13, 2018 3:50:47 PM

Tugas 2

 

Semangat Membara

oleh  Kusrifah

 

Kau sembarangi lautan

Tanpa mesin yang kau bawa

Kau tembus mega-mega

Tanpa angin yang membawmu

Kau bakar api

menembus dada

 

Kau bunuh musuhmu

Tanpa senjata ditanganmu

Kau usir mereka

Penjajah bumi pertiwi

 

Tiga setengah abad

bumiku terjajah

Bertahun- tahun

hidup dalam kegelapan.

Kemiskinana, kebodohan

merajai bumiku.

Kami miskin karnamu

penjajah.

 

Kau ambil kekayaan  bumi

di tanahku

Kulari kulempar bambu runcingku.

Kuterjang ku usir

Jangan injakkan kakimu

Di bumiku pertiwiku

 

Pati,

11 November 2018

Min RosminiNov 13, 2018 4:02:28 PM

Tugas 1 : Puisi Realisme

 

para veteran

 

dulu berjuang di garis depan

mati-matian melawan penjajahan

bertaruh nyawa demi kemerdekaan

setelah merdeka jasamu dilupakan

engkau dibuang dan disia-siakan

sendiri dalam keterasingan

 

masih terlihat sisa-sisa kekuatan

berjuang di tengah kerasnya kehidupan

berjualan apa saja untuk mendapat makan

di masa jayamu engkau dielu-elukan

di masa tuamu engkau dipinggirkan

negara pun tak pernah mencukupkan

 

meski begitu, Indonesia tetap mendarah

dilafalkannya Pancasila

: fasih, tegas, dan lantang

 

sedangkan kita, makin lupa akan sejarah

sila demi sila Pancasila banyak yang lupa

nasionalisme makin terbuang

di tanah yang katanya kaya raya

nyatanya mereka masih belum merdeka

 

 

Min Rosmini – Jakarta

Tugas 2 : Puisi Ekspresionisme

 

INDONESIA OH INDONESIA

 

Inilah negeri kita, negeri penuh luka

Negeri yang tak hentinya berduka

Digerogoti keserakahan yang terus meraja

Orang-orang kecil menanggung akibatnya

Nampak jelas di sana,

Enaknya mereka menari-nari di atas derita

Sedang di pinggiran dan pelosok kian nestapa

Inilah negeri kita, negeri yang katanya kaya

Apa daya nasib kita yang jelata

 

Orang-orang besar berpesta pora

Habislah sudah kekayaan kita

 

Inilah negeri yang katanya tentram

Nyatanya kini semakin kejam

Di mana-mana perang kekuasaan

Orang-orang kecil makin terpinggirkan

Nyeri mereka makin terlupakan

Engkau hanya sibuk janji dan beriklan

Sedangkan realisasinya sebatas ilusi

Inilah negeri di mana mimpi takkan terbeli

Aku takut bagaimana anak cucuku nanti

 

 

Min Rosmini – Jakarta

Tugas 3 : Puisi Impressionisme

 

tribute

: untuk Koes Plus

 

lagu-lagunya sudah banyak tercipta

disukai generasi tua dan kawula muda

sampai sekarang masih diperdengarkan

lagu-lagunya tak pernah membosankan

 

liriknya sederhana tapi begitu dalam

liriknya juga mudah dimengerti

lagunya bercerita segala macam

jadi obat penghibur sepi

 

setiap pentas selalu ramai

penonton riuh bersorak sorai

dikenal ke segala penjuru

hampir semua pasti tahu

 

beberapa personilnya sudah berpulang

namun semangatnya tak pernah lekang

berbeda grup musik jaman sekarang

terkenal sebentar lalu menghilang

 

ketika bercerita tentang cinta

lagunya syahdu sampai ke jiwa

ketika mengisahkan tentang derita

hatipun turut merana lara

 

karena cintanya pada Indonesia

diciptakannya lagu Nusantara

pernah juga mengkritik penguasa

sampai lama di penjara

 

meskipun nanti tinggal nama

lagunya akan diingat sepanjang masa

merekalah sebenar-benarnya legenda

aset musik yang tiada terkira

 

 

Min Rosmini – Jakarta

UIBI_INSFIRATIF.Nov 13, 2018 7:12:35 PM 154

*KAU*

 

Kau membolak-balikkan hidupku

Kadang aku di atas

Kadang aku dibawah

Berputar

Maju

Mundur

Berjalan

Berhenti

Duduk

Bahkan Tidurpun selalu terarah

Teratur

Diatur

Diukur

Ditentukan

Aku bukan aku karnamu

Aku jadi apa yang kau mau

Aku lupa siapa aku

Kadang aku jadi kau

Kau merasuk dalam diriku

Bertengger di kepalaku

Mengendalikan hidupku

Pikiranku

Mengalir di setiap aliran darahku

Menjadi denyut hidupku

Bertahta jumawa di hatiku

Membuatku tak mampu berpaling dari duniamu

 

Aku jadi artis dalam kendalimu

Jadi apapun yang kau mau

Berperan laksana aru dibawa angin berdesir

bergerak dalam irama desaunya

Menggeragas dalam onak yang tercipta

Lalu..

Bila masa berubah..

Akan kemanakah aku

Akan bagaimana diriku tanpamu?

Akan mampukah kubertahan di duniaku?

Akan kuatkah kumelangkah di dua kakiku?

Masihkah berdenyut nadiku tanpa aliran cintamu?

Pun jantung masihkah mampu berdetak dalam rasa?

Sementara hati bisakah menebar asa?

 

Aku..

Tanpamu..

Masihkah aku?

 

Aku ragu

 

*Gerimis dalam penantian*

13 November 2018

Tengku Nazariah

Melani HafizahNov 13, 2018 10:50:19 PM

Tugas 1 puisi Realisme

Oleh : Melani Hafizah

 

Banjir Bandang

 

Hujan turun tiada henti

Membasahi bumi

Yang tak lagi berseri                                                                                                                                                                               hati meriak pada Illahi

 

sayup-sayup

Kudengar suara gemuruh

Bercampur suara riuh

Sepertinya langit hendak runtuh

 

Terdengar teriakan disekitar

Longsor…

Banjir…

Hatiku semakin bergetar

Bumi serasa berputar

Akupun tak sadar

 

Banjir bandang telah melanda desaku

Juga beberapa desa disekitarnya

Kerugian materi tak terbilang

Berbaur isak tangis yang meradang

 

Ya Allah

Inikah hukuman bagi kami

Yang tidak syukur nikmat

Sehingga diturunkan azab

Agar semua insyaf

 

Semoga ini jadi pelajaran

Bagi semua insan

Agar selalu menjaga alam

Agar bencana tak terulang

 

Takengon, 13/11/2018

Tugas 2 puisi Ekspresionisme

 

Kecewa

Melani Hafizah

 

Ada rasa yang menggores kalbu

Ada sendu yang berpadu rindu

Saat hati tak lagi bisa menyatu

Kesunyian menyelimuti jiwaku

 

Saat bunga cintaku mekar

Kau pergi meninggalkanku

Entah apa salah dan dosaku

Kau berlalu dari hidupku

 

Kemana lagi kucari

penawar rindu

Sesak di dadaku bila mengenangmu

 

Oh kekasih pujaanku

Tidakkah iba kepadaku

Yang selalu menantikanmu

Dengan sepenuh hati dan jiwaku

 

Kini namaku tak lagi kau sebut

Hadirku tak lagi kau hirau

Aku termenung dalam diam

Berharap segera hadir sang rembulan

untuk mendekap malam

 

Takengon, 13/11/2018

Melani Hafizah:

Tugas 3 puisi impresionisme

 

Daun kering

Oleh : Melani Hafizah

 

Warnaku tak lagi hijau

Berganti rona kecoklatan

Jatuh berguguran

Dimakan usia yang menjelang

 

Tiba-tiba angin bertiup

Akupun ikut meliuk

Entah kemana arah dituju

Membawa diri yang tertunduk

 

Rupaku tak lagi gagah

Berganti wajah si buruk rupa

Tubuhku ringkih tak berdaya

Tulangku rapuh menjelang senja

 

Tiada siapa nak menyapa

Aku terbuang begitu saja

Dianggap sampah tak berguna

Dipandang hina

 

Inilah nasib sidaun tua

Yang gugur tanpa bertempur

Adakah yang sudi menghibur

Menjadikanku pajangan dikamar tidur

 

Takengon, 13/11/2018

KayunNov 16, 2018 3:22:10 AM

Ika Kayun:

Tugas 3 (Impressionisme)

 

SEMUSIM

(Ika Kayun)

 

Kemarau

Meranggas jati

Lindungi diri

 

Aku berhenti

Menengok jejak tapak kaki

Sadar hari tak kembali

 

Namun hijaunya daun

Tumbuh di lain musim

Tak pernah ingkar janji

 

Bahwa pagi

Datang tuk disyukuri

Perbaiki diri

Seiring musim berganti

 

Jogja, 16 Nov 2018

(7th Anniversary,03:22)

:rose::rose::rose:Sasri Ahyuni:rainbow::rainbow::rainbow::rainbow:Nov 16, 2018 9:01:18 AM

Sasri Ahyuni: tugas 3 impressionisme

Gelandangan

 

Wajahnya lusuh

Jalannya lunglai

Terbayang kelelahan

Menapaki jalan tanpa berhenti

 

Setiap menoleh

Orang meludahinya

Tanpa ada rasa iba

Dicaci

Dimaki

 

Apabila kantuk mnyerang

Langsung tertidur

Tanpa memikir sehat dan higienis

 

Mengais tong sampah

Buat isi perut

Debu jalanan

Kawan dan pakaiannya

 

Solok Selatan, 12 November 2018

Onyah JhNov 16, 2018 4:26:05 PM

Tugas 3

 

Semau Hati

Karya Noni. R

 

Padamu hujan aku dingin

Padamu panas aku gerah

Pada mentari aku hangat

Pada angin aku sejuk

 

Padamu bising aku pekak

Padamu sunyi aku sepi

Dalam diam aku merenung

Dalam ramai tawarkan riuh

 

Semau hati

Semau harap

Marah jika tak berpihak

Itu bukanlah kuasamu

Erni EkawatiNov 17, 2018 8:53:58 AM

Si Comel Cantiiiik :heart_eyes::kissing_heart::

Tugas 3

Puisi Imperialisme

 

Perempuan Nista dan Sang Waktu

Oleh : Si Comel Cantiiik

 

Kulongok waktu

Pada jam dinding itu

Tampak wajahnya

Tersenyum menertawaiku

 

Detaknya terus berlari

Menderu

Menggebu

Meninggalkanku

yang masih tetap kaku berdiri

dalam Kelu yang mendera

Terpaku

Terpesona bujuk rayunya

Terbuai seutas senyum darinya

 

Kini

Sang waktu

Kau tak akan kembali

Tak akan terulang

yang tinggal hanya tapak kenangan

yang jejaknya terhapus

seperti pasir

terlepas dari genggaman

Buyar tiada sisa tersapu desiran angin

 

Sang waktu

Akankah terputar kembali

pada saat hati terkembang

pada saat takdir pertemuan

 

Aih siapa peduli dirimu?

Sampai merengek waktu kembali lagi

Kau mana ada arti

mana ada guna

Kau perempuan nista

terbuang dari kumpulan kehidupan

Pekik sang waktu

yang guncangkan gendang telingaku

buatku sadar

Pada diri yang telah rusak

Remuk digerus sang waktu

 

Perempuan nista

Nikmatilah karma

dalam kerangkeng kubangan penyesalan

yang melumurimu

Menguburmu dalam helai-helai kafan

Ratapmu tiada guna

Inilah rangkaian kata

yang tersampaikan

Lewat pesan

pada jam dinding itu

dari sang waktu

yang tertawa lepas sembari berlalu

Melenggang dengan deru pekiknya

 

Karangmojo, 17 November 2018 @08.45 WIB

YuliNov 17, 2018 7:08:56 PM

Tugas 1 Realisme

 

Hari-hari Memuakkan

 

Hari-hari bersilat lidah

Hari-hari berbalas kata

Hari-hari berperang diksi

Hari-hari penegasaan identitas diri

Aku di sini kamu di sana

Hari-hari tatkala begitu sulit menjadi wasit

Jika mengkritik A, berarti kamu B

Jika  mengkritik B berarti kamu A

Hari-hari yang dengan singkat

mampu memutuskan pertemanan bertahun-tahun.

Hari-hari yang dengan dahsyat

melibas jiwa Bhinneka Tunggal Ika di hati kita

Akankah kembali masa di kala kita bersatu

dengan Garuda di dada kita?

Atau akankah nasionalisme kita terjun bebas

ke jurang terjal perpecahan?

Tugas 2  Ekpresionisme

 

Mengantarmu, anak solehah

 

Melihatmu tersenyum

Melihatmu tertawa

Melihatmu gembira

Menguap sudah segala lelah raga

Mendampingimu tumbuh

Membimbingmu menapak

Mendorongmu melangkah

Mengantarmu menyongsong masa depan

Bergayut harap akan keberkahan  anak soleha

Anakku

Dunia tak lagi berarti kala kau sematkan mahkota bagi orangtuamu

di surga kelak

Tugas 3 Impresionisme

 

Seperti aku

Hujan tak pernah kehilangan air

Untuk dituangkan ke sawah petani

Langit tak pernah kehilangan awan

Untuk meneduhkan hamparan bumi

Matahari tak pernah kehilangan cahaya

Untuk menjadi energi  fotosintesis

Udara tak pernah kehilangan angin

untuk menggerakkan kincir

Seperti aku yang tak pernah kehilangan rindu

Untuk mengaktivasi cintamu

IdaNov 17, 2018 7:49:41 PM

Sang Surya

By Ida Farida N

 

Semburatnya menembus

Diantara dedaunan

Belajar setia

menebar kehangatan

Selama putaran waktu

 

Biasnya  menembus

Diantara langit

Memberi makna

Menebar cerita

Selama putaran hari

 

Radiasikam panas

Diantara hampanya udara

Tanpa.membakar

Tanpa menyakiti

Selama putaran kesetian

 

Kuningan, 17nov2018

Ami SNov 17, 2018 8:54:03 PM

Tugas 3

 

SENJA

 

Senja kali ini

Terasa beda

Kuterpaku diam tanpa kata

Selintas sosokmu muncul

 

Tubuh renta

Kulit keriput menghiasi

Pandangan kosong

Seolah bertanya

Kapan bisa memelukku

 

Bercanda penuh tawa

Bercerita segala

Yang kualami hari ini

Bertanya seolah semua nyata

 

Kau perempuan terhebat

Yang aku kenal

Kau bukan orang pintar

Tapi kau sangat bijaksana

Tak kenal kemewahan

Tak kenal hiburan

Hidupmu hanya untuk

Aku anakmu

 

Perjalananmu

Telah sampai pada senja

Ketika selengkung  senyuman

Tangan terbuka untuk memeluk

 

Depok, 17112018

Edeh IainNov 17, 2018 10:03:15 PM

Tugas 3

Puisi impresionisme

 

MAWAR MERAH

 

Diantara hiasan taman

Rupa yang jelita

Warna merah menantang

Hasrat menggebu dahsyat

Bergelora

Membara

 

Wangi yang semerbak

Menusuk sengal nafasku

Memecah suasana pagi

Indah nan sejuk

Lembut mempesona

 

Menjadi penawar

Dinginnya jiwaku

Menjadi pelopor

Inspirasi hariku

Membakar semangatku

 

Duri mungil

Bertengger

Sebagai benteng

Sang mawar merah

Dari tangan-tangan jahil

 

Mawar merah

Slalu berdiri tegap

Tak lekang karena panas

Tak lapuk karena hujan

Tetap semangat

Berani

 

 

Cirebon, 17 November 2018

SHAFIYYAHNov 18, 2018 8:51:46 AM

Tugas 3

 

Senja dan Kerontang

 

Aku duduk di gubuk tak bernama, tak berdinding, tak bernomor

Gunung mulai menarik matahari

Padi bersalaman pada angin lalu

Di langit, burung-burung pulang

Di tanah, jangkrik mulai bercengkrama

Senja

.

 

Di sawah

Tercium lumpur  yang mengering di pematang, aroma sawah  kekuningan

Air sumur kecoklat, berubah warna

Rumput, dan tanah yang kering sedikit retak

Kerontang

.

 

Di gubuk

Bulan maret atau oktober

Angin timur atau barat

Sama saja

Senja tetap menyapa

Hanya ada yang berubah, syukur yang lupa diletakkan di hati.

 

Samarinda, 20181118

Astuti tuye BindoNov 18, 2018 4:19:10 PM

Astuti tuye Bindo

Tugas 2

Aliran Ekspresionisme

 

POST PARTUM

Payudara serasa melorot

Jahitan rasanya bikin melotot

Raga lunglai rasa tak punya otot

 

“Kamu itu harus mengASIhi, itu anak manusia bukan anak sapi”

 

Senyum getirku berubah tangis

Ketika air emasku tak cukup untuk si kejora hidup

itu salahku

Ketika rambutku kering, terurai tak beraturan

itu salahku

ketika ‘obras’ perinium tak kunjung buat ku tersenyum

itu salahku

 

Ya semua itu salahku

Merasakan raga tersiram saja itu luar biasa

Merasakan terlelap hitungan menit saja laksana mencicipi surga nikmatnya

Merasakan nasi beradu lauk dengan syahdunya tanpa terburu mengunyah

Sungguh fantastis rasanya

 

Masihkah kau bilang itu semua salahku???

 

Pulau Bunyu, Kalimantan Utara 8 Nov 2018

Suningsih ningsihNov 18, 2018 7:34:40 PM

TUGAS 3 (Puisi Impresionisme)

 

Menatap Indah Ciptaan-Mu

Oleh : Suningsih

 

Saat kuterhampar di sekeliling ciptaanMu

Begitu indah tak terkira

Dan takkan habis diuraikan dengan kata

Gunung menghijau

Ditemani  sinar matahari yang ceria

Sawah menghampar bak permadani  tebal

Dihiasi pohon padi yang baru disemai

Oleh tangan dingin pak petani tua

 

Air yang begitu tenang menyejukkan pandangan

Dilalui ikan-ikan kecil berenang

meliak-liukkan tubuh indahnya

Seakan tertawa bercanda riang

 

Gubuk kecil peneduh raga

Tempat menghilangkan haus dahaga

Dikelilingi pohon pisang bak penjaga

Dan pohon pandan nan hijau yang selalu setia

Harum mewangi selamanya

Membuat hati takkan pernah lupa

Memuji ciptaan sang Maha Kuasa

 

Jakarta, 17 November 2018

DewiNov 18, 2018 8:52:15 PM

Tugas 3

 

Peraduanku

Dewi Astuti

 

Sabtu, 17  November 2018

 

Aku kalah lelah dan beku dalam jalan yang  menepis

Kulalui dalam  guratan jalan yang panjang

 

Pikiran yang tak  luas dalam menyusur hingga diimpian tahta istana

 

Yang menanti pelita- pelitaku yg menunggu diperaduan

 

Untuk tiba dalam pelupukmu yang bersandar dalam terangnya cinta

 

Oh putera puteri kecilku  kau pelita harapan dalam menembus jiwa

 

Kusadari banyak yang mengobati rasa lelahku yaitu putra putri disisiku

 

Menjulang semangat  bersanggar dalam aktifitas di sekolah

 

Tuk meraih harapan yang membekali masa depan kalian dalam beradu pengharapan masa datang

 

Aldo dan Aisyah anak didikku  selalu ada untuk menghibur dalam rasa lelahku…

 

Semoga

Rasa lelah ini menjadi lillah

Rasa bosan jadi sirna

Oh pengobat hati berlalu lah dalam tangkisku untuk menuai cita..

 

Perangai itu  kau rangkaikan  dalam warna

Berjalan  dan berseri seri warna

Tuk wujudkan impianmu

Tugas 2

ekspresionisme

 

Pelita hatiku

 

Dewi Astuti

 

Ibu kau libatkan aku didalamnya

Limpahan raga dalam benakku

Terurai mata berseri dalam ajarku

Bersenjata dalam penamu yang khas

Berapikan dalam peneranganmu

Jelas dan terencana

 

Mejelajah cakrawala ilmu

Melatih berbudaya dalam   pengetahuan

Dewasaku kudapat dari sosokmu

Menyelami arah dalam hidupku

Masa depanku  ku gapai dalam genggaman cita- cita luhur

 

Tak terkikis bingkai wajahmu yang semangat

Tak ada raut mukamu yg sedih

Memukau  rasa penjelasanmu

Dengan segala  kasih dan sayang

Tak berarti jika kau tinggalkan

Tak peduli jika kau pergi

Tak ingar jik kau pergi

Tak berhias ku dalam  mimpi

Secercah impian masa emasku

Bertahta dalam kagummu

Bersinar dalam ucapanmu

Sederhana dalam ciptamu

Teduh dalam  hatimu

 

Bersandar pedoman mu

Menjelajahi para pendidikmu

Melalui alur yang kuat dan kokoh

Ranting kala itu goyah

Kau berada dalam kancahku

Mengobati rasa hampaku

Tak tercipta  tulus dalam lubuk hatimu

Memberikan arus angin yang positif

Menyinari dalam kisahku

Untuk mengukur prestasiku

Pelita pelita harapanku kau selalu hadir dalam nadiku

Berkilau asa  kami yang masih panjang

Terpukaulah dalam  masa depan penuh harapan

:rose::rose::rose:Sasri Ahyuni:rainbow::rainbow::rainbow::rainbow:Nov 18, 2018 9:15:51 PM

Hujan

 

Guntur dan guruh

Sambung menyambung

Sesekali kilat

muncul dan memberi tanda

Hujan akan turun

 

Kendaraan lalu lalang

Tanpa peduli dengan waktu

Waktu terus berjalan

Walau hujan terus menetes

Membasahi permukaan

Yang telah kering kerontang

Oleh kemarau nan panjang

 

Sunyi dan sepi

Trus mengiringi waktu

Hanya tetesan hujan

Yang bergemuruh

Menjadi nyayian malam ini

Seni yang penuh rangkaian bunyi.

 

Solok selatan, 18 November 2018

 

Puisi impresionisme

DewiNov 18, 2018 9:21:24 PM

Tugas 1 Puisi  realisme

Dewi Astuti

 

Liburku

 

Berjalan menyusur waktu

Berkisah dalam harianku

Bersinar warna wajah anak -anakku

Menjadi cerah dalam impiannya

Berjalan seharian  mencari bahagia dan tawa

Tersenyum tampak dalam riangmu

Melepas lelah dalam penatku

 

Merona  kasih dalam kedua anakku

Penat dalam menyingsing setiap hari

Belajar full menyongsong ilmu  menjadi hariannya

Aku patut mencari waktu bersamanya

Dihari  libur  penuh canda dan  tawa

Berkisah rasa yang hangat dalam pelukmu

 

Kutatap senang wajah mereka

Ingin rasanya mereka terus dalam pelukku

Tapi waktu yang terkadang membatasi kesibukannya

Kuabdikan tetap dalam  membahagiakanmu

Sampai kau bahagia dalam kisahmu

Erni EkawatiNov 19, 2018 3:05:21 PM

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 

Selamat siang sahabat semoga dalam keadaan sehat wal’afiat

 

Mohon maaf untuk kelas Puisi malam ini belum bisa terlaksana

Master Poem Master Dedi Wahyudi sedang berhalangan jadi belum bisa mengisi pertemuan malam ini

Insyaa Allah pertemuan berikutnya beliau bisa:pray::pray::pray:

Terima kasih

 

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Prapto Pujo YuwonoNov 19, 2018 7:58:03 PM

Dedi Wahyudi:

Materi kelas puisi malam ini adalah aliran2 sastra dalam puisi.Aliran sastra adalah ekspresi jiwa.pilihan estetis dan pandangan hidup yg menjadi titik tolak penciptaaan karya sastra.Aliran sastra dalam puisi adalah pilihan estetika,bentuk ekspresi dan pandangan hidup penyair yg mewarnai puisi2nya.Aliran sastra yg di anut seorang penyair sangat ditentukan oleh sikap hidup,ideologi,kejiwaan dan intelektualitas.Banyak alirab sastra yg menjadi corak dan warna jagat puisi.

Malam inj kita akan membahas aliran yg pertama saja yaitu ALIRAN REALISME.

 

ALIRAN REALISME INI SERING DISEBUT PULA REALISME SOSIAL ATAU SENI YG OBJEKTIF.ALIRAN INI MENUNTUT PENYAIRNYA UNTUK MELUKISKAN SESUATU SESUAI DENGAN KENYATAAN SECARA TELITI DAN DETAIL.ADANYA HUBUNGAN DIALEKTIKA ANTARA SASTRA DAN KENYATAAN.(WIDARMANTO,2013:17)

Materi kedua

Prapto Pujo Yuwono:

Dedi Wahyudi:

Assalamualaikum wrwb.Segala puji hanya milik Allah.Sholawat serta salam selalu tercurah kepada Rasul Allah.Selamat bertemu kembali dgn sahabat guru Indonesia yg luar biasa

Malam ini kita akan melanjutkan materi puisi aliran ekspresionisme.

Santai saja.

Jalan2 ke kedai pak Legi

Hendak membeli buah kuini

Selamat berjumpa lagi

Di kelas puisi malam ini

 

Ada peniti di dalam peti

Peti dibeli di toko Pak Ribut

Walau di rumah lampu mati

Kelas puisi tetap berlanjut

 

Aliran puisi ini mementingkan pengucapan secara spontan.Aliran sangat sesuai dengan jiwa penyair yg bergejolak dan meledak-ledak.Aliran ini lebih tepat digunakan untuk mengunkapkan gejolak  batin penyairnya

Contoh puisi ini adalah Aku karya Chairil Anwar

Dedi Wahyudi:

Malam ini kita akan melanjutkan materi ketiga dari aliran2 puisi yaitu aliran impresionisme. Yg berasal dari kata impresio yg artinya kesan.Impresionisme merupakan aliran sastra yg berusaha melukiskan kesan sesaat dari sesuatu hal yg diamati penyairnya.Kalau diperbandingkan dgn seni rupa,impresionisme ini adalah sketsa.Segala sesuatu tidak dilukiskan secara rinci,masih berupa gambaran kasar.

Khristi PuspitaNov 19, 2018 8:21:09 PM

Meja

Terang dan gelap

Kumaknai warnanya

Ketika dentingan waktu

Membuyarkan lamunanku diatasnya

 

Papan itu hari itu

Terasa kunikmati

Berada diatasnya

Menuangkan ide ideku di atas kertas

 

Kerasnya lembutnya

Meski tak kuhiraukan

Tetap berarti bagiku

Tanpanya tulisan kertas ini tak beraturan

 

Suatu ketika saat raga

Melemah payah

Tak ayal ia menjadi tempat bersandar

 

Kayu plastik ataukah besi

Bagiku  tak jadi soal

Papan itu mewarnai caraku mencari nafkah

Yayah KNov 19, 2018 8:37:04 PM

Bagaimana dgn puisi saya ini? Mari kita bandingkan utk dpt mentukan jenis puisi

 

MAAFKAN IBU

 

Maafkan ibu, Nak

Seperti sosok yang tak bertanggung jawab

Tapi inilah saatnya kau belajar arti prihatin yang sesungguhnya

 

Nak

Hidup ini memang keras

Siapa lalai akan tergilas

Tapi tak mengapa

Jalani dengan ikhlas

Tanpa mengeluh atau bahkan mempersalahkan siapa

Ada banyak pembelajaran di dalamnya

Belajar sabar, belajar ikhlas, belajar bahagia dengan apa yang ada

Maaf, saya share dulu puisi saya satu lagi ya, Mbah Pujo

 

MENEMBUS MENDUNG BERARAK

 

Betul

Sesungguhnya di dunia ini ada jutaan orang menderita

Tapi tidak semuanya menjadi mulia di sisi Allah

Manusia yang beriman bisa menyulap penderitaan menjadi kemuliaan

Empedu menjadi madu

Dan luka menjadi ceria

Demikian diungkapkan dalam sebuah kisah

 

Jika tak dapat berada di antaranya

Sungguh tak ikhlas jika harus menggadaikan harga diri

Mengenakan topeng kelana

Atau memoles wajah menebalkan muka

Tuk menjaring matahari

 

Mengapa pula semula mesti bersikap langit

Sementara kita berasal dari bumi yaitu tanah

Melangsungkan hidup di dan dari tanah

Ke sana pula hidup ini berakhir

Pijakkan saja kedua kaki ke bumi

Dan melangkah searah antara kanan dan kiri

Sekalipun bergerak bersamaan tak mesti

Memang tanya tak perlu lagi

 

Tak rela

Jika semua terbawa serta

Mengejar layang-layang putus

Menembus mendung berarak yg menutup biru langit

Menuai dahaga

Dari semula telah kubiarkan layang-layang terbang

Tanpa benang

Sebab pantun tak pernah berjejak

Kisworo VikiNov 20, 2018 9:03:26 AM

Aroma mistis

 

Malam hari nan gelap gulita

Tiada manusia yang berkata

Sunyi sepi berteman angin

Suara lolongan anjing memecah dingin

 

Harum wangi bunga terasa seram

Apalagi bau menyengat kemenyan

Bulu kuduk merinding bibir terdiam

Seolah hadir sosok menyeramkan

 

Ajaran ilmu Jawa akrab dengan ritual

Ritual tiada yang bersalah

Semua kembali kepada niat benar dan salah

Asalkan tak syirik dan ayat ayat yang dijual

 

Semua berbau ghaib tak semua negatip

Bukankah ajaran agama pun erat dengan mistis

Ambilah sisi mistis yang positip

Mudah mudahan hati suci tempat hati baik menitis

 

Pusaka apapun tiada kenapa

Pabila kita tak memujanya

Hanya sebatas hobi yang biasa

Tanpa harus memandang sinis pecintanya

 

 

Indramayu, Maulid Nabi Muhammad SAW

KISWORO PH

IdaNov 20, 2018 4:23:55 PM

Gadis Kecil

Karya kecil dihari anak

Ida Farida Nurani

 

Aku adalah gadis kecil

Dari langit yang tenggelam

Tak berdaya dalam keraguan

Tak berdaya dalam  kehampaan

Aku diam seribu bahasa

Dari nyanyian pujangga cinta

Karena tahu itu bukanlah kepatuhan

Hanyalah keserakahan dalam arogansi

Suaramu aku simpan dalam diam

Bukan untuk meminta bayaran

Tapi aku sudah muak

Dengan nyanyian cinta yang palsu

Aku adalah gadis kecil

Yang tak tahu kemana mencari kepastian

Bertanya pada siapapun

Hanya bilang aku yang salah

Lagu ku tergagu

Tangisku terjerat

Jeritku tertelan

Karena aku gadis kecil

 

20112008

Tugas 3

Khristi PuspitaNov 22, 2018 9:52:38 PM

KAMBING HITAM

 

Jika aku menginginkan rembulan untuk apa harus mengincar matahari,

bila panasnya hanya akan merobek robek arti dalam setiap denyut nadi indra perasaku

Sebenarnya bukan aku perusak kilauan cahaya matahari

Tapi matahari sendirilah yang menginginkan dirinya hancur dalam kemunafikan

Sungguh keji seorang wanita yang menyebutku sebagai bunga pengganggu

Yang sebenarnya kumbang sendirilah yang telah menuju ke keharuman bunga bunga lain

Aku bukanlah kabut yang selama ini kau sebut sebut sebagai perusak pandangan

Tapi aku digunakan lebih keji dari sekedar keji

Seekor kambing hitam

Yaa…aku diibaratkan sebagai seekor kambing yang berwarna hitam

Dan jika kau cukup pandai akan kau tahu arti makna itu

Melani HafizahNov 23, 2018 10:19:19 PM

Galau

Oleh Melani Hafizah

 

Ada resah menyelinap kalbu

Saat rasa tak lagi berpadu

Gelisah tak tentu arah

Tak tau langkah dituju

 

Ada sakit yang mendera

Ada bara bergelora

Saat asa mulai menerpa

Hatiku terasa lara

 

Saat bibir tak mampu berkata

Saat mata tak mampu menatap

Hanya kecewa yang kurasa

berteman malam gelap

 

Derasnya air hujan

Sederas air mata ini

Dalam rindu yang terpendam

Ku sebut namamu dalam diam

 

Duhai angin malam

Temani aku dalam penantian

Antara benci dan rindu

Berpadu mencipta sendu

 

Takengon, 23/11/2018

Guruku

Oleh Melani Hafizah

 

Guruku

Begitu besar jasamu

Begitu tulus pengabdianmu

Demi anak didikmu

 

Walau berjuta halangan datang menerjang

Namun semangatmu tak pernah goyang

Demi muridmu tersayang

 

Guruku

Begitu banyak nama disematkan untukmu

Tapi tak mampu membalas jasamu demi anak negeri mu

 

Guruku

Engkau adalah pelita

Yang menerangi langkahku

Di kegelapan dunia

 

Guruku

Dengan apa kubalas jasamu

Engkau rela meninggalkan keluargamu

Demi membekaliku ilmu

 

Guruku

Hanya doa terindah yang sanggup kupanjatkan

Semoga engkau selalu

Diberi kesehatan

 

Guruku

teruslah berjuang meski tak ada yang perdulikanmu

Karena disetiap ilmu yang kau beri ada pahala dari Ilahi

 

Takengon, 23/11/2018

Pujaan hati

Oleh Melani Hafizah

 

Seraut wajah tampan

Tersirat di ingatan

Tak lepas dari bayangan

Menyelinap ke alam hayalan

 

Ingin rasanya kau kudekap

Hingga ku tertidur dalam lelap

Penuhi gejolak rasa dalam jiwa

Berkelana di alam fana

 

wahai arjuna cinta

Bawalah daku bersamamu

Agar rasa ini bisa berpadu

Menyatu dalam ikatan rindu

 

Dibawah sinar rembulan

Wajahmu elok kupandang

Hatiku terasa tenang

Saat kita bergandeng tangan

 

Duhai kekasih pujaan

Janganlah cepat menghilang

Kuingin habiskan malam

Denganmu seorang

 

Takengon, 23/11/2018

Yayah KNov 25, 2018 9:26:03 AM

DOAKU UNTUKMU, GURU

Karya: Yayah Kurniyah

 

Doaku untukmu guru

Untuk ragamu yang tak kenal lelah mendidik

Untuk suaramu yang tak kenal lelah menyeru

Untuk uluran tanganmu yang tak kenal lelah membimbing

Untuk tatapan matamu yang meneduhkan sukma

 

Doaku untukmu guru

Untuk semua jasa yang kau beri

Untuk setiap rasa sabar yang kau pelihara di dalam hati

Untuk energimu menolak lelah atas kenakalan kami

Untuk kekuatan batinmu menepis bosan atas tugas-tugas setiap hari

 

Doaku untukmu guru

Untuk semua ilmu yang kau beri

Untuk semua cinta yang kau tebar

Dalam sukma kami kasihmu selalu hadir

Menghangat dalam darah yang mengalir

 

Doaku untukmu guru

Untuk semua pengorbananmu

Untuk semua rasa syukurmu

Untuk semua ikhlasmu

Mengabdi pada bumi pertiwi

Mencerdaskan setiap generasi

 

Doaku untukmu guru

Semoga tuhan menyehatkanmu

Memberkahi umurmu

Memudahkan setiap langkahmu

Dan segala urusanmu

Melindungimu dan membahagiakamu hingga akhir hayatmu

Doaku selalu kupanjatkan untukmu

Guru

 

Hari guru, 25 November 2018

Murniati YetNov 25, 2018 9:56:27 AM

Tugas 3

Tugas Mulia

Oleh Murniati

 

Dalam keraguan

Nurani berbisik

Menyampaikan pesan

Tuk menjadi orang Mulia

 

Tuk s’lalu berbagi ilmu

Mencerdaskan generasi

Agar dapat membantu tangan tangan mungil

Merangkai kata

Menulis aksara

Memahami angka angka

 

Ketika keyakinan diri mengendap dalam jiwa

Agar istiqomah

Bersama pilihan Allah

Mengikhlaskan raga

Mendidik anak bangsa

 

Saat hati berkata

Tetaplah dalam pilihan

Jangan pernah berubah

Dalam kata dan sikap

 

Usah risaukan dunia

Tetaplah menjadi cahaya

Nan senantiasa menyinari

Bagaikan mentari menerangi bumi

 

Tak pernah berharap pujian dan balasan

Walau kadang ujian

Nan datang menyapa

 

Saat hati berbisik

Pelan dalam kelembutan

Teruslah berjuang

Menebar kebaikan

 

Padang, 25 Nov 2018

Rochani HandayaniNov 25, 2018 10:20:13 AM

Untukmu Guru

 

Ini untukmu guru

Kau harus tahu!

 

Bahwa pekerjaanmu amat mulia

Bekerja dengan masa depan anak manusia

Yang dipundak mereka,

Ada harapan besar ayah bunda, bangsa, negara, dan agama

 

Ini bukan pekerjaan biasa!

Ini sungguh luar biasa!

Tak bisa dipandang sebelah mata

Tak bisa dilakukan begitu saja,

Suka-suka!

Tanpa energi daya cipta dan cinta

 

Padamu ada semangat baja

Untuk terus berusaha mencari cara

Bantu mereka, anak-anak Indonesia

Menemukam potensi terbaik mereka

Menjelma menjadi pribadi-pribadi berharga

Untuk kejayaan bangaa dan negara

 

Ini untukmu guru,

Kau harus tahu!

 

Inspirasimu tak kan lekang ditelan waktu

Kubawa selalu kemana pergiku

Doa terbaikku untukmu selalu

Dalam sujudku memohon untukmu

Terima kasih guruku

 

Selamat hari guru

Rochani handayani -251118

Min RosminiNov 25, 2018 10:59:28 AM

ode buat guru

 

 

kalau sudah sampai waktumu

takkan punah tinta jasamu

bertahun-tahun jasa baktimu

banyak memberi segala ilmu

 

takkan ternilai yang kau ajarkan

nilai-nilai sumber suri tauladan

tanpa lelah engkau mengabdi

tiada sayabg engkau berbagi

 

terima kasih kami ucapkan

atas segala yang diberikan

budimu tertanam di ingatan

tak akan pernah kami abaikan

 

maafkan kami guruku

selalu alpa pada petuahmu

hingga akhirnya kami sadari

nasihatmu sungguh berarti

 

tenanglah, guruku …

tenanglah dalam masa tuamu

bercanda dengan anak cucu

biar kami yang akan melanjutkan

nilai-nilai perjuangan pendidikan

seperti yang sering engkau ajarkan

 

senja kini telah menjelang

jasamu akan selalu dikenang

terukir emas dalam sanubari

terpatri kuat di persada negeri

 

 

 

Min Rosmini_Jakarta, 25 November 2018

Yosra DiniNov 25, 2018 11:50:16 AM

Guruku idolaku

 

Ketika esok senin tiba

Tak ayal hatiku gembira

Betapa ku ingin dipelukmu

duhai guruku  idolaku

 

Ketika resah menerpa

Teringat akan senyummu

Sembari membelaiku

Hilangkan keresahan ku

 

Ketika duka melandaku

Betapa hatiku iba

Namun ketika kau sandarkan ku

Dalam pelukanmu

hilang semua rasa sesakku

 

Duhai guruku

Betapa besar arti hadirmu

Mampu membuatku bahagia

Mampu memecahkan kebisuanku

Memberi tanpa mengenal pamrih

 

Duhai guruku

Hanya pada Tuhan ku gantungkan do’aku

Semoga jasamu memberi arti

Semoga Tuhan menjagamu tiada henti

 

Yosra Dini, Sijunjung, 25 November 2018

MuhajirahNov 25, 2018 1:57:03 PM

:tulip::tulip:Guru pilihanKu:tulip::tulip:

 

Oleh : Muhajirah

 

Hanya sebuah kebetulan

Ataukah rencana dariNYa

Hanya sebuah pilihan

Ataukah takdir hidupku

 

Kupilih karena tak ada

pilihan lain

Kujalani karena sudah

menjadi pilihanku

 

Ada secerca kata

sesal dilubuk hatiku

Kenapa pilihan hidupku

jatuh padamu

 

Awal menjaliniMu adalah sebuah beban dalam hidupku

Hatiku masih terlalu muda

Menerima kenyataan ini

 

Tahun 2008 Pertama bersamu

dalam gelar itu

Takut rasanya menyandang gelarMu itu

 

Gelar itu terus memaksaku

Mencari vitamin penyokong tubuhku

Gelar itu terus menghantuiku

Menciptakan mimpi yang serasa

Mala petaka dalam hidupku

Hari-hariku terasa suram

Suram yang tercipta dalam batinku

Gejolak batin yang ingin lepas

Lepas dari gelar itu

berpindah gelar baru

 

Detik ke jam

Hari ke tahun

Kulalui dengan berat

Tetapi lain dengan waktu

begitu mudah

Berganti pagi ke siang

 

Relung hatiku bergejolak

Berusaha iklas dan pasrah

Relung hatiku terus memaksa

Untuk bangun dari mimpi

Mimpi yang menurutku buruk

 

Lubuk hatiku semakin berkecamuk

Semakin hari semakin mengamuk

Ah… gelar ini begitu berat

 

Aku dalam gelarku

Tak boleh diam dan menyerah

Aku dengan keterbatasan jarak

Keterbatasan dari peluang gerak

Harus bangkit dan maju

Menuju kesempurnaan yang kuinginkan

 

Awalnya dari coba-coba

Coba beragabung ke komunitas

Bertemu sapa dengan siapa

Siapa disana siapa disini

Membagi cerita

Mengambil cerita

Rasanya terlahir setitik semangat

Semangat untuk maju

Seperti rekan lain

 

 

Terimakasih untuk rekan -rekan guru

Dimana pun berada

Walau wajah dan nama tak kenal

Namun goresan katalah

Yang mampu mewakili jabat tangan kita

Kata yang tergores

Menggores hati sampai berbekas

Bekasnya pun akan selalu berbekas

Rangkaian goresan yang begitu bermakna

Akan menjadi motivasi dalam

Menyandang gelar itu

‘GURU’ terimakasi

Karena engkau bersamaku

Begitu kerasnya engkau menghantuiku

Hingga aku bisa terbangun

Belajar dan belajar mengenal dirimu

Terima kasih

Karena engkau disematkan padaku

 

 

Murung Raya (Kalteng)

25 November 2018

Vera HNov 25, 2018 7:02:54 PM

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Oleh : Vera Handayani

 

Duniaku dulu tak seindah ini

Hanya sepenggal kisah

Tanpa warna

Duniaku dulu tak sependar ini

Hanya sepotong jiwa

Merindukan binar

Duniaku dulu gersang

Hanya tubuh dipenuhi dahaga

Menanti embun pagi menyejukkan

Duniaku dulu hampa

Hanya buku kosong

Tanpa tulisan bermakna

 

Saat kau datang

Menabur warna

semaikan sinar

tebarkan embun yang menyejukkan

Lalu kau goreskan

Satu persatu huruf penuh makna

Dengan tinta saktimu

Pada jiwa gersang tak berilmu

 

Hingga hidupku saat ini

Berwarna, berbinar dengan

Kata bermakna yang kau ukir

Terima kasih,

Pahlawan tanpa tanda jasa

Terima kasih…

 

Bogor, 25 November 2018

Yayah KNov 25, 2018 7:43:54 PM

AKU, GURUKU, DAN MURIDKU

Yayah Kurniyah

 

Guruku, bersamamu kulalui sebagian proses hidupku, dan sampailah aku pada sesi yang kutapaki. Kini kuikuti jejakmu. Kan kugiring anak-anak bangsa menyusuri jalan yang mesti mereka pijaki sampai di perbatasan.

 

Siswaku, kutuntun tatihmu meniti jembatan peradaban. Menurutlah, Nak agar sampai pada tujuan.

 

Aku adalah guru, namun aku juga punya guru. Perkenankan aku, dan kami mengucapkan salam hormat padamu. Kepada kalian wahai guruku yang telah memotifasi, menginspirasi, mencerdaskan kami, dan mengantarkan kami dengan gigih -meski kami terkadang mogok sapi. Tak mau bergerak, melangkah maju- ke masa, di mana masa itu mau tak mau harus kutapaki.

Sungguh tak dapat siapapun pungkiri bahwa keberhasilan sebesar apapun yang kami dapat gapai sekarang adalah peran sertamu, hasil kerja kerasmu, hasil upaya gigihmu, Guruku.

 

Tak dapat kupungkiri, belai kasih dari hatimu di masa lalu adalah keridhoan yang mengantar pada keberkahanku di masa sekarang. Tak kubiarkan namamu sirna dari hatiku, karena hanya sekadar dengan itu aku membalasmu.

Ya. Hanya dengan itu. Selebihnya aku tak mampu.

Semoga aku mampu membalasmu melalui langkah-langkah kecilku kepada peserta didikku, setulus-ikhlas pengorbananmu wahai para guruku.

 

Aku, mewakili siswa di masa lalu.

kusrifahNov 25, 2018 8:38:18 PM 119

Guruku

Oleh Kusrifah

 

Kau kayuh sepeda tua

Setiap pergi mengamalkan ilmu

Panas hujan tiada kau rasa

Peluh kringat membasahi

 

Lelah tiada kau rasa

Menitih jalan yang slalu

Berubah dengan cuaca

Bila hujan tiba jalanpun kau tempuh

 

Sepuluh kilo jalan, lelah nan penat tak kau rasa

Tak pernah ngeluh

Walau upah tiada cukup

 

Guruku

Kau slalu berpesan

Anak-anakku

Jaga dirimu

Jaga imanmu

Jaga agamamu

Jaga keluargamu

Jaga negaramu

 

Guruku

Pesanmu mengiang slalu ditelinga dan lubuk hatiku

Guruku kau pelita ditengah

Gelap pengetahuan

 

Guruku

Kau ajari aku dari tidak tahu menjadi tahu

Dari tiada kenal tulis dapat mahir menulis

Jasamu tiada terlupakan

Jasamu mencerdaskan

Kaulah pembngun peradaban

Terimakasih guruku

 

Ruang komputer,

Pati, 25-11- 2018

NazariahNov 25, 2018 9:16:54 PM

@UIBI_INSFIRATIF

 

*Hati*

 

Kutabur asa dari beningnya hati

Yang merindu bulan di malam hari,

Menemani zikir panjang di malam sunyi,

Dan memberi keteduhan dalam sujud panjangku

Iringi syukur tak henti pada SANG PEMBERI

 

Kusebar semangat dari merahnya hati

Yang menanti hangatnya sang mentari

Mengiring langkah mencari rezeki

Menebar ilmu pengetahuan di bumi pertiwi

Antarkan anak negeri jadi lebih berarti

Dalam ilmu, iman dan akhlak yang mumpuni

Hingga mampu menjadi garda terdepan negeri ini..

Satu masa nanti.

 

Kubagi kasih dari lembutnya hati

Yang menemani sejuknya udara di pagi temeram

Mendampingi kaki-kaki mungil berlari mengejar impian

Wajah-wajah ceria penuh harapan tuk gapai masa depan

Walau dalam keadaan kehidupan yang kadang suram dan pas-pasan

Bersekolah kadang kelaparan karna tak makan

Dengan baju kusam dengan tambal sulam

Sepatu menganga bagai nak makan, tak sekedar pasir bahkan kerikilpun ditelan

Bersama mereka selalu membuatku menyadari bahwa dalam hidup ada banyak jalan dan tak semuanya nyaman

Maka ku akan tetap sabar dan istiqamah dalam perjuangan

 

Kubagi cerita dari luasnya hati

Yang berjuang sepanjang masa

Dengan untaian doa untukku dan sesama pejuang tak kenal lelah

Yang mengabdi di mana saja

Di kaki-kaki gunung dan di lembah

Di pedalaman dan di kota

Di lokasi terjauh, terluar dan terpencil yang hanya ditemani lentera, tanpa listrik, hp atau TV berwarna

Yang terus berjuang atas nama pengadian tak kenal lelah

Walau gaji tak seberapa, sertifikasi tak terdata, PNS hanya jadi mimpi tak sudah

Padahal usia tak lagi muda, apakah PNS hanya akan jadi cita-cita saja?? Bahkan sampai saat menutup mata??

 

Kutulis kisah dari tulusnya hati

Yang akan setia seperti sang udara yang beredar terus sepanjang hari

Maka kita kan tetap berjuang tanpa pamrih dan takkan berhenti,

Selama masih berdenyut sang nadi

Maka biarlah kita tetap berarti mengabdi untuk negeri

Walau mungkin mereka tak perduli dan hanya memberi janji-janji basi

Tapi jangan pernah biarkan semangat kita mati

Karna harga kita bukan sebatas pegawai negeri

Anak didik yang berbudi pekerti

Mampu hidup mandiri

Berkontribusi untuk negeri

Itulah hadiah tak terperi dan sangat berarti

 

Kukirim salam dari rindunya hati

Seperti terbitnya mentari di ufuk timur

Pada harumnya tanah basah di pagi hari

Dipercik embun nan jatuh dari tepian daun keladi

Dan merdunya nyanyian burung kenari, mengiringi kupu-kupu menghisap madu di pucuk bunga melati

Begitulah kita para guru yang menanti murid-murid di pagi hari

Semoga bahagia selalu di hati

 

“Tuk rekan seprofesi dimanapun berada..

Mendidik dengan hati, mengabdi untuk negeri*

23-04-2018

 

*Share kembali di hari guru*

:small_red_triangle:Yuyun Nazwa:small_red_triangle_down:Nov 25, 2018 9:26:16 PM

GURU HEBAT

 

Guruku hebat

Bgmn tdk hebat

Rutinitas pg hrs serba hemat

Bangun tepat

Mandi cepat

Sarapanpun kdg tak sempat

 

Guruku hebat

Bgmn tdk hbt

Tiap hr mnopang martabat

Walau kdg tak brsahabat

:rose::rose::rose:Sasri Ahyuni:rainbow::rainbow::rainbow::rainbow:Nov 25, 2018 9:54:36 PM

Sasri Ahyuni:

Tuan guru

 

Setiap pagi tuan guru slalu berkata….

Anak-anak, belajarlah dengan sungguh-sungguh, biar kelak engkau menjadi orang yang berguna untuk kedua orang tuaku dan bangsa ini…

 

Pesan itu terus berkumandang

Dalam lingkaran kitab kehidupan

 

Kini waktu trus berputar

Tuan guru pun kini entah dimana

Aku yang kini tlah tumbuh dewasa…

Berkat dirimu tuan guru, aku bisa mngabdi pada kedua orang tuamu, dan bangsa yang tercinta ini

Disini tempat lahir beta….

Dibuai dibesarkan bunda

Hingga tuan gurupun muncul memberi rona dan irama hidupku.

 

Tuan guru… dmnpun dirimu berada, engkau slalu ada dalam dekapan rinduku.

Aku rindu senyummu , tawa candamu, Tuan Guru.

Trimakasihku untukmu Tuan Guru

Atas segala ilmu yg berguna

Untuk bekalku di masa depan.

Doaku untukmu,

Dmnpun Tuan Guru berada,

Semoga Allah menyanyangi dirimu seperti Allah menyayangi kedua orang tuaku.. amin…

Dhaniez JaberNov 26, 2018 11:11:08 AM

Aku Jadi Guru

 

Panas sore hari beri kehangatan untuk berjumpa dengan teman – temanku

Janji bertemu dibawah pohon mangga dekat kebun pak lurah kami jalani

Duduk berjajar kami menanti kawan yang sehati

Bercanda, main tebak-tebakan, dan bercerita tentang kegiatan di sekolah hari ini

Ayuk kita mulai saja

Lengking suara Tina menyapa

Bergegas kami bangkit dan menyatu sesuai aba

Maju langkahku ke depan

Aku yang akan menjadi guru dan kalian semua adalah muridku

Aku…aku…aku.. semua angkat tangan

Tidak, kali ini aku yang menjadi guru

Aku akan ajarkan kalian bagaimana meniru gaya gurumu di depan kelas

Tawa lepas sebagai tanda setuju

Berdiri di depan sahabatku dan mulai ku meniru

Jalan agak membungkuk dan membawa rotan kecil ditanganku

Ayo hampiri aku karena aku adalah bu guru

Cium tanganku dan beri salammu

Selamat pagi anak-anakku

Selamat pagi bu guru

Kita mulai pelajaran hari ini dengan berdoa,berdoa selesai

Hari ini kita akan belajar perkalian kelipatan 6

Aduh saya belum menghafal semalam bu

Saya tidak akan maju kedepan bu

Deeeeer rotan kecil kupukulkan di tangan mereka

Sakit, perih dan sedikit membiru

Besok saya akan maju bu beri saya waktu

Baiklah besok kalian harus maju dengan tanpa alasan apapun

Bila tidak pantatmu yang akan ibu cambuk memakai rotan ini

Iya bu guru

Pecahlah tawa lepas mereka Mentertawakan gaya guru yang kutiru

Sejenak ku tersipu akankah aku juga ditiru oleh murid-muridku

Ingatanku kepadamu guruku

Doa dan semangatmu jadi kekuatan terbesar dalam hidupku

Selamat hari guru

Edeh IainNov 26, 2018 11:50:43 AM

Puisi yang dibacakan oleh siswa SMK Veteran

ananda Dewi kelas XII AKL pada Upacara Hari Guru tahun 2018.

 

Guruku Sang Pelopor

 

Oleh E Sukaedah A

 

Wahai Guruku

Kau inspirasiku

Kau sosok idolaku

Kau sang pelopor

 

Kau bukan seorang yang bodoh

Karena kau ajari kami

membacan dan menulis

Kau bukan orang lalai

Karena kau ajari kami

untuk hidup disiplin

Kau bukan seorang pendusta

Karena kau ajari kami

untuk bersikap jujur

Kau bukan seorang yang gaptek

Karena kau ajari kami untuk melek IT

Kau bukan orang lemah

 

Karena kau ajari kami

Untuk jadi orang yang kuat

Kau bukan seorang pemberontak

Karena kau ajari kami

Untuk menjadi orang yang taat

Kau bukan orang yang putus asa

Karena kau ajari kami agar tetap semangat

Kau bukan seorang penakut

Karena kau ajari kami menjadi seorang pemberani

 

Terima Kasih Guruku Tercinta

Jasamu tak ternilai dengan apapun

Pengorbanan mu tak bisa tergantikan dengan harta

Perjuanganmu

Kegigihanmu

Kreativitasmu menjadi ruh yang teranyam dalam pribadimu

Kami bangga padamu,  dan kami siap Menjadi generasi barumu

Di abad Milenia ini.

 

Cirebon, 25 November 2018

MuhajirahNov 26, 2018 2:18:27 PM

Muhajirah

 

:zap::zap:janjimu:zap::zap:

 

Bunga yang dinanti

Telah tumbuh di taman kami

Wanginya mampu menghipnotis kami

Seakan aroma itu

hanya miliknya

 

Kami mendesah kagum akan dirimu

Kami bagaikan anak burung yang menanti setetes embun di ujung daun

Engkau hadir bagaikan matahari ke dua

Yang akan menambah terangnya langkah kami

 

Duri terbalur rapi mulai menutupi keindahanmu

Wangimu mulai menusuk penciuman kami

Aroma tak sedap mulai berkeliaran

Hingga kesadaran membangunkan kami

 

Dusta dalam rangkaian katamu

teralun merdu

bak nada sempurna

Kata penuh makna dan isyarat

seakan engkaulah

makhluk sempurnanya

 

Bangunlah wahai sang pemimpin

sadarkan dirimu

Sebelum dirimu sendiri

Muak akan dirimu

 

Ingatlah . . .

diatas langit masih ada langit

Ingatlah . . .

Yang kau semai akan dituai

Ingatlah . . .

di atas sempurna masih ada  Yang sempurna

Ingatlah . . .

Ingatkan dirimu sebelum

Sang pencipta mengingatkanmu

 

 

Murung Raya (Kalteng)

26 November 2018

Edeh IainNov 27, 2018 7:09:23 AM

Sebuah Fatamorgana

 

Oleh : E.Sukaedah A

 

Saat ke malihat tingkahmu

Yang aneh dan misterius

Ku terpanggang dengan amarah

Yang Membakar jiwaku

Padahal

Yang sesungguhya

Saat ini ku dirundung syahdu

Dan rindu yang mendera

 

Ku terbius dengan rasa kecewa

Akan sikapmu yang seakan tak peduli

Padaku

Dengan sajian wajah kecut

Nada bicara menanajak

Ku tak biasa dengan semua

Suguhanmu padaku

 

Ku terjebak dengan sikap imitasimu

Kau lempar ku dalam kebingungan

Sikapmu yang tak layak

Kau tipu aku dengan kepalsuan

Kau mainkan emosiku

 

Aku memang konyol

Dibalik semua jamuanmu

Yang kau ramu begitu indah

Tlah membuatku gerah

Senyumkupun terkunci

 

Ternyata kau memang

Pandai beracting

Permaianmu begitu

sempurna

Kau sampai ke titik finish

Membuatku malu

Dengan sikapku padamu

 

Kau berhasil mengoyak hatiku

Yang terjebak dengan kebencian

Dengan keangkuhanku

Dan arogansiku

 

Tapi kini kusadari

Ternyata itu semua palsu

Begitulah cara kau mengujiku

Begitulah cara kau patri hatiku

Dalam mengikat janji suci

 

Kau memang imamku

Kau kendaliku

Kau suhuku

Kau idolaku

Dengan sejuta pesonamu

 

Hanya satu tujuanmu

Kau inginkan slalu istiqomah

Dalam menyiangi hati

Agar tetap suci bersih

Dalam merajut cinta

Penuh iklas

 

Menata hidup indah

bersamanya

Penuh cinta kasih

Tuk meraih kebahagiaan

Yang hakiki

Di akherat kelak

Di hadapanNya

Kita slalu bersama

 

 

Cirebon, 27 November 2018

:heart::heart::heart::heart:

Ira IndiraNov 27, 2018 8:27:07 AM

Puisi Ekspresionisme

 

Cinta Luar Biasa

Ira Indira

 

Tetes Air Mataku

Bertemankan keringat cinta

Jalan berliku dan panjang

Berlalu penuh perjuangan

Sungguh tak terkata

Jalan cinta tidaklah mudah

Menebar kasih sepanjang usia

Melantunkan cinta dalam detak nadi

Hanya demi indahnya cinta-Mu

 

Sepanjang masa semua berkata

Bahwa cinta-Mu bukanlah sekedar cerita tapi rasa yang menggetarkan jiwa

Menggelora dan

Membangkitkan semangat

Berjuang dan beribadah

Cinta-Mu sungguh luar biasa

Kasih-Mu tulus sepenuh jiwa

Pertolongan-Mu bukan rekayasa

Menguatkan saat lemah tak berdaya

Engkau yang selalu memaafkan setiap salah

Membangkitkan semangat Pendosa dengan taubatnya

Sungguh Rahmat dan Rahim-Mu

tiada terkira.

 

Rengat, 171018

Asri WidjayaNov 27, 2018 11:46:05 AM

Asri Widjaya: tugas 1,realisme

Muridku

Muridku,

Aku tahu engkau tak selalu mengerti apa yang kubicarakan

Ketika bilangan bulat,bilangan berpangkat,dan barisan bilangan ku bisikkan

Aku tahu engkau tak selalu paham

Ketika aljabar,geometri,dan kesebangunan ku torehkan

Namun aku yakin,

Kesungguhanmu,ketekunanmu,dan penghormatanmu

Pada apa yang telah kubisikkan dan kutorehkan

Akan mengantarmu pada suatu keberhasilan dan kesuksesan

 

Muridku,

Tak perlu kau bersusah payah menuliskan catatan kecil untuk contekkan

Tak usah kau sembunyi sembunyi melirik pekerjaan kawan

Karena aku yakin ,

Dengan kejujuranmu ilmu barokah kan kau dapat

Dengan kepercayaan dirimu nilai terbaik kan kau dekap

Dengan ketawadhu’anmu kemuliaan hidup kan kau pikat

 

Muridku,

Doaku takkan putus disetiap waktu

Asaku takkan hilang di telan waktu

Untukmu yang selalu tersemat dalam labirin hatiku

 

Kur Asriatun ,MTsN 1 BWI,25 Nop 18

Yosra DiniNov 27, 2018 11:47:43 AM

Lentera hidupku

 

Ketika asa terombang ambing dilautan

Ketika lelah menyeruak didalam kalbu

Ketika bunga berguguran diterpa angin

Ketika itu pula aku di bangun kan oleh Sang maha agung

 

OHati lelah tak berujung mencari tempat bersandar

Ketika gelap gulita melanda

Mencari sebuah lentera

Bersimpuh bermunajat dihadapanMu ya rabb

Mohon dialirkan secercah air

Mohon diberikan pelita hidup

Sehingga aku tidak lagi diombang-ambing oleh gelombang

 

Ya Rabb, kembali aku diingatkan

AkanMu

Yang selalu ada dan menemaniku

Sehingga aku tidak lagi terlunta-lunta

 

Ya Rabb, kembali aku diingatkan akanMu yang akan menerangiku dikala gelap.

Sri YuliatiNov 27, 2018 12:15:52 PM

Tugas 1

 

KERAGUAN

 

Kutak mampu lukiskan kata

Dari rasa yang menyeruak

Ku pun tak mampu …

Memilah rasa yang berbeda..

 

Kutak bisa berikan luka

Dari rasa yang tlah kau tawar

Tapi aku pun tak mampu memberikan lara

 

Bilur bilur yang telah terlukis

Biarlah menjadi warna..

Dalam kanvas yang bertinta emas..

Demikian rasa…

 

Jangan kau bangun prasangka

Tak seorangpun mampu menembus sukma

Kata hanyalah kata..

Yang tak pernah kumaknai..

Tak pernah ku rasa

Kosong…nyaring..

Rasaku terdiam..sukmapun membisu

 

By.Sri Yuliati

Purbalingga, 27 November 2018

Erni EkawatiNov 27, 2018 12:18:47 PM

Sri Yuliati:

Tugas 1

Puisi Realisme

 

KERAGUAN

Oleh : Sri Yuliati

 

Kutak mampu lukiskan kata

Dari rasa yang menyeruak

Ku pun tak mampu …

Memilah rasa yang berbeda..

 

Kutak bisa berikan luka

Dari rasa yang tlah kau tawar

Tapi aku pun tak mampu memberikan lara

 

Bilur bilur yang telah terlukis

Biarlah menjadi warna..

Dalam kanvas yang bertinta emas..

Demikian rasa…

 

Jangan kau bangun prasangka

Tak seorangpun mampu menembus sukma

Kata hanyalah kata..

Yang tak pernah kumaknai..

Tak pernah ku rasa

Kosong…nyaring..

Rasaku terdiam..sukmapun membisu

 

Purbalingga, 27 November 2018

EfayantiNov 27, 2018 7:51:55 PM

Tugas 3

Imprialisme

 

 

Langit siang selalu terang

 

Bayangan dirimu selalu muncul

Senyum mu selalu hadir

Ditengah teriknya mentari

Dibesarnya batuan alam

Gagah nya dikau wahai guruku

Gemulai jalan kakimu menuju kelasku

Tak kenal kata lelah

Tak terasa cadas sangat tajam

Tak peduli kerikil menghadang

Berjuang selalu untuk para penerus

Mencetak selalu insan cendikia

Mengirim terus peluru-peluru pengisi waktu

Penerus estafet perjuangan pahlawan

Guru yang tak kenal lelah

tak punya batas asa..

 

Efayanti bukittinggi

27 nov 2018

Ka JendroNov 28, 2018 9:25:05 PM

Guru

Oleh: kakjendro.com

 

Guru memang harus digugu

Guru memang harus ditiru

Murid harus menurut pada guru

 

Dulu…

Aku kadang tidak menggugu guru

Kadang aku tidak meniru guru

Kadang aku tidak menuruti guru

 

Sekarang…

Aku jadi guru

Sebagian muridku tidak menggugu aku

Sebagian tidak meniru aku

Sebagian tidak nurut sama aku

 

Semarang, 261018

Yayah KNov 29, 2018 4:12:13 PM

Tugas 3 Puisi Imperialisme

 

 

HENING SENYAP

Karya: Yayah Kurniyah

 

Langit senja memerah tembaga

Kunanti sunset menyempurnakan keindahan

Kunikmati indahnya

Meluruhkan lelah kerja sepanjang siang

Sampai kelam datang menjelang

Mengantar kita menuju peristirahatan

 

Malam datang bersama gemintang

Kemerlipnya bak hamparan permata

Menghias kelam

Meski rembulan tak turut serta

Sampai nanti saatnya tiba

 

Hening

Semilir angin menambah kesyahduan

Senyap

Mempersilakan bagi yang terbangun

Mengadukan segala resah

Atau segala syukur penuh pasrah

Gemintang dan angin malam

Turut berzikir bertasbih menemani

Syahdu malam menyenandungkan doa

Menambah khusyuk sujud dan simpuh

 

Indramayu, 29 November 2018

Yosra DiniNov 29, 2018 6:44:12 PM

KASIH TIADA PUTUS

Karya:  Yosra Dini

 

Teringat ku akan pesan ibuku

bila kelak kau besar jadilah seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk

 

Jadilah kau seumpama lilin

Yang selalu bisa menerangi dalam kegelapan

Jadilah kau seperti burung yang selalu terbang beriringan lagi seia sekata

 

Setelah ku dewasa baru kupahami makna dari apa yang engkau pesankan

Betapa lembut kasihmu yang tak pernah pilih kasih

Betapa besar pengorbananmu

Yang tak pernah mengenal lelah

 

Kini ku telah dewasa, kini pun aku sudah menjadi seorang Ibu

Betapa baru kurasakan beratnya perjuanganmu melahirkanku, menyusuiku, membesarkanku hingga kini kau sudah tak ada lagi ditengah-tengah kami

 

Ibuku

akan kuingat nasehatmu

Doa’kanku agar menjadi anak yang selalu rendah hati

Doakan’ku agar menjadi guru yang selalu bisa menerangi langkah anak-anakku

Do’akan ku agar selalu bisa bersama-sama membangun negeri

dengan segala upaya akan ku abdikan ilmu yg bermanfaat

semoga kau tenang dialam sana

 

Ibuku

Do’aku pun akan selalu ada untukmu

Terima kasih atas semua yang telah kau beri

Betapa cinta kasihmu tak kan pernah hilang dalam ingatanku

Semoga Allah menjagamu di alam sana

 

Sijunjung, 29 November 2018

Erni EkawatiNov 30, 2018 12:44:13 AM

Si Comel Cantiiiik :heart_eyes::kissing_heart::

Tugas 3

Puisi Imperialisme

 

Gemuruh Pantai

Oleh : Si Comel Cantiiik

 

Deru ombak

Pecahkan pekik hati

Menyeret bulir air mata hanyut dalam gelombang yang bergulung

 

Serpihan kenangan tiada berbekas

Bak tersapunya pasir dalam genggaman

Tersibak angin yang terus mendera tanpa ampun

Buyarkan segalanya

 

Tarian nyiur kelapa

Robohkan diri

tiada berdaya dalam atap gumpalan awan

berteras birunya langit

 

Gemuruh Pantai

Percikan nyanyian sendu

Menghantam karang

Karamkan semua angan dan cita untukmu

Lepas di tengah lautan luas

Dalam hamparan pusaran air

Ikhlas memeluk kepedihan dalam gemuruh pantai yang tak bertepi

 

Gunungkidul, 30 November 2018 @00.39 WIB

MuhajirahNov 30, 2018 5:59:14 AM

/Oleh : muhajirah

Tugas 3. Imperialisme

 

 

Besi Tua

Dari kejauhan engkau tampak kokoh

Gagah tak termakan usia

Berselimutkan embun pagi

Yang menjadi sahabat setiamu

Setiap hari kutitipkan langkahku

Suara bising kendaraanku

Menjadi nada indah ditelingamu

Entah berapa juta kebisingan yang  harus kau dengar

 

Besi tua . . .

Usiamu kini mulai termakan waktu

Warna indahmu mulai meredup

Besi tua . . .

Akan kusampaikan padanNya

biarlah matahariNya menjadi sahabatmu

biarlah hujan menjadi penyejukmu

agar engkau tetap menjadi sabatku

penolong dari derasnya sungai barito

 

 

Murung Raya,_Kalteng,

30 November 2018

Erni EkawatiNov 30, 2018 9:12:32 AM

Tugas 3. Imperialisme

 

Besi Tua

Oleh : Muhajirah

 

Dari kejauhan engkau tampak kokoh

Gagah tak termakan usia

Berselimutkan embun pagi

Yang menjadi sahabat setiamu

Setiap hari kutitipkan langkahku

Suara bising kendaraanku

Menjadi nada indah ditelingamu

Entah berapa juta kebisingan yang  harus kau dengar

 

Besi tua . . .

Usiamu kini mulai termakan waktu

Warna indahmu mulai meredup

Besi tua . . .

Akan kusampaikan padanNya

biarlah matahariNya menjadi sahabatmu

biarlah hujan menjadi penyejukmu

agar engkau tetap menjadi sahabatku

penolong dari derasnya sungai Barito

 

Murung Raya_Kalteng,

30 November 2018

SMK N 1 USMANNov 30, 2018 12:03:54 PM

Tugas 3

 

Mental Keripik

Oleh Usman Umar

 

Keripik memang renyah membangkitkant selera

Mendengar kau ucapkan keripik, aku ingat pelengkap rasa

Melihatmu yang mudah masuk angina, aku pun ingat keripik kesukaanmu

Melihat keripik aku ingat mental keripik, itu gelarmu.

Ya, engkau memang mirip keripik. Hanya bisa bertahan dalam toples tertutup

Terbuka sedikit, melempem

Kalau soal gelitik, engkau memang paling doyan

Tak sanggup orang menahan tawa karena gelitikmu

Itu karena gelitik memang dari kata geli

Kamu memang jago buat kami tertawa. Tingkamu selalu bikin kami geli

Dari semua leluconmu yang paling menggelikan adalah sikapmu

Yang anti kritik

Padahal kamu, kami kenal tukang kritik

Hentikan semua ulasanmu yang kami tahu itu hanya intrik

Aku tak mau lagi melihat wajahmu di layar itu.

Titik.

 

Berau, 2018

Ira IndiraNov 30, 2018 1:10:02 PM

Puisi Realisme

 

Sambut pagi

Oleh: Ira Indira

 

Pagiku mendung

Gerimis menyapa

Hujan semalam belumlah reda

Kupacu Sepeda Motorku

Menyusuri jalanan aspal

Siap menjalankan tugas mulia

Siap menghampiri para siswa

Siap berbagi dengan siswa

Ikhlas lillahi ta’ala

Tak peduli bulir-bulir air membasahi tubuh

Hanya demi generasi bangsa

Ku sambut riang para siswa tercinta

Dengan salam tak Terlupa

sebagai ucapan do’a

Senyum ramah berbuah bahagia

Mengucap syukur penuh gairah

 

Rengat, 221118

Puisi impresionisme

 

Lukisan Senja

Oleh:  Ira Indira

 

Warnai senja

Kulukiskan senyum menawan

Mentari Jingga menghias Pesona

Bersama  tiupan angin

warna jingga siap menyambut malam

Jingga Memang Indah

Damaikan jiwa

Bahagiakan rasa

Hapuskan luka

Sirnakanlah lelah

Hilangkan nestapa

 

Lukisan senja, warnai petang

Dihiasi Mentari dan lambaian dedaunan

Mengalun riang, bercengkrama

Bersama burung-burung yang berterbangan, menari indah

bergembira, nikmati alam senja

Ingin rasanya ku genggam senja

Agar indahnya tiada sirna

 

Rengat, 301118

:rose::rose::rose:Sasri Ahyuni:rainbow::rainbow::rainbow::rainbow:Nov 30, 2018 1:31:04 PM

Puisi realisme

 

Panas

 

Aspal yang berdebu

Tak sanggup hilangkanmu

Angin yang bertiup

tak sanggup hilangkan dirimu

 

Titik peluh mengiringi penjalananku

Tanpa pedulikan dirimu

Debu jalanan membuat batuk

Tidak engkau hiraukan

 

Asap kendaraan telah mencerami udara

Sehingga kau makin mengganas

 

Panas….

Orang-orang merintih

Mendesah dan mengeluh

Tapi kau hanya berdiam diri

 

Solok Selatan, 30 November 2018

Erna SahwatiNov 30, 2018 3:01:08 PM

Tugas 3 Imperialisme

Erna Syahwati Telaumbanua

 

Sang Waktu

waktu,,, engkau selalu mempermainkan hatiku

Menguji kesabaran dan rasa sayangku

Waktu,,yang selalu kutunggu setiap saat

Dengan rasa bimbang dan kerinduan

Terkadang rasa cemas menghantui jikalau waktu tak lagi berpihak

Kepada siapakah rindu ini kutambatkan

Waktu,, pagi ini kau datang dengan senyuman hangatmu

Riak rindu yang terpancar

buatku sadar kalau kau tak bisa lepas dari kehidupanku

Waktu,, jangan pernah pergi dariku tanpa kabar apapun

Waktu,, biarkan lenteramu menyinari dan menentramkan raga ini

 

Jambi, 30-11-2018

Erni EkawatiNov 30, 2018 5:22:23 PM

Si Comel Cantiiiik :heart_eyes::kissing_heart::

Tugas 3

Puisi Imperialisme

 

Gerimis

Oleh : Si Comel Cantiiik

 

Rintik gerimis menemani petualanganku pagi ini

Tetes airnya menyapu derai air mata yang tak sengaja jatuh saat mengingatmu

 

Selimut kelabu dari langit semakin kelam merasuk menyelimuti tirai kalbuku

Seribu tanya menyerbuku

Seribu rindu menghujamku

Remahan perasaan berkecamuk

Mengamuk darah panas mengalir di tengah dingin yang menyergap

 

Wahai engkau yang di sana

Masihkah takdir untuk kita

Masihkah ada kesempatan bersama

Masihkah ada canda tawa antara kita

Seperti saat sebelum kita saling mengenal

Menggenggam tanya tak terjawab

Gemas meremas kenangan

Membuatku meringis

di tengah gerimis yang mengawal langkah

dalam kidung kerinduan yang teramat

Untukmu

 

Gunungkidul, 30 November 2018 @17.19 WIB

Ira IndiraNov 30, 2018 5:29:59 PM

Puisi Ekspresionisme

 

Secangkir Kopi Rindu

Oleh : Ira Indira

 

Selamat pagi Rindu

Pagi yang cerah ditemani

secangkir kopi beraroma Rindu terbayang wajah kecilmu bermain-main di ruang hatiku dan mengucapkan “ibu… aku rindu”

“Sayangku….Ibu juga rindu”

Tapi Kita harus bertahan

Demi cita-citamu

Demi segenggam ilmu

Sebagai bekal hidupmu

Karena cerita tentang Dunia Fana dan hiruk-pikuk penghuninya

Membangun cerita baru

Pengenalan terhadap Sang Kuasa ketaatan, keikhlasan dan shalehahmu jauh lebih penting dari apapun didunia ini dan

Semoga menjadi perhiasanmu sebagai mutiara yang berkilau yang tak bisa dinilai dengan apapun di dunia ini

putri kecilku…

Semangat dan teguhlah dijalanmu

Siapkan masa depan indahmu

Taqwamu dan harga dirimu

 

Rengat, 271018

Sri YuliatiNov 30, 2018 6:51:09 PM

Sapaan Rindu

Oleh: Sri Yuliati

 

 

Dipenghujung hari.yang hampir hilang

Ku tetap menggenggam rasaku

Tanpa memiliki kesimpulan tentang rasamu

Ku hanya mampu ratapi rasaku

Dan mendoakan munculnya rasamu

 

Ini kesimpulan tentang hatiku

Tentang rasa yang begitu hebat

Tentang rindu yang menggeliat

Tentang dirimu..

Yang semakin berat kupikat

 

Tanks…rinduku…

 

Senja biarkan merangkul malam

Karena waktu tak kan mampu menyapu rinduku

 

Tapi kamu…

Kamu tujuan rinduku berlabuh

 

Purbalingga, 30 November 2018

Ihah ParihahNov 30, 2018 8:30:56 PM

Tugas 3

 

Terik, dan matahari terasa membakar bumi

 

Panas,

terik……

kegundahan semakin memuncak,

mendidihkan otak….

dengar…

matahari mengganas bumi terbakar

menghanguskan kulit ari,,

dan dalam terik aku terlalu keras berfikir….

tentang hidup yang belum dilakoni…

lalu hati kecil berbisik.,

tak perlu gundah,tak perlu gelisah…

yakini dan hayati…

karena aku tak mati disini.,

hari ini ,

di sini,

dalam terik,

aku tak perlu menjerit…

 

Ihah Parihah

Tangerang, 30 November 2018

Puisi Ekspresionisme

ANTILOGI PEMBERONTAKAN

 

 

Ini tentang pemberontakan

Pada hati dipenuhi rasa bersalah

Sungguh keliaranku terikat dalam raga yang tersakiti

simpan energimu untuk kelak mengalahkan dunia

berkata mengenyahkan kemunafikan

seperti katamu

ini bukan kuat atau tidak aku memetik dawai indah alam raya

bukan hanya deru angin dan sambaran halilintar yang tak lagi membuatku takut

yang kutakutkan adalah memburunya cinta yang menghanyutkan dan memabukkan

dan ini bukan tentang benar atau salah

atau menjadi pembenaran belenggu doktrin

hingga aku tak perlu merasa bersalah dan menyalahkanmu

tak perlu pergi karena aku bukan pecundang

hadapi yang mampu aku hadapi

dan ketika aku tiba pada satu titik dimana aku tak sanggup lagi

aku akan mati dalam kemenangan

 

Ihah Parihah

Tangerang, 30 Nov 2018

Hakikat Cinta

 

Alunan lagu menghanyutkan

melayang angan ke negri khayal

Perempuan tertegun dalam lamunan

menggenggam cinta yang seakan ragu untuk menikmatinya

begitu indah

biru menghanyutkan

lembut menyapa

lirih berbisik

laki laki dengan cinta yang maha dahsya

”aku jatuh cinta..”

sapa laki laki menggetarkan bumi yang di pijaknya

seketika alam raya mengharu biru

hujan meluluhlantakan hati meradang…

petir mengiris luka terdalam…

perempuan tertegun dalam bimbang….

terbelenggu dalam kebisuan ..

atau berjalan mengikuti alur…

membangun nyali seakan mati….

memupuk keberanian menatap ke depan

bagaimana hidup dalam jiwa bak terhempas badai…

perempuan bersimpuh dalam tangis dini hari…

mencari jawaban dari teriak doa….

meradang dalam dendam rindu menggebu…

engkau menyebutnya cinta….

mengapa panasnya menghanguskan…

dinginnya menggigilkan

perempuan tengadah mengusir rapuh menyambut indah raga berharap….

mengikuti alurmu….

mencipta bahagia menyapa…

merajut mimpi

mengalunkan lagu syahdu…

melepas belenggu….

merdekalah cinta …

tegar menghalau badai menerjang….

perempuan tersenyum…

takut atau tidak maut tetap kan menghampiri……

 

Ihah Parihah

Tangerang, 30 Nov 2018

ENDAN RATNAWATIDec 2, 2018 9:45:05 AM

ENDAN RATNAWATI:

GURU

Oleh : Hj.R.A Endan Ratnawati, S.Pd, M.Si

 

Guru …

Sosok perkasa

Berjuang, berkarya demi anak bangsa

Tak kenal kata putus asa

Mendedikasikan ilmu dan karsa

Tak kenal hilang upaya

Kendati kian bertambah usia

Asa dan harapan membara di dada

Mencerdaskan generasi muda

Penerus bangsa abad milenia

 

Guru …

Sosok terpuji

Kadangkala masih menerima caci

mendapat perlakuan semena dan keji

Karena kesalahan manusiawi

yang tak sanggup dihindari

Hatinya tersakiti

Bathinnya terlukai

Kadang berakhir di balik jeruji

Gurat senyumnya tetap menghiasi

Ampun dan maaf rela ia beri

 

Guru …

Sosok istimewa

Tetap ceria meski dalam duka

Tetap gembira, seolah bahagia

di balik senyum terpaksa

Tampak kokoh, tegar perkasa

Berbagi tanpa berharap jasa

Berkarya tanpa meminta lencana

Berharap hanya pada yang Kuasa

Berharap bahagia bukan hanya di dunia

Berharap ridho beserta syurga-Nya

 

Guru …

Sosok perkasa

Guru …

Sosok terpuji

Guru …

Sosok istimewa

Guru …

Namamu abadi

 

 

Air Molek, 25 November 2018

BUNDA

Oleh : HJ.R.A Endan Ratnawati. S.Pd, M.Si

 

Kalau saja masih ada waktu tersisa

kembali ingin ku ulang kebersamaan kita

Kalau saja ada yang tertinggal, itulah asa

Kenangan yang tak pernah sirna

 

Masa indah saat kita bersama

Mengisi hari penuh tawa

Mengisi waktu penuh canda

Masa itu selalu menggoda

 

Ada kalanya kesedihan menyapa

Ada saatnya kecewa menerpa

Ada waktunya kegagalan menghujam dada

Engkau bunda, tempat bercerita

 

Engkau yang menghalau duka

Engkau yang membalut kecewa

Engkau yang membangkitkan asa

Engkau bunda selalu ada

 

Kini sedih itu kembali menyeruak

Kini kekecewaan itu kembali menghentak

Kini kegagalan itu kembali menghenyak

Tapi, jantungmu tak lagi berdetak

 

Selamat jalan bundaku tercinta

Biarkan duka, gagal dan kecewa

jadi hiasan dunia

pada saatnya semua akan sirna jua

 

Guru sejati adalah bunda

Tempat berbakti, kepada bunda

Tempat bahagia, doa bunda

Syurga Ilahi, di kaki bunda

 

Air Molek, 25 November 2018

BERITA ALAM

Oleh : Hj.R.A Endan Ratnawati, S.Pd, M.Si

 

Halilintar menggelegar

Daun-daun melayang gugur

Langit biru, menghilang

Burung camar pulang ke sarang

Rintik hujan turun berjatuhan

Payung-payung terkembang dikenakan

 

Pohon tercabut dari akarnya,tumbang

Awan hitam luas mengembang

Langkah kaki berjalan laju

Menuju cakrawala beku

Gapai harapan mimpi indah

Meraih cita di bangku sekolah

 

Kupetik senar dawai gitarku

Nyanyikan tra-la-la syair lagu

Merah putih berkibar kusam warna

Burung garuda entah terbang ke mana

Pancasila tak lagi terpatri

Indonesiaku suram. hilang seri

 

Embun datanglah, hentak gersang

Hujan. turunlah surami kerontang

Mentari, terbitlah ubah suram

Negeri ini … malam ini …

Milik kami … punya kami …

Jangan renggut … jangan rebut

 

 

Air Molek. 29 November 2018

HARTINI DEWI SPdDec 2, 2018 6:59:00 PM

HARTINI DEWI SPd:

HARTINI DEWI SPd:

HARTINI DEWI SPd:

Perempuan Dalam Perjuangan

 

oleh Hartini Dewi S.Pd

 

Perempuan…

Empunya tuan

Dalam perjuangan

Tak hirau jika harus kehilangan

Tetap andil dalam pertempuran

 

Tahun sembilan belas empat lima

Di Gedung Agung Yogyakarta

Ngaisya dan Oemiya

Naik ke atap dan turunkan bendera

Tanda Nipon Jepang dirobeknya

Ganti bendera Indonesia

Tak ragu meski nyawa taruhannya

Nipon sudah kalah

Tapi mengapa bendera terus dikibar disana?

 

Aksi september sembilan belas empat lima

Picu puncak demonstrasi massa

Tuntut jepang enyah

Dari negri kota Yogyakarta

Ganti Sang Saka dwi warna

Berkibar di langit kemenangan Indonesia

Bukan sebuah hadiah

Apalagi sebuah pemberian belaka

Tetapi sebagai usaha anak bangsa

Yang ingin mengatur negara

Menjadi merdeka raya

 

Perempuan dalam perjuangan

Sadap berita lawan

Lewat kode yang kau terjemahkan

Transfer komunikasi lewat perantaraan

Para pedagang jajan

Di Pasar Beringharjo, saksi bisu perlawanan

Para pedagang perempuan

Penyampai pesan

Antara gerilyawan

Saat pasang siasat perang

 

 

Perempuan dalam perjuangan

Menyamar sebagai pedagang

Agar tak curiga tentara Jepang

Dalam siasat adu perang

 

Perempuan dalam perang

Perjuangkan kemerdekaan

Wasimah suster pejuang

Mati ditembak jepang

Kala ketahuan menyuplai obat-obatan

Mati ditembak didepan

kantor pos besar markas jepang

 

Perempuan dalam perjuangan

Tak surut oleh kenangan

Resiko nyawa melayang

Dalam revolusi perang

Tak surutkan perjuangan

Dalam rebut dan pertahankan kemerdekaan

 

Terimakasih pahlawan

Kini ku teruskan perjuangan

Melawan kemalasan

Melawan kebodohan

Dalam kemerdekaan

 

Tumpang ketiak  Semeru, 2 Desember 2018

HARTINI DEWI SPd:

Cinta Sang Putra Fajar

 

By Hartini Dewi S.Pd

 

Cinta…

Itulah yang membuat Sang Putra Mentari

Rela menduakan Fatmawati

Yang telah memberi

Lima putra dan putri

Dan berpaling ke ibu Hartini

 

“Aku bertemu Hartini

Aku jatuh cinta sampai mati”

Ujar mu lirih

Dan kau tulis itu dengan tinta di hati

Percintaan mu begitu romantisi

Tapi tak seperti Romeo dan Yuli

Karena kau selalu berganti

Saat cinta menguak diri

Dan kau akan mabuk kepayang lagi

Kala kau ke luar negri

Tak satu istri

Yang kau ajak pergi

Sehingga disana pun menanti

Cinta yang lain lagi

 

Ada Ratna Sari Dewi

Dengan binar senyum mentari

Ada Manoppo Kartini

Dengan tatapan lembut pemikat hati

Ada Haryati

Dengan tubuh semampai aduhai

Ada Yurike Sanger Sang Jelitawati

Ada Heldy Djafar yang kau kagumi

 

Semua menawan dan menarik hati

Dari sekian banyak istri

Hanya kau ibu Hartini

Yang mendampingi

Dengan tekun setia melayani

Di masa-masa keruntuhan memori

Di detik-detik redupnya Sang Mentari

 

Ada garis panjang dihidupnya

Yang tak kenal lelah dalam pelariannya

Mencari keabadian cinta

Meski meraba-raba

Akhirnya kau temui jua

 

Tidurlah dalam damai

Hai Sang Srihana  kini

Dalam kekekalan abadi

 

Tumpang, 1 Desember 2018

Mengenang Pemboman di Sabang

 

Oleh Hartini Dewi S.Pd

 

Hari ini tujuh puluh empat tahun yang lalu

Sabang luluh lantak oleh bombardir Sekutu

Operasi bersandi Cockpit kala itu

Permintaan angkatan laut Amerika

Alihkan operasi Jayapura

Agar tak terjamah

Oleh Dai Nipon Jepang yang akan masuk ke Selat Malaka

 

Laksamana James Somerville

Rancang operasi pengalihan lawan

Tahan Jepang masuk selat Malaka

Sabang menjadi pengalihan

Serangan fajar tak terelakan

Kapal niaga tenggelam

Kapal pengawal terbakar

Pesawat tempur dan torpedo jadi korban

Semua adalah milik jepang

Tapi bumi Sabang menjadi saksi bisu kebrutalan

 

Tujuh puluh empat tahun silam

Sabang mengenang memori kelam

Kedurjanaan dan keserakahan

Hempas rasa kemanusiaan

Kini semua menjadi kenangan

Kebrutalan peperangan

Sabang pulau terkanan

Kini lengang

Tanpa sentuhan pembangunan

Sarat kenangan kelam

 

Malang, 10 November 2018

Erni EkawatiDec 2, 2018 8:34:11 PM

Tugas 1

Sahabat Sejati

oleh : Winarti

 

Sahabat takkan pergi

Tak berlalu dan berpaling

Walau rintangan silih berganti

Walau caci maki menghujani

Walau duniapun kadang membenci

 

Bersama suka duka

Saling menguatkan

Saat hati dalam bimbang

Saat rapuh gundah menyerang

Saat hilang arah melangkah

 

Sahabat sejati selalu ada

Dekap erat lepaskan duka

Bangkit asa menguat jiwa

Melangkah bersama di hari tua

Berbagi cerita indah bersama

Kenangan sepanjang masa

 

Balikpapan, 02122018

Tugas 2

Belenggu

oleh Winarti

 

Mengapa begitu sulit

Tuk ucap sepatah kata

Mengapa begitu sulit

Menuangkan kalimat sebait saja

Entah mengapa

Terasa kaku

Terasa kelu

beribu ide hanya menari dalam hayalku

Tak tertuang

membisu terpaku beku

Hati berontak untuk maju

Pikiran bergumul

Tak ingin ragu

Tapi mengapa

Ku tetap tak mampu

 

Balikpapan, 02122018

Tugas 3

Pagi

oleh : Winarti

 

Pijar mentari pagi

Warnai langit merah keemasan

Indah membias celah pepohonan

Di kejauhan Sang dewi tersenyum

Samar berpamit keperaduan

 

Kokok jantan teriakan pagi telah menjelang

Embun bak permata berkelip

Menghias pucuk dedaunan

Hembusan angin lembut

Suarakan kedamaian

Lembut menyapa pucuk pepohonan

 

Sesaat menggangguk lembut

Sesaat menari meliuk

Mengikuti irama alam

Kicau burung pun bersahut riang

Sambut kembali pagi

Cerah bermandi sinar mentari

 

Gunung menjulang menggigil kedinginan

Berselimut kabut tebal

Hilang tersapu sang mentari

Duduk berhampar permadani hijau

Menatap alam terang  perlahan

 

Indah ….

Teramat indah tak terlukiskan

Begitulah alam berjalan

Bersahabat pada setiap insan

 

Balikpapan, 02122018

Heru SukamtoDec 3, 2018 8:14:26 AM

*Angin Pinjami Aku Cinta*

Karya: Heru Sukamto

 

 

Duhai angin,

Dalam kemelut hatiku

Dalam sengkarut hidupku

Lemah langkahku

Bawalah segala bebanan ini

Penat untuk melangkah

Sungguh kau halus

Namun kau lebih tangguh

 

Duhai angin,

Pinjami kehalusanmu agar ketenangan itu kumiliki

Pinjamkan aku sedikit cinta

Agar kutemukan rasa itu Kekuatanmu  mampu menembus  segalanya

 

Duhai angin,

Pinjamkan aku sedikit sayang

Agar bisa kubiaskan

Pada juwita pilihanku

Yang bersaji segumpal hati suci

 

 

Tebo, 03-12-2018.08:11

Asri WidjayaDec 3, 2018 4:10:52 PM

Puisi 3,imperialisme

Penyesalan

Hanyalah selembar daun yang tertiup angin

Bergerak,melayang mengikuti angin

Berharap angin berhenti bertiup

Karena tubuh telah menguning,mengering,dan menyusut

Padahal dulu dia berharap

Terpisah dari pohonnya maka kebebasan kan didapat

Berkelana ,bebas,lepas dan….bahagia

Ternyata tak begitu adanya

Kini dia berharap,sang angin berbalik arah

Mengantarnya kembali pada pohonnya

Meski seandainya tak lagi diterima

Cukuplah dia berlindung dalam rimbunnya

Beristirahat tenang dalam teduhnya

Karena tubuh sudah merapuh

Keindahan hijaunya telah menghilang

Hanyalah kering tiada bersinar

 

Asri wijaya

Banyuwangi,3 des 18

Sri YuliatiDec 3, 2018 5:12:25 PM

Grimis di Senja Hari

Oleh: Sri Yuliati

 

Rinai grimis mulai turun

Suara berpadu seirama

Dari balik jendela

Air mengguyur bumiku

Bermain meloncat riang

Lincah beradu menginjak bumi

 

Jatuh meresap segarkan tulang ranting yang terkoyak

Dari musim kemarau  panjang

Segar hingga menggeliat

Kehidupan baru terasa

Sejuk…

Hamparan hijau telah kau tawarkan

Hingga tak  mampu kedipkan mata

Bak permadani yang menyegarkan pandang

 

Kuncup-kuncup terhapar hijau

Disemua sudut kotaku

Seakan menuturkan

Aku hidup kembali

Untuk bumi ku ..untuk kotaku.

Pelangi indah penghias cakrawala.

Syahdu…

Nafas kehidupan baru.

 

 

Purbalingga, 3 November 2018

ROSEDec 3, 2018 7:57:18 PM

Surat Cinta

Kutulis surat ini

kala hujan gerimis

bagai bunyi tambur mainan

anak-anak peri dunia yang gaib.

Dan angin mendesah

mengeluh dan mendesah

Wahai, Dik Narti,

aku cinta kepadamu!

 

Kutulis surat ini

kala langit menangis

dan dua ekor belibis

bercintaan dalam kolam

bagai dua anak nakal

jenaka dan manis

mengibaskan ekor

serta menggetarkan bulu-bulunya.

Wahai, Dik Narti,

kupinang kau menjadi istriku!

 

Kaki-kaki hujan yang runcing

menyentuhkan ujungnya di bumi.

Kaki-kaki cinta yang tegas

bagai logam berat gemerlapan

menempuh ke muka

dan tak’kan kunjung diundurkan.

 

Selusin malaikat

telah turun

di kala hujan gerimis.

Di muka kaca jendela

mereka berkaca dan mencuci rambutnya

untuk ke pesta.

Wahai, Dik Narti,

dengan pakaian pengantin yang anggun

bung-bunga serta keris keramat

aku ingin membimbingmu ke altar

untuk dikawinkan.

 

Aku melamarmu.

Kau tahu dari dulu:

tiada lebih buruk

dan tiada lebih baik

daripada yang lain

penyair dari kehidupan sehari-hari,

orang yang bermula dari kata

kata yang bermula dari

kehidupan, pikir dan rasa.

 

 

 

Semangat kehidupan yang kuat

bagai berjuta-juta jarum alit

menusuki kulit langit:

kantong rejeki dan restu wingit.

Lalu tumpahlah gerimis.

Angin dan cinta

mendesah dalam gerimis.

Semangat cintaku yang kuat

bagai seribu tangan gaib

menyebarkan seribu jarring

menyergap hatimu

yang selalu tersenyum padaku.

 

Engkau adalah putri duyung

tawananku.

Putri duyung dengan suara merdu lembut

bagai angin laut,

mendesahlah bagiku!

Angin mendesah

selalu mendesah

dengan ratapnya yang merdu.

Engkau adalah putri duyung

tergolek lemas

mengejap-ngejapkan matanya yang indah

dalam jaringku.

Wahai, Putri Duyung,

aku menjaringmu

aku melamarmu

 

Kutulis surat ini

kala hujan gerimis

karena langit

gadis manja dan manis

menangis minta mainan.

Dua anak lelaki nakal bersenda gurau dalam selokan

dan langit iri melihatnya.

Wahai, Dik Narti,

kuingin dikau

menjadi ibu anak-anakku!

(Empat Kumpulan Sajak, 1969).

HARTINI DEWI SPdDec 3, 2018 8:11:59 PM

Sang Srihana

 

Oleh Hartini Dewi , S.Pd

 

Sepucuk surat  datang tanpa perangko

Di kirim oleh Sang Srihana

Buat yang tercinta adinda

Warna kertas merah jingga

Ku pilih untuk sang kanda

Kerinduan mengalir  di hilir

Saat roman manis hadir

Di kelok kesunyian takdir

 

“Hartini, aku cintai sampai mati”

Ujar mu lirih menempa hati

Aku mengerti

Walau ternyata dibelakang hari

Kau masih mencari

Tambatan hati

Yang lain lagi

Aku tak peduli

Walau kau terus berlari

Mencari cinta di pinggiran nurani

Aku tetap menanti

Sampai kau kembali

Karena hanya kau yang ku miliki

Dalam sepenggal hidup sepi

 

Aku tetap melayani

Di detik detik terakhir memori

Sang Putra Fajar kembali

Ke hari baan pertiwi

 

Selamat jalan Sang Srihana

Surat warna jingga

Kan ku kenang selamanya

Sebagai peringatan tertanda

Kau pernah ada

Dalam kenangan sepanjang masa

Dalam sejarah Indonesia

 

Tumpang ketiak Semeru, 3 Desember 2018

Neneng putryDec 3, 2018 8:12:19 PM

Kekasih jauh

oleh : Neneng putri

 

 

jarak tak mampu memeluk raga.

namun izinkan setia menerjemahkan rasa.

waktu memang tak mampu mereguk rindu.

namun kepercayaan selalu mendekap dalam doa.

ketika ingin ku sanding nakalmu.

ketika ingin ku raih manjamu.

tak bisa ku makna kan betapa merindu.

padamu kekasih jauhku.

 

sukabumi 03’12’2018

HARTINI DEWI SPdDec 3, 2018 8:19:41 PM

HARTINI DEWI SPd:

HARTINI DEWI SPd:

Cinta Sang Putra Fajar

 

By Hartini Dewi S.Pd

 

Cinta…

Itulah yang membuat Sang Putra Mentari

Rela menduakan Fatmawati

Yang telah memberi

Lima putra dan putri

Dan berpaling ke ibu Hartini

 

“Aku bertemu Hartini

Aku jatuh cinta sampai mati”

Ujar mu lirih

Dan kau tulis itu dengan tinta di hati

Percintaan mu begitu romantisi

Tapi tak seperti Romeo dan Yuli

Karena kau selalu berganti

Saat cinta menguak diri

Dan kau akan mabuk kepayang lagi

Kala kau ke luar negri

Tak satu istri

Yang kau ajak pergi

Sehingga disana pun menanti

Cinta yang lain lagi

 

Ada Ratna Sari Dewi

Dengan binar senyum mentari

Ada Manoppo Kartini

Dengan tatapan lembut pemikat hati

Ada Haryati

Dengan tubuh semampai aduhai

Ada Yurike Sanger Sang Jelitawati

Ada Heldy Djafar yang kau kagumi

 

Semua menawan dan menarik hati

Dari sekian banyak istri

Hanya kau ibu Hartini

Yang mendampingi

Dengan tekun setia melayani

Di masa-masa keruntuhan memori

Di detik-detik redupnya Sang Mentari

 

Ada garis panjang dihidupnya

Yang tak kenal lelah dalam pelariannya

Mencari keabadian cinta

Meski meraba-raba

Akhirnya kau temui jua

 

Tidurlah dalam damai

Hai Sang Srihana  kini

Dalam kekekalan abadi

 

Tumpang, 1 Desember 2018

Onyah JhDec 3, 2018 8:20:59 PM

Inilah Cinta

 

Karya Noni Rahmadaniah

 

 

 

Ada masa, ketika rasa tak lagi sama

 

Itu nyata…

 

Tak terpungkiri…

 

Dosakah?

 

 

Tidak Sayang…

 

Aku mengerti …

 

Ini tentang hati …

 

Inilah cinta …

 

 

Jangan takut sayang…

 

kenangan manis kan menjerat

 

Sebuah rasa, sebuah cinta

 

Kembali kepada hati kita

 

 

15 tahun sayang…

 

Ada banyak kenangan

 

Ada banyak langkah

 

Sebanyak rasa telah terlewatkan

 

 

Kita ukir mimpi kita…

 

Meraih meski tertatih

 

Bertahan meski tergoda

 

Bersabar walau mengiris

 

 

Bertahanlah sayang…

 

Meski hampir menyerah

 

Genggam tanganku, iringi langkahku

 

Peluk aku, jadikan kokoh bahumu

 

 

Tersenyumlah… bahagialah

 

Tengoklah aku, jika ingin melangkah pergi

 

Maka akan kau lihat sosokku berdiri menanti

 

Yakinlah, aku selalu ada untukmu

 

 

 

Seruyan, 3 desember 2018

Dhaniez JaberDec 3, 2018 8:22:45 PM

Arjuna

Oleh : Daniasih

 

Di kejauhan kulihat engkau

Jalan perlahan penuh wibawa

Tiap satu langkahmu seakan bermakna

Bahwa engkau adalah Arjuna

 

Tegap badannya seiring lambaian tangannya

Memantabkan tiap laku langkahnya

Sorot mata bening nan teduh

Memancarkan jiwanya yang tenang

 

Hidung mancungmu dan rapi putih gigimu

Menambah ketampanmu

Senyum yang selalu mengembang Menambah sempurna ragamu

 

Arjuna  santun yang memikat banyak hati

Ada satu hati yang kini memiliki

Tuk hidup bersama dan setia

Gadis bernama Srikandi kini ada

 

Namun  yang tercantik pasti ada

Dia Sembadra nan jelita

Molek wajahnya penuh cinta

Berdamping bersama merajut bahagia

 

Berebut tempat menangkan hati

Meski semua ada di hati

Santun menyanyangi dan tulus mencintai

Jadikan kunci diatas cinta yang suci

 

Karanganyar, 2 Desember 2018

Bunda laminiDec 3, 2018 8:31:11 PM

Rindu

By:lamini

 

Mengapa lidah terasa kelu

Tuk ucap sepatah kata rindu

Entah mengapa terasa kelu

Bila di hadapan kamu

Semua yang ada di benakku

Tak bisa tertuang untuk kamu

Antara hati dan fikiran tak bisa bersatu

Tapi mengapa….

Ku tak mampu

Membendung rasa rindu di kalbu

 

Nganjuk-jawa timur,3 desember 2018

Nano SuwarnoDec 3, 2018 8:34:37 PM

Jejak Rindu

 

Dekap

Erat

Dimana Kau mengikat

Serpihan rasa yang entah dimana

 

Lalumu ada dibenak

Garis bibirmu susah ditebak

Sejenak dalam tatapan

Berkesan sangat dalam

 

Bias rasa kembali ada

Ketka garis bibirmu kembali menggoda

Sejenak ilusi kembali nyata

Dan lalumu selalu membawa rasa

 

Bogor, 3 Desember 2018

:rose::rose::rose:Sasri Ahyuni:rainbow::rainbow::rainbow::rainbow:Dec 3, 2018 8:40:32 PM

Kabut Biru Sutra

 

Lembayung ungu melambai

Dibawah sinar surya

Seakan hendak memeluk

Sepoinya angin gunung

Berhamburan dalam tawa canda

Alam nan elok

 

Kulihat dia pujaan hatiku

Sedang berpelukan dengan suasana hati yang sedang memar

Menahan dentuman angin cinta yang kukirimkan lewat surat cinta berukirkan tinta emas

Sebagai tanda nilai cinta yang teramat dalam untuk kekasih hatiku.

 

Kekasihku…

Rindukah dirimu dengan angin cinta yang kukirimkan

Dengan angin surga telah membahana mengisi relung kalbumu

 

Kabut sutra ungu

Akan slalu ada dalam rongga relung hatimu

Semoga engkau slalu ingat kepadaku

Kabut sutra ungu.

 

Solok Selatan, 01 Desember 2018

ROSEDec 3, 2018 8:45:37 PM

Rinduku

Oleh : Hartini Hamzah

 

Rintik-rintik air

hinggap di dedaunan

Mampir sekejap

Lalu jatuh ke tanah

Berserakan

Meresap

Hilang

Tinggal bekas

 

Hari ini engkau datang lagi

Tampa mampu menepisnya

Sekian lama pergi tampa berita

Kini hadir tiada terhalau angin

 

Senja hadir merona merah

Di upuk barat cakrawala

Menghias langit warna jingga

Penuh pesona indah bertahta

 

Semua hanya khayal di mata

Penuh cerita tampa kata

Mulut terkatup tampa makna

Senyum samar hilang sirna

Tertelan waktu yang berlalu

Berganti malam gelap

Hitam pekat tak berbayang

Sirna entah kemana

Melayang nun jauh di sana

Tak mampu teraih jemari

Walau terulur ingin menggenggam

Ant ꦏꦻꦴꦪꦁꦠꦼꦂꦆꦟ꧀ꦝꦃDec 3, 2018 8:46:35 PM

Teruntuk yang Tidak Dapat Kusebut Namanya

oleh Anto

 

sepertinya aku tidak akan mampu

tidak kuasa untuk selalu dekatmu

melupakanmu bukan kemauanku

mengingatmu pun bukan janjiku

perjalanan waktulah yang nanti kan tahu

dengan lembaran-lembaran warna hidup ini

 

sungguh…

tidak akan kutulis namamu di hamparan pasir laut

tidak juga kulukis di langit biru berhiaskan mega nan indah

tidak pula akan kupahat di kerasnya batu padas

yang ku bisa hanya menyisihkan sebagian ruang ini

untuk bisa lebih mengenalmu

untuk selalu bisa di dekatmu

 

Pemalang, 03122018

Min RosminiDec 3, 2018 9:03:01 PM

menjadi udara

karya : Min Rosmini

 

aku tak ingin serupa garis edar rembulan

kadang waktu dengan bumi berdekatan

sebelum kelak tiba waktu berjauhan

 

aku tak ingin serupa musim dan cuaca

membadai dan deras di waktu tertentu saja

sebelum akhirnya berlalu berganti kerontang

mendatangkan kekeringan dan kemarau panjang

 

aku tak ingin menjadi wajah bintang di pelayaranmu

karena tak bisa kuikuti selalu ke mana arahmu

ketika kapalmu makin jauh ke mana entah

sedang aku kian kecil dan lemah

 

aku tak ingin menjadi air apapun itu

meski katanya air bisa menyesuaikan selalu

bisa membasuh segala duka dan pilu

bisa menyirami segala tawa dan haru

namun, sesekali aku bisa menguap

meninggalkanmu dalam dahaga senyap

 

aku ingin dan lebih memilih jadi udara

hidup dalam setiap sela dan rongga

menghidupi juga menjaga

tiada berbatas apa-apa

 

maka engkau pun takkan berpikir meninggalkanku

pun aku, tak pernah beranjak dari setiap denyutmu

mendoakanmu dalam setiap hela ke lain hirup

mendekapmu dalam setiap jejak ke lain degup

 

 

 

Jakarta, 3 Desember 2018

Pujarsono AhmadDec 4, 2018 1:51:47 AM

Seluruh Rinduku

Oleh:Pujarsono

 

Tanpa hadirmu

Awan menggumpal kelabu

Tersapu angin menggigilkan kalbu

Air kesepian  mulai berjatuhan satu per satu

Menyerupaa hujan yang kian membelenggu

Rindu padamu semakin menderaku

Menyiksaku dalam ruang pilu

Gelap sepi tanpa lampu

 

Air mata membasahi relung hati

Merindumu setengah mati

Seluruh rinduku tersimpan di sini

Menunggu hadirmu hingga hujan berhenti

 

Kulon Progo, 3 Desember 2018

🦋Mr Barta :blossom:Dec 4, 2018 1:56:38 AM

Putri Benua

Oleh : Bariudin Talib

 

Putri Benua

Begitulah aku menyapamu

Tutur katamu amat mempesona

Cahaya merona menghias wajahmu

 

Kita tak pernah jumpa

Kita hanya ada di dunia maya

Namun sapamu amat mengena

Seolah menusuk ragaku

Membuat sejuk peraduan hatiku

 

Putri Benua

Ini adalah panggilan sayang untukmu

Untukmu yang jauh di sana

Yang selalu menyemangatiku

Mengalihkan suasana hati

Melintasi pancarona dunia

 

Putri Benua

Sapamu menuntunku

Memberi harapan dan energi

Hadirmu terngiang di pikiranku

Engkaulah yang selama ini kunanti

 

Tanjung Selor, 3 Des 2018

Pujarsono AhmadDec 4, 2018 2:37:51 AM

Sedap Malam

Oleh: Pujarsono

 

Hari merangkak bersama senja

Malam menyapa menyandang gulita

Mentari menyepi menyendiri

Meninggalkan hiruk pikuk urusan duniawi

Rembulan enggan menampakkan diri

Menunggu giliran kapan harus menghampiri

 

Erat kupeluk harap

Tertawan resah dalam penantian

Gulana mendera tiada tara

Gemuruh rindu kian menderu

Tak tahan hati menanggung beban

Kapan kau datang menguntai sayang?

 

Angin juga belum menghembus beritamu

Awan juga belum mengabarkan keberadaanmu

Hanya bintang selalu berkedip manja

Menghalau rindu yang meraja

Sementara gelisah mulai meresah

Terus menanti kapan kau kembali?

 

Kekasih, bunga sedap malam darimu

Mulai kuyu dan layu

Dalam jambangan rindu yang berpadu

Setangkup asaku mulai memudar

Bersama aroma yang mulai samar

Apakah cintamu masih setia berpendar?

 

Kulon Progo, 3 Desember 2018

HARTINI DEWI SPdDec 4, 2018 7:31:21 AM

Cinta Pudar di Myanmar

 

Oleh Hartini Dewi, S.Pd

 

 

Pedang memburu pedang

Saat kepahitan datang

Deru geru sangkakala perang

Mereka kaki telanjang

Susuri sepanjang siang

Berjalan para pengungsi hilang

Hindari pembinasa keji datang

 

Kelam wajah Rohingya

Gelap kulit renta

Larilah ! Selamatkan nyawa

Sebar jiwa kepenjuru raya

Ungsi diri ke Filipina

Ungsi diri ke Singapura

Ungsi diri ke Malaysia

Ungsi diri ke Indonesia

Jokowi tangan terbuka

Hindari genosida

Dua ribu tujuh belas tiba

Jejak kaki di daratan Sumatra

Mencari suaka nyawa

Dalam pedih, lara dan derita

Kapan Myanmar berhenti mencari mangsa

Berhenti memburu saudaranya

Tebar cinta kasihnya

Hentikan bunyi sangkakala

Ganti sorak gembira

Rangkul perbedaan sara

Dalam dekap peluk mesra

Cinta ya cinta

Tebarkan di dada

Agar kau bisa ungkap rasa

Bahwa keragaman itu indah

 

Tumpang ketiak Semeru, 4 Desember 2018

Heru SukamtoDec 4, 2018 9:12:49 AM

*Pesan untuk Dik Narti*

Karya: Heru Sukamto

 

 

Duh Dik Narti,

Ingatkah pesanku padamu ?

Yang kita rasakan saat ini

Tentang carut marut negeri

Saling hujat, saling caci

Tiada lagi toleransi

Dari jelata hingga elit negeri

Dari tukang sapu hingga politisi

Ada apa negeri ini ?

Begitu kronisnya penyakit hati

 

Duh Dik Narti,

Haruskah terus kita ratapi?

Gaduhnya bangsa ini

Rakyat bingung setengah mati

Sungguh pilu rasa hati

 

Duh Dik Narti,

Inikah tuntunan para politisi?

Saling lapor pada polisi

Mana yang benar kutak mengerti

Bukankah mereka telah berjanji

Kan selalu jaga NKRI

 

Duh Dik Narti,

Kuatkan batinmu

Sabarkan hatimu

Urusi anak-anakmu

Didiklah mereka

Dengan ilmu agama

Agar punya ahlak mulia

Cinta pada sesama

Agar kelak pimpin bangsa dan negara

 

Duh Dik Narti,

Sampai di sini dulu

Curhatku padamu

Doakan mereka agar bersatu

Bangun negeri demi anak cucu.

 

 

Tebo, 04-12-2018.08:16

KayunDec 4, 2018 10:43:48 AM

(Romantisme)

 

BIAR

Oleh: Ika Kayun

 

Kalau kamu menjelma

menjadi kabut

Maka kurelakan kacamataku berembun karenamu

 

Tak kan kuhapus

Hingga kubuta karenamu

Lalu mereka akan menghakimi

Seenak mereka sendiri

Katanya ‘itu bukan cinta, itu derita’

 

Aku katakan pada mereka

Sekalipun derita

Cinta tetap cinta

Bukan pula urusanmu

Sejati atau semu

 

Mereka itu tetap sikukuh

Mengejar bahkan mungkin

Rela bersimpuh-simpuh

‘cintamu itu buta’

 

Ah biarlah

Terserah mereka

Terserah aku

Terserah kamu

Terserah kita

 

(Geblog, 04122018, 10:43)

HARTINI DEWI SPdDec 4, 2018 10:45:41 AM

HARTINI DEWI SPd:

HARTINI DEWI SPd:

Membelah Laut Bimbang

 

Oleh Hartini Dewi, S.Pd

 

Bimbang dan kekuatiran

Menggelora hempas kemenangan

Menggulung kesuksesan

Dalam deru debu masa depan

Kala bangun kesombongan

Dan kau menjadi budak bagian

 

Berjalan dipimpin siang

Dalam Tangan yang dinaikkan

Dikejar oleh pasukan petang

Sengaja baal  beri rintangan

Agar kau tak keluar kandang

Mereka leluasa hancurkan

Harkat martabat pecundang

Gapai segala ketamakan

Raup kerakusan tak berimbang

Atas nama ambisi perang

Himpit tekan kemanusiaan tak bimbang

 

Dalam berani

Ada keselamatan diri

Bimbang hancurkan masa depan

Tuhan akan berperang

Kita hanya diam

Dan beroleh kemenangan

 

Tumpang ketiak Semeru, 4 Desember 2018

Sri YuliatiDec 4, 2018 10:54:30 AM

BERBINGKAI RASA

Oleh : Sri Yuliati

 

Telaga hati kian tak sempurna..

Sarat dengan arah yang tak mampu terlukis

Rasa kian lunglai tanpa tegur sapamu..

Kemana kau…diamana kau..

 

Hati merenda rindu

Kau tak lagi nyanyikan kidung asmaramu

Hati kian gelisah..

Rasa tak lagi mampu menapak

 

Bayang dirimu kian sempurna

Namun kau tak lagi ada

Sirna ditelan masa

 

Kau tak lagi peduli…

Hilang kontakmu

Hilang juga rasa hatiku..

Tak lagi berpaut membayang asa

 

Dunia  kita maya

Seiring waktu kau torehkan cerita

Dari sepucuk harap

Walau tak tersemat dalam lukisan  kanvas

Setidaknya memori berbingkai rasa.

 

 

Purbalingga, 5 November 2018

SMK N 1 USMANDec 4, 2018 11:42:14 PM

Tugas 4

 

Menolak Rindu

Oleh Usman

 

Masih melekat kuat dalam rasa

Bagaimana rindu pernah meliputi hati yang terpaut

Masih teringat kuat bagaimana rindu menguncang

Jiwa yang satu dari dua raga yang berjarak

 

Kamu dan aku tahu bagaimana rindu pernah menyiksa

Kamu dan aku bukan lah Qais dan Layla

Kamu dan aku bukan Qais dan Layla yang jatuh cinta pada rindu

Kamu dan aku bukan Qais dan Layla yang menyatu dengan rindu

 

Aku tak mau cahaya matamu meredup

Aku tak mau rona pipimu memudar

Aku tak mau dirimu diliputi resah

Tatap mataku

Dan kau pun kan tahu

Arti sendu, kelabu, dan merindu

 

Masih melekat kuat dalam rasa

Di tepi telaga itu, tanpa harta janji hati terpatri

Di tepi telaga itu, tanpa tahta janji hati terukir

Lalu, kita bersama berlayar di samudra kehidupan

Bukan harta, apalagi tahta pengikat hati kita

Bukan harta, apalagi tahta yang melebur rindu

 

Jadi, abaikan saja tahta itu bila ia membuat kita berjarak

Aku tak mau tahta itu kembali merenda rindu

Jujur kuakui

Memang aku lemah tanpamu

 

 

Berau, 2018

Yosra DiniDec 5, 2018 12:05:04 AM

Tugas 4

 

Pusara Rindu

Oleh Yosra Dini

 

Ingin kukejar bayanganmu

Tetapi kau semakin menjauh

Ingin kudengar suaramu

Namun terdengar begitu sayup

 

Kangen akan candaanmu, senyumanmu, belaianmu, dan nasehatmu yang bijak

Namun kemana harus kucari semua itu..

 

Rindu ini semakin mencekam dan tak berujung

Masih jelas terlintas dalam ingatanku betapa hadirmu begitu terasa dekat

Namun kini rindu ini tak tahu mau ku alamatkan..

Rindu ini terasa begitu berat ketika ku sadar bahwa dirimu sudah tiada

 

wahai angin haruskah kupusarakan rindu ini, agar hati ini tidak lagi dicekam kerinduan akanmu..

 

Sijunjung, Sumbar, 2018

HARTINI DEWI SPdDec 5, 2018 10:06:19 AM

HARTINI DEWI SPd:

Rasa Hidup Ku

 

Oleh Hartini Dewi, S.Pd

 

Pena bisa berukir kata

Mulai hari ini aku akan terus bahagia

Karena aku memiliki karsa

Untuk terus bersuka

Tak peduli apa kata dunia

Bahwa aku harus pertahankan rasa

Bahagia itu indah

Bahagia limit mendekati Surga

Sedih duka lara nestapa

Adalah sebuah pilihan semata

Tapi ku pilih bahagia

Jalani hidup di dunia

Bersama bayu awan mentari

Ku ajak kelilingi negri

Terus menikmati

Anugrah diri

Berseri bersama jalani janji

 

Jika kau tak mau serta

Aku akan beri mu ulasan kata

Lewat pena ungkapkan sukma

Ku kan terus beria

 

Lepas penat lelah diri

Bergulir hilangkan sepi

Tepis semua sedih hati

Ganti tawa rupa berseri

Kan ku nikmati mentari

Hangat kuliti raga ini

Buai sejuk semiliri

Angin hembusi

Raga jelita diri

ketika ku kembali

Kan ku labuhkan hati

Di dermaga cinta suci

Bersama nikmati

Indah surgawi

Di sisi sebelah nadi

 

Tumpang lembah Semeru,

5 Desember 2018

Diana DianaDec 5, 2018 11:51:52 AM

Puisi 4

Romantisme

 

Cahya Di Ufuk Senja

 

Berbinar tatapmu kala itu

Menyingkap sendu

Hati bertalu-talu

Jantung berdegup

Tak menentu

Tak mampu kuasai diri

Resah melanda

Gelisah menerpa

Menggunung Rasa

Nyaris tumpah

Tanpa arah

Jarak berlalu lari

 

Lama sudah kudendam sunyi

Kupeluk hari tiada henti

Menunggu sepi

Menjauh pergi

Onak duri kulalui

Ku junjung tinggi

Singasana hati

Tak perduli

Gejolak menghantui

datang dan pergi

Tapi aku tetap sendiri

Bergelut mimpi

 

Penantian dalam selimut rindu

Menepi di bibir senja merona

Kusibakkan khayalan semu

Fatamorgana

Pesonamu gagah perkasa

kalahkan asa

Merontah-ronta

Jemu  rasa bersalah

Terus ku pegang teguh

Janji pertaruhkan nyawa

Demi kasih-Mu

Menuju Ilahi Robi.

 

Diana Yuwinda

Bogor, 5 December 2018

NazariahDec 5, 2018 2:05:11 PM

Puisi 4 Romantisme

Tengku Nazariah

 

Rindu

 

Lama tak kujumpai rautmu

Hingga kerap melepuhkan hasratku

Pada senyum hangatmu yang mampu menenangkan jiwaku atas gelisah semu yang tak kutahu asbabnya

 

Lama kunantikan hadirmu

Yang kuharap kan membawa sejuta rindu untukku

Hingga mampu mengeringkan luka asmara

Dari kembara panjang pada lembah duka

Laranya menganak sungai

Lelahku tiada tara

 

Lama kutorehkan impiku

Pada hembusan angin lalu

Yang membelai daun-daun layu,

melepasnya terbang menuju tanah basah

Meruarkan aroma yang mencumbu rindu

Kau masih jauh

 

Lama kutitipkan rindu

Pada awan-awan putih yang kerap menemani

Kuharap geraknya kan menyampaikan asaku padamu

Hingga membawamu segera berlabuh dalam kabut rinduku

Dan mengurai keluh kesahku

 

Lama ku disini

Menanti dalam asa diri

 

*Warung Mbok Ijem, 28-04-2018*

HARTINI DEWI SPdDec 5, 2018 7:07:40 PM

Kasih

 

 

Oleh Hartini Dewi, S.Pd

 

Kasih di mana kau gerangan

Sedang apa kau di angan

Mengapa kau selalu terbayang

Dalam pola rupa mu yang menawan

 

Kasih ke arah mana bayu menggelayut

Sedang aku di sini masih tersangkut

Bersama deras sungai terhanyut

Dalam rindu dendam yang kian memagut

 

Kasih tau kah diri mu

Bahwa aku selalu menggapai mu

Dalam hayal dan angan sendu

Berharap kau datang bawa setangkup rindu

Untuk ku kala bayu mendayu

 

Kasih aku masih inginkan diri mu

Memadu rasa cinta nan merdu

Bersama menggelepar dekat tumbuhan perdu

Saat mentari temaram di lembah Semeru

Tempat pertama kita beradu

Dalam dingin derai hujan di Ranu Kumbolo kala itu

Kau selimuti hatiku dengan senyum mu

Hangati cinta ini dengan alunan merdu

Semilir bayu gugah rasa tuk menyatu

Dalam mahligai kupu-kupu

Di sana angan kita menyatu

Dalam biduk cinta penuh rayu

Sampai nafas tersengal memburu kalbu

Menanti menit detik lelehan salju

Dalam erangan jerit sembilu

Dan kita berhenti sampai di situ

 

 

Tumpang bentang selimut awan,

5 Desember 2018

Dara Jelita

 

Oleh Hartini Dewi, S.Pd

 

 

Bulu mata lentik

Pesona elegan nan cantik

Rambut lembut tergerai antik

Dengan satu tanda berbintik

 

Jelita mu tawan hati rupawan

Berharap dapat satu ciuman

Dalih sebuah persahabatan

Panggang hati bentrok kawan

Ada hati yang arogan

Inginkan cinta gulingkan lawan

Hasrat berkasih malah tertawan

 

Jelita di antara wanita

Kemana kan kau bawa sukma

Ketika tertikam cinta di dada

 

Jangan hanya diam terpanah

Hapus sendu pilu terarah

Pada batin yang terluka mengangah

Usap derita perih bernanah

 

Ganti dengan wajah bersuka

Nikmati rupa anugrah

Sebagai tanda

Kau jatuh cinta

 

Tumpang lembah Semeru, 5 Desember 2018

Wanita Misteri

 

Oleh Hartini Dewi, S.Pd

 

Mata sipit

Rambut lurus terjepit

Cermin belakang terapit

Jubah putih berjuntai apik

Foto terpampang

Di hotel tugu kota Malang

Dingin aroma ruang

Berbau wangi kembang

Oui Quilan asal Semarang

 

Putri pemilik pabrik gula

Roh mu hidup bergentayang

Entah kau masih cinta dunia

Hingga sukma mu melayang

Harusnya kau ke alam baka

Tapi kenapa kau tak mau pulang

 

Hawa dingin cekam ruangan

Kau masuki mimpi wisatawan

Komunikasi terbatas ilusi

Dalam percakapan abstraksi

Penuh aksi gelisah diri

Apa yang kau nanti

Dalam keabadian mu kini

Tenanglah kau menghadap Ilahi

Tidurlah kini dalam abadi

 

 

Tumpang Splendid in, 5 Desember 2018

Kenangan Sejarah Suatu Bangsa

 

Oleh Hartini Dewi, S.Pd

 

Aku merancang kedurjanaan

Merencanakan kejahatan

Eksekusi tak ragu ku lakukan

 

Ku rampas ladang-ladang milik orang tak berdaya

Ku serobot rumah-rumah saat aku menginginkannya

Ku tindas manusia dan milik pusakanya

Dan aku berkuasa atas kejahatan yang merajalela

 

Kala tiba waktuNya

Tak kusangka-sangka

Aku di timpa kemalangan besar

Banyak sindiran yang terlontar

Banyak ratapan yang ku dengar

Semua yang ku dapat dihancurluluhkan

Warisan bangsa diserobot orang

Ladang-ladang dikembalikan ulang

Aku ditawan, diperbudak jahanam

Aku tak dapat berjalan dengan pongah

Leher ku dililit tali dan aku digelandang

Aku tak punya tempat perhentian

Karena kedegilan, kebebalan dan kenajisan

Maka aku dibinasakan dan tak terpulihkan

Kengerian dan kehinaan

Kebencian dan cercaan

Sepanjang sejarah sampai sekarang

 

Tapi kemurahanNya masih berlimpah

Belas kasihannya masih ku rasa

Dilimpahkan pada generasi yang tersisa

Seribu sembilan ratus empat puluh delapan merdeka

Di tengah himpitan bangsa

Yang membenci luar biasa

Dengan kuasaNya

Aku masih berada

Hingga kini  sampai selamanya

 

Tumpang terkenang,

6 Desember 2018

Jaman Tri Milenial

 

Oleh Hartini Dewi, S.Pd

 

Tri milenium menanti

Gunung rumah Ilahi

Akan terpuncak menjulang tinggi

 

Dari sana akan ada pengajaran bijaksana

Akan ada hakim diantara banyak bangsa

Muncul wasit diantara suku besar dunia

 

Mereka tak belajar perang lagi

Mata pedang ditempa menjadi bajak bergigi

Tombak menjadi pisau belati

 

Mereka akan duduk di bawah pohon anggur berdahan

Dengan perasaan damai tanpa kejutan

Yang pincang akan menjadi pangkal keturunan

Yang terpencar akan dihimpunkan

 

Bangkit dan iriklah tuaiannya

Tanduk mu akan dibuat seperti baja

Kuku mu seperti tembaga

Mampu hancurkan banyak bangsa

Rampasan kau khususkan untuk Raja

Bilamanakah ini terlaksana

Nanti dijaman tri milenial asa

 

Tumpang, 6 Desember 2018

Yosra DiniDec 6, 2018 8:17:37 PM

Sejarah Mungkin Berulang

Karya:  Yosra Dini

 

Dulu kita hidup dijaman penjajah

Yang semua kita harus ikut perintah

Dan  menerima titah

 

Rasa takut terkungkung dalam jeruji

Enggan tuk melawan karena didepan siksa akan menanti

 

Namun kini masa itu telah berlalu

Hidup bukan lagi dalam era penjajahan yang selalu diliputi rasa takut

 

Mulut tidak lagi terkunci dalam diam

Suara tidak lagi harus bungkam

Semua kita berhak untuk berbicara

Semua kita berhak tuk berpendapat

 

Lalu kenapa,  mengapa, apa yg bermasalah

Justru pada saat kita boleh bebas berpendapat,  kenapa justru ditindas

Bukankah di era ini kita bebas bersuara,  lalu kenapa kami harus dibungkam dan diperlakukan tak berdaya..

 

Sijunjung, 9 Desember 2018

Heru SukamtoDec 6, 2018 10:30:01 PM

*Sepenggal Rindu*

Karya: Heru Sukamto

 

 

Rindu ini kulayangkan

Bersama derasnya bayu malam

Walau hanya sepenggal

rindu ini  jadi sepanjang kanal

yang melintas hingga ke ujung dunia

 

Pesona cintamu hampir tak kulupakan

semakin erat kasihmu indah bak gurindam

Butiran rindunya menular pada hati yang mendalam

 

Bahkan tak kuhirau prasangka orang

Yang bilang kugila alang kepayang

 

Barangkali mereka lupa

Cinta ini anugerah dari Yang Kuasa

Bukan aku merekayasa

Tetapi pinjaman Yang  punya sukma

 

Rindu kan selalu menjelma

Bagai rindunya Adam dan Hawa

Yang menaburkan cinta serasi bak gurindam

Menyemai kasih sayang dalan cobaan

 

Ku yakin saat ini rindu itu pasti bertamu di relung hatimu, seperti aku

 

Walau cintaku belum sempurna

Tentu kusadari semua

kita manusia bukannya batu permata

 

Namun kuyakin masih ada karomah cinta  mandraguna yang kan kuraih hakikatnya

Biarlah kini hanya upaya sebesar hama

Jelang esok  kan bahagia

 

Saat ini hanya kuntai doa yang kupanjatkan dengan  segenggam harapan

Semoga rambat rinduku datang padamu tanpa halangan

Demi impian semerbaknya kerinduan.

 

Tebo, 06-12-2018.22:24

Fitria LindaDec 7, 2018 11:39:53 AM

GEGURITAN ASRI

 

Oleh : Fitria Linda K.

 

 

Tetembangan titi wanti segara asmara

Menyebar sesaji suci sang dewa

Memetik pucuk seroja

Yaitu cinta

 

Duh gusti…

Hati membara menahan diri

Tertahan dalam bait-bait sunyi

Mengembara kosong tak berarti

Mengejawantah sukma kokoh sejati

 

Duh gusti…

Senyummu damaikan hati

Terperangkap birahi ikatan suci

Bergelayut rumbai-rumbai selendang dewi

 

Ingin kuusap raga disegara nirwana

Mencuci bersih jelaga asmara

Giwangkara cinta disukma

Senyap yang ada

 

Blitar, 07-12-2018

Joko SusiloDec 8, 2018 11:02:51 AM

Malam terindah

(Romantisme)

 

Oleh: Joko Susilo

 

Malam itu…

Penuh kegembiraan

Ketika mempelai berdua

Duduk di kursi sofa

 

Malam itu…

Penuh berkah

Ketika mempelai berdua

Duduk berdampingan

 

Malam itu…

Malam penuh kenangan

Ketika para tamu

Dah pada pulang

 

Malam itu…

Malam belaian tak terlupakan

Ketika mempelai berdua

Tidur dengan nyenyak

 

Solo, 8 Desember 2018

Heru SukamtoDec 8, 2018 11:37:09 AM

*Perempuan Lereng Semeru*

Karya: Heru Sukamto

 

 

Paras ayu pipi merona

Rambut terurai bak gerimis senja

Mata sipit alis mempesona

Hadir dalam pelukan mesra

Penentran jiwa raga

Penyejuk kala sukma dahaga

Pelipur dalam duka

Pelepas letih jiwa

 

Dikau perempuan itu

Lembah Semeru tanah leluhurmu

Di sana kita bertemu

Labuhkan kasih di bawah perdu

Bentangkan asa tuk bersatu

Duhai perempuanku !

Terimalah  suntinganku

Kusanggup jadi sanggurdimu

 

Dengarlah !

Gemercik indah

Menambah kuat tekadku

Menambatkan sekeping hatiku

Pada kokoh hati kecilmu

 

Lihatlah !

Pucuk-pucuk perdu itu

Indah diterpa sinar mentari

Menambah rona ayu wajahmu

Duhai perempuanku…!

 

 

Tebo, 08-12-2018.11:25

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *